PON. PES. MWI (PPMWI) KEBARONGAN SELALU
MENGHINDARI EKSTRIMITAS DAN LIBERALITAS
(TANGGAPAN UNTUK TULISAN SDR. AHMAD BUNYAN WAHIB YANG BERJUDUL: GERAKAN DAKWAH SALAFI PASCA LASKAR JIHAD)
Pondok Pesantren & Marasah Wathoniyah Islamiyah (PPMWI) terletak di desa Kebarongan, kecamatan Kemranjen, kabupaten Banyumas, Jawa-Tengah, saat ini telah berusia 130 tahun. Didirikan tahun 1878 M. oleh K.H. Muhammad Habib, seorang alim pernah belajar di Timur-Tengah selama 20 tahun lebih. Pondok pesantren ini mencita-citakan terwujudnya masyarakat yang bertaqwa, adil, makmur dan warga negara Indonesia yang baik, diridai Allah SWT, serta melaksanakan tugas dan kewajiban manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi sesuai dengan kapasitas masing-masing. PPMWI berusaha bagi terwujudnya para santri ulul albaab yang mengamalkan ajaran Islam didasari wawasan luas-proporsional (mengembangkan prinsip tidak ekstrim dan tidak liberal). Hal tersebut terbukti antara lain dengan adanya ikrar bagi seluruh lulusan PPMWI dalam tiap akhir tahun ajaran pada acara wisuda santri bahwasanya mereka tidak akan melibatkan diri dalam masalah khilafiyah yang menimbulkan perpecahan umat. Ikrar demikian sudah dilaksanakan semenjak berpuluh tahun yang lalu. Ciri lain PPMWI yang tetap bertahan sampai sekarang adalah bersikap “terbuka”, dan tidak berafiliasi kepada ormas-orpol tertentu. Berkali-kali mendapat kunjungan menteri dan pejabat-pejabat tinggi negara dan sangat sering menerima bantuan pemerintah sampai sekarang. Ratusan alumninya ikut aktif dalam pemerintahan sebagai pegawai negeri yang tidak bercacat, baik sipil maupun militer. Bahkan di antara mereka cukup banyak yang sempat menduduki jabatan tinggi. Sebagai lembaga pendidikan, PPMWI mengedepankan keilmuan dan keislaman dengan mengembangkan wawasan yang luas-proporsional (menghindari sikap ekstrim dan sikap liberal) seperti telah dijelaskan di muka.
Aneh bin ajaib, beberapa minggu yang lalu seorang bernama AHMAD BUNYAN WAHIB menulis di internet, penelitiannya dengan judul sebagai tersebut di atas, menghasilkan kesimpulan yang memberikan kesan seolah-olah PPMWI Kebarongan, secara eksplisit atau implisit masuk dalam kategori pondok pesantren radikal atau bahkan ekstrim dengan statemennya antara lain sebagai beriku: (Islam Radikal di Pesantren Kebarongan”(sub judul), kemudian muncul kalimat “Sebagai sebuah agen dakwah Islam puritan, Pesantren Kebarongan memiliki potensi bagi berkembangnya ideologi militant……………”, dan lain sebagainya.
Menurut informasi dari pihak pimpinan pondok pesantren tersebut, ternyata Ahmad Bunyan tidak pernah “menunjukkan surat resmi” untuk melakukan penelitian di Pondok Pesantren & Madrasah Wathoniyah Islamiyah (PPMWI) Kebarongan kepada pihak pondok pesantren. Konon penelitian itu dilakukan dalam rangka penyelesaian studi S.3-nya di salah satu universitas di Malaysia. Bunyan mengenal salah seorang pengasuh pondok pesantren tersebut yang seperti dia, sama-sama menjadi tenaga pengajar di UIN Sunan Kaliaga Yogyakarta. Tanpa curiga dan banyak tanya karena tahu sikap PPMWI yang selama ini selalu “terbuka”bagi berbagai penelitian yang jujur dari mana pun datangnya (PPMWI sudah sering diteliti), pengasuh pondok pesantren teman Bunyan itu dengan lapang hati membantunya, bahkan mencarikan pemondokan. Anehnya, Bunyan tidak pernah mewawancarai rekannya tersebut yang notabene termasuk orang terpenting di pondok pesantren itu. Para Pembina dan pucuk pimpinan PPMWI yang paling berhak dan proporsional untuk memberikan keterangan juga tidak ada yang merasa pernah diwawancarai Bunyan dan memberikan informasi tentang lembaga yang mereka kelola. Lalu darimana “peneliti" ini memperoleh data dan informasi yang menimbulkan citra begitu “dramatis” dan kontras dengan kenyataan sehari-hari? Ternyata sebagian data yang ditulis dalam penelitiannya, dia dapatkan dari beberapa orang yang pernah menjadi guru junior PPMWI, tapi telah keluar (sudah sepuluh tahun lebih tidak lagi menjadi guru di lembaga pendidikan tersebut), mereka memisahkan diri justeru karena memiliki visi dan misi serta interpretasi keagamaan berbeda dari pendirian PPMWI yang jelas-jelas selalu menghindari sikap ekstrim dan sikap liberal dalam keagamaan dan keilmuan. Tetapi pada kenyataannya merekalah yang “dipilih” menjadi sumber data utama oleh Bunyan dalam penelitiannya tanpa ditindak lanjuti dengan check and recheck. Jadi, hakikatnya sebagian besar dari mereka tidak proporsional dan tidak mewakili untuk memberikan keterangan tentang PPMWI, justeru orang-orang yang nampak “kecewa” untuk tidak mengatakan “dendam” terhadap PPMWI, karena enggan menerima pandangan dan sikap mereka. Mengapa orang-orang begitu yang dipilih untuk sumber data tanpa check and recheck kepada sumber data yang betul-betul kompeten, itulah yang penting untuk dilacak sebab-musababnya. Walhasil, kalau sumber datanya tidak representatif dan “tidak proporsional”, apa mau dikata dengan kredebilitas penelitian saudara BUNYAN tersebut? Apakah tidak mungkin terdapat tendensi dari awal sebelumnya? Ditambah dengan model analisis “pukul rata” mentah dan tidak cermat melihat latar belakang yang tidak sederhana, maka muncul sintesis yang dibuat secara gegabah, dipaksakan alias didramatisir dan berbau fitnah. Sebut saja beberapa contoh: