Selasa, 10 Juni 2008

Minoritas Haruskah Tertindas?

Minoritas Haruskah Tertindas?
By: Yuldi Hendri
Tidak bisa dipungkiri dan diabaikan, di suatu komunitas kehidupan, mesti ada kaum minoritas. Ada sekelompok, bahkan beberapa kelompok manusia yang secara kuantitas jumlah mereka sedikit. Mereka minoritas dipengaruhi oleh banyak faktor dan alasan. Tidak terjadi alami begitu saja, sosial dan budaya tertentulah yang menyebabkan mereka minoritas, bahkan tertindas. Kelompok kecil ini selalu termarjinalkan, dianggap aib dan bahkan selalu tersudutkan. Mereka seakan-akan makhluk yang harus diberangus dari permukaan bumi ini, karena kuantitas mereka yang sedikit. Coba bayangkan, seandainya mereka yang mayoritas, akankah terjadi yang sebaliknya? Cibiran dan kata-kata kotor, bahkan pandangan sebelah mata akan membuat kaum minoritas akan lebih terjajah kebebasannya, akan lebih semakin tertekan psikologisnya, dan akan terpuruklah mereka. Dan mungkin saja akan terbayang di benaknya, apakah aku salah terlahir dan hidup seperti ini? Padahal aku juga tidak menginginkannya. Siapakah yang akan menolongku? Beribu pertanyaan akan muncul, namun dapatkah kita menjadi jawaban pertanyaan-pertanyaan itu? Walaupun hanya satu jawaban saja. Seharusnya kita mampu menjadi jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan mereka, bukan malah menambah beban dan menjauhi mereka.
Tatkala saya sedang termenung duduk menunggu antrian potong rambut di bawah pohon tua besar sebelah museum Affandi dan sekitar 1 meter dari jembatan sungai gajah wong, saya melihat banyak realitas kehidupan yang berbicara kepada orang-orang yang jeli melihatnya. Saat itu saya melihat ada dua orang “bencong” yang berjalan ngamen, dia akan berpapasan di depan saya. Karena saat itu rasa takut bercampur khawatir, maka saya pindah tempat dan cerita-cerita dengan barbernya, kemudian setelah mereka lewat saya kembali duduk. Mata ini tertuju kepada pohon besar, yang saat itu dedaunannya sedang gugur. Indah sekali, pohon itu hampir gundul karena gugurnya dedaunan tersebut. Imajinasi saya saat itu terbang ke Amerika dan Eropa, merindukan indahnya summer dan fall. Menatap indahnya pohon tersebut, ternyata dibawah pohon tersebut ada dua wajah memelas sedang menghitung uang receh dan kadang-kadang ada uang kertas ribuan. Dengan pakaian wanita khas jawa, kedua “mas-mas” itu sedang asyik menghitung hasil jerih payah dan dari tangan mereka sendiri. Teringat pesan Nabi, bahwa sebaik-baiknya hasil usaha adalah dari tangan sendiri. Padahal, tangan ini masih saja menampung dan mengharap dari orang tua tercinta.
Setelah “mas-mas” tersebut selesai menghitung hasil usahanya, seberkas sinar senyuman muncul dari wajah mereka yang lugu, memelas, tapi penuh dengan semangat mempertahankan hidup. Sebuah pelajaran yang perlu dipetik. Kemudian, salah seorang “mas” tersebut memperbaiki selendang kuningnya yang kelihatan lusuh. Salah seorang dari mereka mengajak temannya duduk di bangku-bangku di depan mereka. Mereka melihat jalan raya, mereka termenung, mereka beristirahat dari kepenatan fisik dan psikis mereka. Mereka melihat hiruk pikuk dunia yang tidak memanusiakan mereka. Saat itulah saya melihat reaksi setiap orang yang lewat dengan beragam warna reaksi. Mereka dengan sepeda, motor, mobil, becak dan jalan kaki memiliki reaksi yang sanga berbeda. Namun, kebanyakan sikap mereka adalah cibiran dan cemeehan. Wajah mas-mas tersebut semakin kelihatan menyembunyikan kekecewaan dan luka yang dalam. Kemudian, lewatlah becak dengan penumpang dua orang ibu-ibu yang umurnya kira-kira 50 tahunan. “Mbaaaaak???...”. Dengan senyuman tulus dan penuh penghormatan, “mas-mas” itu menjawab.” Ya buk…”. Subhanalah, ternyata diantara ratusan orang yang lewat, ternyata masih ada yang menyapa dengan ramah, bukan cemehan dan cibiran. Betapa saat itu hati saya tersentuh. Subhanallah. (Bukan berarti saya membenarkan dan ingin melegalkannya, tetapi hanya ingin menghargai hak kemanusiaan mereka, membantu dan memberikan solusi bagi mereka dan menyentuh jiwa sensitifitas kemanusiaan saya).
Rambut mas yang lagi dipotong itu ternyata masih separo, kemudian saya masih melihat sekeliling. Melihat realitas yang akan berbicara sendiri kepada kita, maka bagaimanakah kita akan bersikap. Itu tergantung kepada diri kita sendiri. Beberapa menit kemudiian, datanglah seorang bapak-bapak yang umurnya kira-kira 47 tahunan dengan becaknya yang sudah mulai rusak. Dengan senyuman, saya memulai percakapan. Bagaimana kabanya Pak?. Bapaknya dengan sikap dan kesopanan jawanya menjawab dengan lembut, “Alhamdulillah mas”. Kemudian mulailah dialog demi dialog beriringan, sampai bapaknya ”curhat” tentang usaha becaknya, keluarganya dan perjuangannya. Subhanalllah, saat itu saya tidak ada kata-kata yang harus diberikan, jawaban-jawaban hanyalah dari tanda mata berkaca-kaca. Saya tidak bisa berkata apa-apa, hanya terharu dan berfikir apakah yang bisa saya bantu? Apakah yang bisa saya lakukan untuk Bapak ini? Kadang Alhamdulillah ia hanya mendapatkan uang 10.000 rupiah sehari dan itupun kalau untung, dan kadang tidak mendapatkan apa-apa. Padahal ia hanya numpang tinggal di rumah adeknya di Jogja. Bagaimana dengan istrinya? Anak-anaknya yang sekolah? Subhanallah. Terbawa cerita dan derita itu, mas tukang potong rambut memanggil dengan lembut, “Mas? Ayo mas, udah selesai”. Saya terkejut, dan kemudian bilang ke Bapaknya, “Pak? Saya potong dulu ya? Tetap berusaha Pak ya? Yang penting bapak tetap yakin dengan pertolongan Allah dan tetap semangat. Makasih Pak ya?”.
Pernah ketika pulang dari RS Sarjito mengantarkan teman, di atas bis di perempatan ringroad utara, naiklah seorang ibu-ibu yang berkepala empat dengan topi khas pengamennya dan sebuah gitar kecil yang dipegangnya sebelah kanan, di bahunya bertengger sebuah tas kecil lusuh yang kelihatannya adalah tempat uang. Kebetulan ibu tersebut duduk di sebelah kiri saya, dan saat itu saya duduk di belakang. Karena kebiasaan kalau naik “bis kota” Jogja, saya duduk di belakang karena banyak kemudahan dan disana kita bisa melihat kejadian di depan dan kita juga bisa ngobrol dengan orang-orang disebelah kanan atau kiri, atau dengan knek bisnya. (Oya, pengumuman-pengumuman, sekarang di Jogja sudah ada Trans Joga atau Bus Way lho). Sapaan awal saya mulai, “Mau pulang ya Bu?”. Dengan ramah Ibu tersebut menjawab, “Iya mas”. Cerita-cerita disepajang jalan kali urang, demangan dan jalan Solo pun berderet rapi. Bahkan tidak hanya cerita, curhat dan nasehatpun mengalir dari seorang Ibu yang tulus tersebut. Seorang Ibu yang memiliki 4 orang anak, 2 orang yang masih sekolah. Suaminya hanya penarik becak dengan penghasiilan yang kadang hanya dapat 10.000 sehari, apalagi setelah maraknya motor, sehingga becak semakin tidak begitu