misalnya Bunyan langsung atau tidak langsung membuat semacam klaim PPMWI Kebarongan termasuk kategori pondok pesantren “keras” karena menggunakan kitab Fathul Majid / Wahabi; kemudian ada satu-dua orang alumninya yang “eksklusif” dan mendirikan lembaga pendidikan lain (Ibn Taimiyah) di Kebokura, Sumpiuh; dan mengungkit-ungkit semacam “pemberontakan yang bernuansa Islam pada masa pendudukan Jepang di desa Kebarongan”. (lebih kurang enam puluh tahun lalu), tanpa check and recheck dan tanpa mengusahakan klarifikasi dengan mewawancarai serta menanyakan kepada pimpinan PPMWI yang berhak dan lebih tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Kalaupun ada informasi yang mengacu pada sebuah naskah “yang diketik secara manual/tidak dicetak” ditulis oleh generasi muda yang belum begitu mendalami sejarah PPMWI (masih memerlukan koreksi), mestinya Bunyan melakukan check and recheck dulu. Oleh Bunyan penulis itu (S.A.) dinyatakan sebagai seorang “tokoh” PPMWI, padahal dia hanya seorang pelaksana dalam salah satu unit kerja di antara banyak unit kerja di lingkungan PPMWI. Jadi bukan “tokoh” seperti dikesankan oleh saudara Bunyan (salah satu bentuk dramatisasi Bunyan yang dalam penelitiannya tidak mewawancari seorang pun dari para pimpinan puncak lembaga pendidikan yang diteliti?) . Pembaca nanti tentu bisa menilainya. Sebab para pimpinan tertinggi PPMWI Kebarongan memberikan klarifikasi tentang kasus-kasus itu sbb: 1. PPMWI mengajarkan kitab Fathul majid bukan sebagai doktrin, tetapi mengkajinya secara kritis sebagaimana terhadap kitab-kitab lain. Jadi PPMWI tidak bermadzhab Wahabi. Kitab ini dipilih untuk dipelajari karena isinya menjelaskan bagaimana Rasulullah dan para sahabat bertauhid, bukan sekedar tauhid teoretik. Tidak gampang mencari buku daras seperti itu. Jelas, PPMWI tidak fanatik terhadap kitab, baik kitab Fathul Majid maupun kitab lain; 2. Adanya satu dua orang alumni yang mendirikan lembaga pendidikan Ibn Taimiyah yang dikenal cukup eksklusif di Sumpiuh, justeru mereka itulah yang dimaksud mantan guru junior PPMWI yang “tidak cocok” dengan visi-misi PPMWI dan secara sadar telah keluar dari PPMWI karena memang tidak sejalan. Jadi “ideology” mereka sama sekali bukan “kelanjutan” atau mencerminkan ideology PPMWI Kebarongan. Visi-misi PPMWI berbeda dengan Visi-misi lembaga pendidikan Ibn Taimiyyah, Kebokura, Sumpiuh. Justeru yang mengundang tanda tanya sampai sekarang: mengapa mantan-mantan guru PPMWI yang telah keluar karena “perbedaan” itu yang dipilih oleh Bunyan menjadi sumber data. Tentang A.F.A. dia memang keturunan pendiri PPMWI, tetapi pada kenyataannya, semenjak dewasa (pulang dari Arab) sampai kini lokasi aktivitasnya bukan di Kebarongan, melainkan pernah aktif di wilayah Kebumen tidak begitu lama, dan sudah belasan tahun memimpin pondok pesantrennya sendiri yang cukup besar di wilayah Surakarta sampai sekarang. Dalam pada itu, sudah bertahun-tahun A.F.A. mengembangkan sikap toleransi dan menghargai perbedaan pendapat dalam berbagai masalah keagamaan. Hal itu dapat dibuktikan pada tiap-tiap rubrik tanya jawab keagamaan dalam majalah bulanan As-Sunnah yang dipimpinnya, jawabannya hampir selalu memberikan jawaban alternatif lebih dari satu, dengan alasan masing-masing. Jadi mendidik pembaca untuk bersikap toleransi. Konon oplag majalah as-Sunnah sudah mencapai 24.000 eksemplar tiap kali terbit, artinya tidak sulit mencari majalah-majalah itu di toko-toko kitab guna membuktikan yang demikian itu. Konon Pondok pesantren A.F.A. tidak jarang memperoleh bantuan dari peme-rintah; dan 3. Tentang “pemberontakan yang bernuansa Islam pada masa pendudukan Jepang di desa Kebarongan” yang disebut-sebut Bunyan bersumber dari naskah S.A., dkk. tersebut hakikatnya gerakan itu ditujukan kepada penjajah asing. Jadi sama sekali bukan gerakan perlawanan terhadap pemerintah R.I. Lagi pula kejadian itu sudah terjadi lebih kurang 60 tahun yang lalu di mana negara belum merdeka, dalam suasana masih labil dan sama sekali belum mantap seperti hari ini. Dalam pada itu sikap PPMWI setelah zaman kemerdekaan sampai kini jelas dan pasti: berusaha menjadi Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baik. Dengan demikian tidak berlebihan kiranya kalau dinyatakan: Sdr. Ahmad Bunyan dalam penelitiannya disengaja atau tidak telah melakukan kekeliruan dan tergesa-gesa mengambil kesimpulan; juga dalam memilih sumber data (baca: sumber data tidak kredibel). Proses analisis pene-litiannya terhadap PPMWI Kebarongan, yang terletak di desa Kebarongan, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, Jawa-Tengah, banyak yang dipaksakan, seperti didramatisir, hingga cukup banyak kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar tidak sesuai dengan kenyataan. Keseriusan Bunyan dalam penelitian juga layak dipertanyakan. Meski masa penelitian resminya tujuh bulan (katanya dalam internet), tetapi pada kenyataannya dia jelas sering pergi meninggalkan lokasi penelitian, kadang-kadang sampai belasan hari. Sangat banyak sumber data yang tidak dia manfaatkan, padahal mestinya Bunyan punya banyak kesempatan. Akhirnya diketahui bahwa Ahmad Bunyan Wahib ketika melakukan penelitian di desa Kebarongan persis bersamaan waktu dengan masa-masa persiapan perkawinannya. Ternyata konsentrasinya sedang terbagi.
Namun karena tempat pengujian/ pembuktian penelitian itu jauh (di salah satu universitas) di Malaysia, mungkin peneliti ini berpikir: meski terdapat data atau interpretasi yang “mengada-ada”, spekulatif-imaginatif bahkan kadang-kadang dibumbui dugaan-dugaan yang ngawur dalam disertasinya, toh tidak akan pernah dilacak oleh para pengujinya. Wajar kiranya kalau pimpinan PPMWI lalu bertanya-tanya: Apa gerangan tujuan hakiki saudara Bunyan dengan penelitian yang “tidak fair” itu? Mengapa menghindari “proporsionalitas dan kewajaran” yaitu tidak melakukan wawancara atau check and recheck dengan para pimpinan PPMWI yang lebih tahu dan berhak untuk memberikan keterangan? Padahal mereka sangat mudah dihubungi. Mengapa yang dipilih menjadi interviewee/ sumber data kebanyakan justeru orang-orang “di luar garis” atau tidak tahu persoalan secara mendalam? Ada kesan seperti “curi-curi” dalam mengejar data. Apakah Bunyan tidak sadar, bahwasanya kesimpulan yang dihasilkan dari sumber data dan informasi tidak kredibel itu dapat merusak “citra” pondok pesantren bersangkutan? Atau dia justeru sengaja melakukan itu? Meski demikian, pimpinan lembaga pendidikan ini justeru akan berusaha mengambil hikmah dari “fitnah” tersebut. PPMWI yang justeru sudah berpuluh-puluh tahun berusaha menghindari ekstrimitas dan liberalitas, hingga pada tahun 90-an pernah melakukan skorsing dan mengeluarkan beberapa santri yang terindikasi/cenderung bersikap ekstrim. Meski “sangat kecewa” terhadap tindakan Bunyan yang kurang bersahabat itu, tetapi PPMWI tidak merasa terancam oleh klaim-klaim yang bermotif menjatuhkan, namun jauh dari kenyataan. Apalagi pimpinan PPMWI yang berdasarkan Undang Undang Yayasan yang berlaku sekarang terdiri dari: Pembina, Pengurus dan Pengawas. Pembina yang kedudukannya (hampir) setara dengan pendiri PPMWI kini terdiri dari enam orang, seluruhnya pegawai negeri senior dan mantan pegawai negeri yang secara hukum tidak pernah bercacat( di dalamnya terdapat doctor, guru besar dan sarjana hukum); Ketua pengurusnya juga pegawai negeri aktif tidak bercacat; dan dua dari tiga pengawas PPMWI adalah pejabat departemen pemerintah, bahkan salah satu di antara mereka termasuk pejabat tinggi. Kesimpulannya: Realita PPMWI sangat jauh dari yang dicitrakan oleh saudara Bunyan. Jawaban yang kami tunggu adalah sebagai muslim yang sportif, bersediakah Saudara Bunyan minta maaf?
Selanjutnya, mari kita kembali saja mengikuti informasi yang benar, bisa dipertanggungjawabkan dan dikeluarkan oleh pihak yang berhak, yaitu Unit Humas, Da’wah dan Penerbitan PPMWI:
Dalam tahun 1916 PPMWI Kebarongan mengembangkan sistem pendidik-an terpadu, yaitu pondok pesantren dan madrasah. Sistem tersebut dipertahankan dan lestari sampai hari ini. Alumni PPMWI kini sudah mencapai jumlah ribuan tersebar di berbagai penjuru tanah air dan luar negeri. Tidak sedikit di antara mereka yang menjadi kyai, ulama, tokoh masyarakat, dan pejabat pemerintah baik sipil maupun militer, anggota DPR, dsb. Ratusan dari mereka telah menyandang gelar kesarjanaan S1, S2 dan S3 dalam berbagai disiplin ilmu. Di antara alumni ada yang menjadi guru besar UI, UIN, Universitas Kebangsaan Malaysia, banyak yang menjadi dosen di berbagai perguruan tinggin negeri dan swasta. Dalam tahun 1978 terbentuk organisasi alumni yang bersifat kekeluargaan, yaitu Ikatan Keluarga Pondok Pesantren & Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IKAPMAWI).
Lembaga pendidikan ini menyertakan para santri/siswa-siswinya mengikuti ujian persamaan negeri (tidak dipaksa) baik tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah maupun ‘Aliyahnya, tanpa mengorbankan karakteristik kepesantrenannya. Semenjak tahun 1958 didirikan yayasan Pondok Mesjid dan Madrasah Wathoniyah Islamiyah (POMES-MAWI) yang membina serta mendukung pondok pesantren ini. Lulusan lembaga pendidikan ini banyak yang melanjutkan studi. Tidak sedikit dari mereka melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri dan swasta, seperti UGM, UI, IPB, UNDIP, UNS, UNSOED, UIN, UII, STIE, UMS, UMP, AKPER, AKBID, dan lain-lain. Di antara mereka ada yang mendapat beasiswa dari IPB dan UGM. Beberapa tahun yang lalu, secara berturut-turut 7 santri lulusan PPMWI memperoleh kesempatan belajar di Universitas Al-Azhar Mesir dengan beasiswa dari perguruan tinggi tersebut. Beberapa orang di antara mereka kini telah selesai dan menjadi tenaga pengajar di pondok pesantren ini. Ciri lain PPMWI yang tetap bertahan sampai sekarang adalah bersikap “terbuka”, dan tidak berafiliasi kepada ormas-orpol tertentu. Sebagai lembaga pendidikan PPMWI mengedepan-kan keilmuan dan keislaman dengan mengembagkan wawasan yang luas-proporsional (menghindari ekstrimitas dan liberalitas). Jumlah santri putera dan puteri PPMWI tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah dewasa ini tercatat 1300 orang lebih sedikit. Adapun Visi, Misi dan Tujuan PPMWI adalah sebagai berikut:
VISI: TERWUJUDNYA GENERASI PENEGAK AQIDAH, SYARI'AH DAN AKHLAK ISLAMIYAH YANG BENAR SESUAI DENGAN AJARAN AL-QURAN DAN AS-SUNNAH, PECINTA ILMU DAN ULUL-ALBAB (ULAMA-INTELEK).