laris lagi dimasyarakat. Seorang Ibu yang mengamen di perempatan ringroad utara, padahal ia adalah orang Solo. Alhamdulillah jikalau sehari dapat 20.000, kemudian beliau pulang. Setelah sampai di rumah ia mencuci pakaian keluarga, masak, membersihkan rumah, membersihkan perabot dan melayani suami. Bayangkanlah, pekerjaan sang Ibu yang berhati mulia ini. Ia adalah seorang ibu yang memili double fungsion. Subhanallah, bahkan terlontar dari lisannya yang tulus. “Mas, saya sebenarnya melakukan ini, karena saya hanya ingin membantu suami. Saya tidak tega melihat beban keluarga yang ditanggung suami, dan yang bisa saya lakukan hanya ini mas. Mas? Saya kalau berangkat pagi dan pulang sore, setelah saya pulang saya memiliki pekerjaan lagi mas. Sedangkan suami saya setelah pulang, pekerjaan selesai. Ia hanya tidur dan nonton TV. Namun, saya hanya melakukannya karena saya cinta, saya menyayangi keluarga saya. Saya tidak tega melihat beban keluarga yang ditanggung suami”. Subhanallah. Ibu tersebut kebetulan pulang cepat saat itu, karena katanya tadi saat ia ngamen di rumah makan, ada Ibu-ibu yang sukan nyanyi keroncong jawa, dan Ia bernyanyi sekitar lima nyanyian. Dan Ibu-ibu tersebut memberi uang 10.000 rupiah, karena itulah Ibu tersebut langsung pulang, karena biasanya ia pulang sore setelah ashar. Kemudian nasehat demi nasehat kemudian mulai hadir dari lisan Ibu tersebut. “Nak, disini belajar ya? Jangan mengecewakan orang tua, karena orang tua ingin anaknya pasti sukses. Dan masalah jodoh, anak ga usah pikirin sekarang, karena jodoh pasti sudah diatur Tuhan. Jangan sampai nak di sini sibuk dengan hal-hal yang ga bermamfaat. Ibu tersebut juga cerita tentang pengalaman yang ia lihat yaitu aksi para pencopet di bis-bis. Kemudian dia bilang, kalau cari calon Istri ga usah yang suka neko-neko, yang muluk-muluk. Yang penting hatinya baek, saling memahami dan solehah. Subhanalah, dengan spontan keluar kata-kata dari lisan saya, “Seperti ibu ya?, saya pengen orang yang seperti Ibu. Orangnya baik, pekerja keras, solehah, memahami suami dan saling membantu”. Kemudian ibu itu dengan senyuman manis berbicara,” Ibu walaupun ga cantik-cantik gini, tapi Alhamdulillah hati Ibu baik, perhatian dengan suami”. Kemudian saya mendehem, “ Hmmm..hmmmm”. Ternyata tujuan sudah kelihata dan saya bilang ke Ibu tersebut. “ Bu?, saya disini dulu bu ya? Hati-hati bu ya?”. Ya nak, hati-hati juga, sahut Ibu tersebut dengan senyuman manisnya. Setelah saya turun, saya tidak melihat teman saya, ternyata ia masih di atas bis. Ia tertinggal, Subhanallah. Ternyata setelah seratus meter bis tersebut kemudia berhenti lagi, dan kelihatanlah wajah teman tersebut. Hmmmmmm……Keep on Smile.