MISI: MENYELENGGARAKAN PENDIDIKAN ISLAMI DENGAN SEBAIK-BAIKNYA MELALUI PONDOK, MASJID, DAN MADRA-SAH TINGKAT IBTIDAIYAH, TSANAWIYAH, ALIYAH, DAN PENDIDIKAN LANJUT/ALTERNATIF YANG ADA DI BA-WAH NAUNGAN PPMWI/YAYASAN POMESMAWI, SEBAGAI SATU KESATUAN SISTEM.
TUJUAN:
1. TERBENTUK DAN TERSLENGGARANYA BADAN / UNIT-UNIT USAHA PPMWI / YAYASAN POMESMAWI SESUAI DENGAN KEBUTUHAN SERTA MEMBERDAYAKANNYA SECARA OPTIMAL BAGI KEPENTINGAN PPMWI / YAYA-SAN POMESMAWI.
2. TERWUJUDNYA KERJASAMA YANG BAIK DENGAN BERBAGAI PIHAK YANG MEMBAWA MANFAAT BAGI KEPENTINGAN PPMWI / YAYASAN POMESMAWI DAN LINGKUNGANNYA.
JENJANG PENDIDIKAN
Jenjang pendidikan formal di lingkungan PPMWI Kebarongan meliputi:
1. Tingkat Ibtidaiyah (terakreditasi B);
2. Tingkat Tsanawiyah (terakreditasi B); dan
3. Tingkat ‘Aliyah (terakreditasi A) ada dua macam, yaitu ‘Aliyah lama, lanjutan dari MTs.WI dan “Aliyah Baru/Aliyah Khusus”, lanjutan dari SLTP/ MTs.Negeri atau swasta lain; juga menerima pindahan dari SMU, MAN atau yang sederajat. Pada tingkat Aliyah terdapat dua jurusan: IPA dan IPS.
KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR di PPMWI secara formal :
1. Tingkat Ibtidaiyah (M.I.) mulai pukul 07.00 s.d. 13.00, kecuali kelas l dan ll mulai pukul 7 s.d. 10.00 WIB;
2. Tingkat Tsanawiyah (MTs) mulai pukul 07.00 s.d. pukul 13.10 WIB;
3. Tingkat Aliah (M.A) mulai pukul 07.00 s.d. pukul 13.50 WIB.
Jam-jam tersebut termasuk jam istirahat dan shalat shuhur berja-ma’ah. Jum’at dijadikan hari libur mingguan. Adapun kegiatan pondok pesantren sebagian besar diselenggarakan di pondok/asrama, namun ada pula dilaksanakan di luar pondok seperti di masjid dan lokasi-lokasi tertentu di lingkungan pondok pesantren. Kegiatan non-formal itu meliputi pengajian, latihan pidato dan berdakwah, diklat ketrampilan, latihan bela diri, olah raga dan seni, dan lain-lain.
ORGANISASI SANTRI/SISWA
Di lingkungan santri/siswa Madrasah Wathoniyah Islamiyah (MWI) Kebarongan terdapat organisasi pelajar serupa OSIS, diberi nama Ikatan Pelajar Madrasah Wathoniyah Islamiyah (IPMAWI). Melalui wadah ini dikembangkan latihan kepemimpinan, berorganisasi, kemandirian, bermasyarakat, olah raga, kesenian dan lain-lain. Secara intensif digiatkan pula aktivitas kepramukaan, PKS dan PMR. Kegiatan siswa-siswi itu dikoordinir oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan.
TENAGA PENGAJAR (USTADZ-USTADZAH)
Tenaga pengajar PPMWI saat ini (tahun 2008) berjumlah 96 orang, terdiri dari: kyai, alumni senior PPMWI, sarjana S1, S2 dan S3, dan sejumlah lulusan perguruan tinggi Timur-Tengah.
FASILITAS: 1. Masjid jami’, 2. Lima unit pondok/asrama (tiga unit untuk puteri dan dua unit untuk putera), 3. Lokal belajar formal 39 ruang (beberapa ruang dilengkapi dengan TV untuk belajar), 4. Laboratorium fisika, biologi, bahasa dan koputer (seluruhnya lima unit) 5. Tiga unit perpustakaan, 6. Gedung diklat ketrampilan 7. Wartel dan Warung Koperasi, 8. kantin, 9. Tiga ruang guru dan tiga ruang kantor tata usaha MA, MTs., dan MI, 10. Gedung Pertemuan/Serbaguna, 11. Ruang UKS, 12. Ruang BP/BK dua unit, 13. Kantor IPMAWI/OSIS, 14. Kantor alumni, 15. Fasilitas olah raga: lapangan badminton, volley ball, basket, tennis meja, lapangan bela diri, dsb., 16. Tiga unit drum band (MI, KTs., dan MA), 17. Kantor yayasan, dan 18. Dapur dan gudang tiga ruang,
Demikian informasi tentang PPMWI selayang pandang.
Kebarongan, 20 Nopember 2008.
Unit Humas Pondok
Pesantren & Madrsah Wathoniyah
Islamiyah (PPMWI) Kebarongan
Ketua,
Soim Mukholis SS.
Jumat, 12 Desember 2008
Minggu, 07 Desember 2008
Subhanallah
Subhanallah....
Indahnya hari ini
Hujan menyapa dengan lembut dan penuh aroma keramah tamahan
Angin mengalir begitu teratur dan berbisik-bisik kasih
Burung bernyanyi dengan kebahagiaan
Air mengalir begitu tenang dan penuh ketulusan
Subhanallah.
Gunung dengan teguhnya menahan dan mengokohkan bumi
Pohon-pohon begitu setianya menjaga air dan mengokohkan tanah tanpa ada paksaan
Binatang-binatang tertawa riang dalam hutan penuh dengan kebebasan dan ketenangan
Subhanallah....
Sungai mengalirkan airnya dengan kejernihan
Ikan-ikan di dalamnya menikmati keputihan hati air sungai
Rumbut-rumput bergoyang-goyang dengan sorakan gembira
Subhanallah
Udara begitu tulusnya menyediakan oksigen buat kita
Air begitu ramahnya menyapa kita
Tumbuhan dan hewan-hewan tidak pernah marah dan membentak jika kita ingin menikmati mereka.....
Tapi..pernahkah kita berusaha untuk menjaga dan melindungi mereka???
Pernahkah kita berfikir untuk tidak selalu mengeksploitasi mereka???
Pernahkah kita terbayang kerusakan alam yang terjadi hanya karena ulah tangan manusia yang kurang bijak terhadap alam dan lingkungan?
Sekarang apa yang terjadi, telah terjadi...
Tangan manusia begitu kejam, sehingga menciptakan kerusakan yang tidak pernah terpikirkan....
Semua kerusakan yang terjadi di dunia ini hanyalah ulah tangan manusia....
Renungkanlah....
Yuldi Hendri
Indahnya hari ini
Hujan menyapa dengan lembut dan penuh aroma keramah tamahan
Angin mengalir begitu teratur dan berbisik-bisik kasih
Burung bernyanyi dengan kebahagiaan
Air mengalir begitu tenang dan penuh ketulusan
Subhanallah.
Gunung dengan teguhnya menahan dan mengokohkan bumi
Pohon-pohon begitu setianya menjaga air dan mengokohkan tanah tanpa ada paksaan
Binatang-binatang tertawa riang dalam hutan penuh dengan kebebasan dan ketenangan
Subhanallah....
Sungai mengalirkan airnya dengan kejernihan
Ikan-ikan di dalamnya menikmati keputihan hati air sungai
Rumbut-rumput bergoyang-goyang dengan sorakan gembira
Subhanallah
Udara begitu tulusnya menyediakan oksigen buat kita
Air begitu ramahnya menyapa kita
Tumbuhan dan hewan-hewan tidak pernah marah dan membentak jika kita ingin menikmati mereka.....
Tapi..pernahkah kita berusaha untuk menjaga dan melindungi mereka???
Pernahkah kita berfikir untuk tidak selalu mengeksploitasi mereka???
Pernahkah kita terbayang kerusakan alam yang terjadi hanya karena ulah tangan manusia yang kurang bijak terhadap alam dan lingkungan?
Sekarang apa yang terjadi, telah terjadi...
Tangan manusia begitu kejam, sehingga menciptakan kerusakan yang tidak pernah terpikirkan....
Semua kerusakan yang terjadi di dunia ini hanyalah ulah tangan manusia....
Renungkanlah....
Yuldi Hendri
Sabtu, 01 November 2008
dID yOU kNOW?
Did you think about? I am standing here as confused boy. Obstacle is so danger and make me dizzy. Look at around me and I don't know what I wanna say and do. I am ashumed to my ownself. Let me think...Everybody always talking at me, everybody try to get in my head. But, I wanna hear what my heart is talking, I must survive to my dream. I am not sure about. Fundametalism thought around me and I am with them, secularism thoungt always call me down, the modern thought offer me to be my inside, and so on. I don't know, I wanna take it one, but its impossible. I wanna catch all, but I dont wanna be two-faced man. Sometimes, I realize that I have to mix and compare all of them. Dont I? But, its so hard to me. I need help from others. I beliefe I can do it, but struggle is so needed. I do't have to play, to enjoy. Heee..heee dID YOU KNOW? tHE wINNER IS Laught in the end? Did you thouhgt that?
I am....Thanks for all. I will came back
And see u, because i gotta do something
I am....Thanks for all. I will came back
And see u, because i gotta do something
Jumat, 31 Oktober 2008
Let me alone
I try to do the best for me by keeping spirit, doing the best, preparing everything I need it..Etc...
Did you know? Right away, there are many schedules what I must do its
I don't know, What can I be successful someday....But, I belief that I can grab my dream, I can make dreams come true.....
Didn't you?
Guys? Youa are a pilot of your aeroplane, and a driver of your executive car, You can do what do wanna do and can be what do you wanna be....
Sorry, I gotta go..
See u
Did you know? Right away, there are many schedules what I must do its
I don't know, What can I be successful someday....But, I belief that I can grab my dream, I can make dreams come true.....
Didn't you?
Guys? Youa are a pilot of your aeroplane, and a driver of your executive car, You can do what do wanna do and can be what do you wanna be....
Sorry, I gotta go..
See u
Eh...Incredible
I'm really not sure what I passed this time. I'm so busy with many activities. Start from the course at two universities. Then the school should be extra, and take language courses, participate in religious instruction. Huuuh tired ... .. not okay again now thanks again, preparing the English language and making a scientific paper. a lot of tasks and activities that make me tired but quite challenging ..
Praying me
Praying me
Kamis, 23 Oktober 2008
Jogja Panas..
Kok Jogja panas sekali yach?
Tidak sefresh dan SEsejuk dulu lagi....
Kayaknya global warming nih kali yach...
Coba bayangin 10, 20 taon yang akan datang?
Gimana ya generasi masa depan..?
Mereka harus pakai pakaian besi untuk melindungi kulit mereka dari panas matahari yang meyengat? Seperti dalam film The Last Mimzy? (Bukan Promosi Film)
Apa yang harus kita lakukan untuk generasi yang akan datang?
Apakah kita hanya meninggalkan tugas?
Atau kita yang akan melakukan tugas ini dan generasi yang akan datang hanya menyempurnakan atau kalau bisa hanya menikmati dan menjaga saja?
Did you ever think about your next generation?
Okay....Thats all
SEE YOU IN THE PERFECT CONDITION
Tidak sefresh dan SEsejuk dulu lagi....