Ketika perjalanan dari Yogyakarta ke Solo saya biasanya melihat banyak sekali pengamen yang naik bis, bahkan hampir sepuluh kali setiap kali perjalanan, dan kalau pulang balik berarti dua puluh kali. Empat hari yang lalu saya baru pergi lagi ke Solo menjemput Batik pesanan Pak Etek (om-red, panggilan untuk paman di Padang). Dalam perjalanan ini banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik, karena setiap ke Solo pengalaman ini selalu saya rasakan. Banyak sekali macam dan ragam pengamen yang kita lihat. Mulai dari anak-anak kecil dengan wajah lugunya menyanyi dengan gerincingan, kadang kita tidak suka mendengarkan lagunya, karena nada dan nyanyiannya tidak serasi, suaranya juga tidak membuat orang-orang ingin mengeluarkan uang, tetpi karena kasihan, iba dan prihatin, itulah yang mendasari para penumpang mengeluarkan uang. Ada lagi yang lebih menyedihkan, ada anak seumur belasan tahun ngamen dengan gerincingannya, ia bisu, ia tidak bisa menyanyi, tapi ia berusaha untuk mengeluarkan suaea emasnya, ia benar-benar berusaha sehingga ada sedikit terdengar suara dari lisanny, duuu….haaa…hhaaa, dan lainnya. Para penumpang banyak yang kasihan, Subhanallah betapa perjuangannya. Ya Allah terima kasih atas nikmat-Mu, kesehatan, kesempurnaan yang telah Engkau berikan. Sempat air mata saya berkaca-kaca ketika melihat seorang Ibu-ibu menyanyi dengan gitar kecilnya. Suaranya sangat merdu, tapi suaranya lembut dan tidak terlalu terdengar keras. Saya langsung teringat Ibu di rumah, saya teringat anak-anak Ibu tersebut, saya teringat keluarga Ibu tersebut, saya teringat orang lain yang mungkin lebih parah keadaannya, lebih butuh perhatian masyarakat dan umat. Subhanllah, air mata saya menetes ketika Ibu tersebut menyanyi dengan bahasa jawa (walaupun saya tidak mengerti apa yang diucapkannya-red), tapi matanya berkaca-kaca, lantunan uaranya dalam nyanyian sangat melankolis dan merdu, saya tidak tahan menahan air mata. Ya Allah, sehatkanlah saudara-saudaraku yang sedang sakit siapapun mereka, penuhilah kebutuhan orang-orang yang membutuhkannya, lapangkanlah urusan-urusan kaum muslimin, maafkan dan ampunilah kesalahan-kesalahan kaum muslimin yang hidup maupun yang telah meninggal, sayangilah mereka Ya Allah, lunasilah hutang saudara-saudaraku semuslim, Ya Allah perbaikilah keadaan bangsa ini dan para pemimpin-pemimpinnya. Amin Ya Rahman Ya ‘Aziz.
Pengalaman mendengarkan nyanyian pengamen merupakan sesuatu yang sudah terbiasa bagi saya. Sehingga saya bisa menilai bahwa betapa masih kurangnya perhatian “kita” terhadap sesama. (Terlepas dari adanya pemuda-pemuda yang ngamen yang tujuannya untuk membeli minuman dan berpesta pora). Namun kemiskinan merupakan musuh kita saat ini. Kalau tidak berlebihan, dan inipun boleh disanggah dan dikritik bahwa musuh kita saat ini adalah kemiskinan dan kebodohan. Perjuangan mengurangi dan menghilangkan kemiskinan dan kebodohan merupakan jihad. Semoga Allah memudahkan urusan-urusan dan perjuangan kita bersama. Walaupun objek perjuangan kita itu berbeda, asalkan masih merada dalam rel kebaikan dan perbaikan, maka kita harus saling mendoakan, membantu dan menguatkan. Teringat ketika pelang dari Pare Jawa Timur, ketika itu saya mendengarkan nyanyian mas-mas yang sangat indah, kelihatan sekali ketulusannya dalam menyanyi. Saat itu air mata saya tidak tertahankan untuk ditumpahkan, karena kata-kata mas dalam nyanyinya, bahwa manusia tidak akan mencium bau wanginya surga kalau tidak ada ketulusan dan keikhlasan di hatinya. Pikiran saya melayang, seandainya mas tersebut memahami dan melaksanakan pesan nyanyian tersebut, betapa mulianya ia. Sungguh telur itu akan tetap telur yang enak, bergizi dan menyehatkan, walaupun ia keluar dari pantatnya ayam. Maka ambillah nilai dan pelajaran dari siapapun, ya dari siapapun. Kebenaran tidak di lihat dari tokoh atau kedudukan seseorang, tapi seseorang itu dilihat dari kebenaran yang ia sampaikan. Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mendengarkan perkataan-perkataan, dan orang-orang yang mengikuti kebaikan dan kebenaran dari perkataan tersebut. Amin