Kayaknya global warming nih kali yach...
Coba bayangin 10, 20 taon yang akan datang?
Gimana ya generasi masa depan..?
Mereka harus pakai pakaian besi untuk melindungi kulit mereka dari panas matahari yang meyengat? Seperti dalam film The Last Mimzy? (Bukan Promosi Film)
Apa yang harus kita lakukan untuk generasi yang akan datang?
Apakah kita hanya meninggalkan tugas?
Atau kita yang akan melakukan tugas ini dan generasi yang akan datang hanya menyempurnakan atau kalau bisa hanya menikmati dan menjaga saja?
Did you ever think about your next generation?
Okay....Thats all
SEE YOU IN THE PERFECT CONDITION
Jumat, 03 Oktober 2008
Warna-Warni Kehidupan
By: Yuldi Hendry
Setelah beberapa saat di Jogja, pulang dari Indramayu dan Cirebon. Saya menuruti kata hati untuk membersihkan pakaian yang sudah perlu untuk dibersihkan, dirapikan dan dijaga. Alhamdulillah, disaat mencuci sepatu yang berwarna putih, disaat itulah hati dan pikiran saya menerawang ke dunia realitas yang ada disekitar dan di dalam kehidupan saya, kamu, dia, mereka dan kita semua.
Sendal yang saya cuci pada dasarnya berwarna putih bersih dan kelihatan indah. Namun, saat mencuci sandal tersebut, ia begitu kotor, menjadi coklat, berdebu dan berpasir. Setelah beberapa hari saya melakukan “intellectual journey” ke kota Mangga dan kota Nasi Lengko tersebut. Disadari, bahwa sandal itu saya pakai ke berbagai tempat, ke pantai, pergi wudhu’, jalan-jalan, penelitian, main ke Pesantren Az-Zaitun yang cukup megah, bersilaturrahmi, belanja dan seterusnya. Tidak terasa, sandal yang berwarna putih bersih itu berubah menjadi coklat dan gelap. Subhanllah, saya lupa membersihkan dan merawatnya.
Inti permasalahannya bukanlah sandal tersebut. Tetapi saya lebih memperhatikan warna, perubahan, toleransi, penjagaan, dan kesadaran diri. Lima kata kunci ini semakin membuat saya semakin asyik dalam mencuci sandal tersebut. Berangkat dari kata kunci awal, “warna”. Disinilah saya melihat bahwa, ketika ia memiliki original color putih, maka ia akan menjadi tidak indah lagi kalau dia berubah menjadi coklat dan hitam. Maksudnya disini, ada dua kategori yang perlu diperhatikan. Pertama, warna yang original, kedua warna perubahan.
Warna original adalah bentuk asli atau asal. Ia adalah warna yang memang dibentuk atau di-create seperti apa adanya. Ini merupakan warna yang tidak mungkin dirubah lagi, karena ia stagnan dan tidak bisa berubah. Maka, hal yang perlu kita lakukan dalam menghadapi hal ini adalah menerimanya apa adanya, tanpa merendahkan, diskriminasi apalagi penindasan. Warna disini tidak hanya warna sandal, dan yang penulis maksud juga bukan warna sandal, karena warna sandal bisa saja dirubah-rubah dengan kreatifitas cerdas sehingga tampak lebih baik dan menarik. Namun, yang dimaksud disini adalah warna kulit, ras, suku bangsa, bahasa, budaya dan seterusnya. (Terlepas dari perbendaan pendapat yang menyatakan bahwa budaya selalu berubah berdasarkan perubahan sosio-masyarakatnya dan hal itu memang benar adanya). Ketika kita menemukan warna-warna diatas, maka kita tidak bisa merubahnya ke dalam satu warna dan corak. Karena setiap individu memiliki hak otonomi dengan warna-warnanya sendiri. Tidak perlu membeda-bedakan warna kulit seseorang, apakah ia dari kalangan kulit hitam, putih, kuning, sawo matang dan seterusnya. Tidak perlu merendahkan orang-orang yang berada dalam ras yang “kelihatannya” langka kita lihat, tidak boleh menindas dan memandang rendah kelompok suatu suku bangsa, tidak perlu menghina dan menganggap tidak relevan dengan bahasa-bahasa yang berbeda dengan kita, tidak sopan dan tidak manusiawi kalau kita ingin menghancurkan dan mengganti budaya suatu komunitas dengan budaya yang kita inginkan. Sikap yang perlu ditanamkan disini adalah bagaimana kita menghargai, menjaga, dan bersikap toleransi dan mengakui adanya eksistensi setiap warna-warna yang ada.
Warna perubahan, merupakan warna yang merubah suatu hal menjadi sesuatu yang baru dan berbeda dengan warna sebelumnya. Contoh simple nya sebagaimana sendat tadi. Warna aslinya adalah putih, tetapi terkontaminasi dengan warna tanah, pasir dan bercampur baur sehingga menjadi coklat kehitam-hitaman. Dan warna ini membuatnya semakin buruk dan kehilangan jati dirinya. Warna perubahan ini memiliki dampak tertentu sesuai dengan konteks dan situasi yang melingkupinya. Ia bisa saja berdampak positif dan kadang berdampak negative. Misalkan saja perubahan yang terjadi pada seseorang yang memilki suatu budaya tertentu, namun karena lingkungan dan warna lain yang ia salami sehingga ia menjadi warna yang berbeda dan melupakan dan bahkan menanggalkan baju budayannya sendiri. Hal ini tentu merupakan hal negative yang tidak perlu untuk dilakukan, bagaimanapun kita memandang baik suatu budaya, kita tidak boleh meninggalkan dan menghilangkan jati diri kita. Bahkan, disuatu waktu kita perlu untuk memahami, mempelajari dan mengadopsi budaya orang lain, tanpa menghilangkan jati diri kita sendiri. Karena proses adopsi tidak berarti mengambilnya secara keseluruhan, tetapi butuh adanya proses internalisasi dengan nilai-nilai kita sendiri. Dan begitu juga dengan hal-hal lainnya.
Perubahan, perlukah? Tidak perlu jawaban, karena orang-orang yang berakal dan berfikir mesti telah memiliki jawaban di dalam dirinya sendiri. Kalau tidak tau jawabannya, lihatlah di beberapa papan iklan rokok (Ini bukan iklan lho….kita juga ga dibayar kok…heee…heee) di jalan-jalan raya maka kita akan menemukan tulisan PERUBAHAN ITU PERLU. That’s right. Perubahan itu tidak hanya perlu, tetapi perubahan itu adalah suatu keharusan. Karena kehidupan itu sendiri adalah perubahan. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Perubahan yang diinginkan disini adalah perubahan yang positif, perubahan yang bermamfaat dan menjadikan sesuatu itu lebih baik. Bukan malah perubahan yang terjadi pada sandal saya yang kotor dan tidak menarik lagi. Tapi satu hal yang perlu dicatat, bahwa perubahan yang negative disatu saat kita juga butuhkan supaya kita bangkit lagi menuju suatu perubahan yang lebih baik dan terbaik. Karena tidak perlu ada penyesalan dan kekecewaan apabila kita mengalami erubahan yang negative, tetapi yang terenting adalah bagaimana kita mengubah arah negative itu dan merubahnya menjadi pancaran yang positif. Anyway, kita tidak akan pernah berubah kalau kita tidak mau merubah diri kita sendiri.
Toleransi merupakan sebuah sikap yang sangat penting dalam kehidupan sosio-budaya yang berwarna-warni. Karena toleransi akan menjadi kata kunci dalam keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia. Toleransi tidak hanya ada dalam teks-teks keagamaan, buku-buku ilmiah dan intelektual, tetapi harus ada dalam tatanan praktis sehingga setiap individu merasakan dirinya dihargai dan ia memiliki hak untuk dirinya sendiri, tanpa menghilangkan makna adanya sesuatu di luar dirinya sendiri. Toleransi adalah penting, tetapi bersikap toleran terhadap siapapun adalah lebih penting.
Warna-warna yang ada disekitar dan di diri kita harus kita jaga dan harus kita sadari bahwa itu adalah milik kita, sehingga perlunya kesadaran diri untuk bersikap toleran, memiliki, menjaga, menghormati setiap warna-warni kehidupan. Sehingga perlunya suatu kata yang cukup kontradiktif yaitu “kebebasan”. Suara kebeasan yang dimaksud disini adalah “suara tengah” / middle voice diantara dua titik ekstrim yang beroposisi biner antara benar dan salah, baik dan buruk, dan seterusya. Kebebasan yang dimaksud disini adalah kesadaran akan adanya lebih dari satu warna kehidupan.
Setelah beberapa saat di Jogja, pulang dari Indramayu dan Cirebon. Saya menuruti kata hati untuk membersihkan pakaian yang sudah perlu untuk dibersihkan, dirapikan dan dijaga. Alhamdulillah, disaat mencuci sepatu yang berwarna putih, disaat itulah hati dan pikiran saya menerawang ke dunia realitas yang ada disekitar dan di dalam kehidupan saya, kamu, dia, mereka dan kita semua.
Sendal yang saya cuci pada dasarnya berwarna putih bersih dan kelihatan indah. Namun, saat mencuci sandal tersebut, ia begitu kotor, menjadi coklat, berdebu dan berpasir. Setelah beberapa hari saya melakukan “intellectual journey” ke kota Mangga dan kota Nasi Lengko tersebut. Disadari, bahwa sandal itu saya pakai ke berbagai tempat, ke pantai, pergi wudhu’, jalan-jalan, penelitian, main ke Pesantren Az-Zaitun yang cukup megah, bersilaturrahmi, belanja dan seterusnya. Tidak terasa, sandal yang berwarna putih bersih itu berubah menjadi coklat dan gelap. Subhanllah, saya lupa membersihkan dan merawatnya.
Inti permasalahannya bukanlah sandal tersebut. Tetapi saya lebih memperhatikan warna, perubahan, toleransi, penjagaan, dan kesadaran diri. Lima kata kunci ini semakin membuat saya semakin asyik dalam mencuci sandal tersebut. Berangkat dari kata kunci awal, “warna”. Disinilah saya melihat bahwa, ketika ia memiliki original color putih, maka ia akan menjadi tidak indah lagi kalau dia berubah menjadi coklat dan hitam. Maksudnya disini, ada dua kategori yang perlu diperhatikan. Pertama, warna yang original, kedua warna perubahan.
Warna original adalah bentuk asli atau asal. Ia adalah warna yang memang dibentuk atau di-create seperti apa adanya. Ini merupakan warna yang tidak mungkin dirubah lagi, karena ia stagnan dan tidak bisa berubah. Maka, hal yang perlu kita lakukan dalam menghadapi hal ini adalah menerimanya apa adanya, tanpa merendahkan, diskriminasi apalagi penindasan. Warna disini tidak hanya warna sandal, dan yang penulis maksud juga bukan warna sandal, karena warna sandal bisa saja dirubah-rubah dengan kreatifitas cerdas sehingga tampak lebih baik dan menarik. Namun, yang dimaksud disini adalah warna kulit, ras, suku bangsa, bahasa, budaya dan seterusnya. (Terlepas dari perbendaan pendapat yang menyatakan bahwa budaya selalu berubah berdasarkan perubahan sosio-masyarakatnya dan hal itu memang benar adanya). Ketika kita menemukan warna-warna diatas, maka kita tidak bisa merubahnya ke dalam satu warna dan corak. Karena setiap individu memiliki hak otonomi dengan warna-warnanya sendiri. Tidak perlu membeda-bedakan warna kulit seseorang, apakah ia dari kalangan kulit hitam, putih, kuning, sawo matang dan seterusnya. Tidak perlu merendahkan orang-orang yang berada dalam ras yang “kelihatannya” langka kita lihat, tidak boleh menindas dan memandang rendah kelompok suatu suku bangsa, tidak perlu menghina dan menganggap tidak relevan dengan bahasa-bahasa yang berbeda dengan kita, tidak sopan dan tidak manusiawi kalau kita ingin menghancurkan dan mengganti budaya suatu komunitas dengan budaya yang kita inginkan. Sikap yang perlu ditanamkan disini adalah bagaimana kita menghargai, menjaga, dan bersikap toleransi dan mengakui adanya eksistensi setiap warna-warna yang ada.
Warna perubahan, merupakan warna yang merubah suatu hal menjadi sesuatu yang baru dan berbeda dengan warna sebelumnya. Contoh simple nya sebagaimana sendat tadi. Warna aslinya adalah putih, tetapi terkontaminasi dengan warna tanah, pasir dan bercampur baur sehingga menjadi coklat kehitam-hitaman. Dan warna ini membuatnya semakin buruk dan kehilangan jati dirinya. Warna perubahan ini memiliki dampak tertentu sesuai dengan konteks dan situasi yang melingkupinya. Ia bisa saja berdampak positif dan kadang berdampak negative. Misalkan saja perubahan yang terjadi pada seseorang yang memilki suatu budaya tertentu, namun karena lingkungan dan warna lain yang ia salami sehingga ia menjadi warna yang berbeda dan melupakan dan bahkan menanggalkan baju budayannya sendiri. Hal ini tentu merupakan hal negative yang tidak perlu untuk dilakukan, bagaimanapun kita memandang baik suatu budaya, kita tidak boleh meninggalkan dan menghilangkan jati diri kita. Bahkan, disuatu waktu kita perlu untuk memahami, mempelajari dan mengadopsi budaya orang lain, tanpa menghilangkan jati diri kita sendiri. Karena proses adopsi tidak berarti mengambilnya secara keseluruhan, tetapi butuh adanya proses internalisasi dengan nilai-nilai kita sendiri. Dan begitu juga dengan hal-hal lainnya.
Perubahan, perlukah? Tidak perlu jawaban, karena orang-orang yang berakal dan berfikir mesti telah memiliki jawaban di dalam dirinya sendiri. Kalau tidak tau jawabannya, lihatlah di beberapa papan iklan rokok (Ini bukan iklan lho….kita juga ga dibayar kok…heee…heee) di jalan-jalan raya maka kita akan menemukan tulisan PERUBAHAN ITU PERLU. That’s right. Perubahan itu tidak hanya perlu, tetapi perubahan itu adalah suatu keharusan. Karena kehidupan itu sendiri adalah perubahan. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Perubahan yang diinginkan disini adalah perubahan yang positif, perubahan yang bermamfaat dan menjadikan sesuatu itu lebih baik. Bukan malah perubahan yang terjadi pada sandal saya yang kotor dan tidak menarik lagi. Tapi satu hal yang perlu dicatat, bahwa perubahan yang negative disatu saat kita juga butuhkan supaya kita bangkit lagi menuju suatu perubahan yang lebih baik dan terbaik. Karena tidak perlu ada penyesalan dan kekecewaan apabila kita mengalami erubahan yang negative, tetapi yang terenting adalah bagaimana kita mengubah arah negative itu dan merubahnya menjadi pancaran yang positif. Anyway, kita tidak akan pernah berubah kalau kita tidak mau merubah diri kita sendiri.
Toleransi merupakan sebuah sikap yang sangat penting dalam kehidupan sosio-budaya yang berwarna-warni. Karena toleransi akan menjadi kata kunci dalam keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia. Toleransi tidak hanya ada dalam teks-teks keagamaan, buku-buku ilmiah dan intelektual, tetapi harus ada dalam tatanan praktis sehingga setiap individu merasakan dirinya dihargai dan ia memiliki hak untuk dirinya sendiri, tanpa menghilangkan makna adanya sesuatu di luar dirinya sendiri. Toleransi adalah penting, tetapi bersikap toleran terhadap siapapun adalah lebih penting.
Warna-warna yang ada disekitar dan di diri kita harus kita jaga dan harus kita sadari bahwa itu adalah milik kita, sehingga perlunya kesadaran diri untuk bersikap toleran, memiliki, menjaga, menghormati setiap warna-warni kehidupan. Sehingga perlunya suatu kata yang cukup kontradiktif yaitu “kebebasan”. Suara kebeasan yang dimaksud disini adalah “suara tengah” / middle voice diantara dua titik ekstrim yang beroposisi biner antara benar dan salah, baik dan buruk, dan seterusya. Kebebasan yang dimaksud disini adalah kesadaran akan adanya lebih dari satu warna kehidupan.
What am I supposed to do?
By: Yuldi Hendry
Entahlah…apakah persaudaraan itu sesuatu yang bisa diibaratkan dengan sebuah gelas yang terbuat dari mutiara yang berdiri tegak di atas aliran air yang deras…ya itu adalah sesuatu yang mustahil dan ini tidak mungkin. Namun, persaudaraan memang begitu langka di saat fasaduz az-zaman ini. Mungkin ia ada di lorong-lorong kehidupan yang sempit dan begitu sulit untuk dideteksi. Betapa indahnya persaudaraan yang dicontohkan oleh Rasulullah bersama sahabat-sahabat yang dicintainya? Betapa manisnya persaudaraan yang digambarkan para tabi’in dan kekasih-kekasihnya? Betapa harumnya wewangian persaudaraan yang digambarkan dan dipraktekkan oleh orang-orang ‘alim dan sholeh di zaman dahulu? Apakah saya hanya bermimpi dan beromatisisme ria saja? Apakah itu hanya sekedar cerita dan sejarah saja? Atau apakah ia masih ada saat sekarang ini? Atau berusaha menuju titik tersebut? Ataukah ia hanya suatu ilusi yang begitu jauh di atas langit sedangkan kita berada di bumi? Ataukah…ataukah….beribu pertanyaan muncul dalam titik sadar otakku.
Perhatikanlah di sekitarku, disekitarmu, disekitar dia, disekitar mereka dan disekitar kita semua. Persaudaraan begitu murah dan murahan. Ia tidak lagi berdasarkan atas cinta, kasih sayang, kemanusiaan, fitrah dan Tuhan. Tetapi lebih berorientasi pada suatu titik materi. Ya sebuah orientasi materialis, tidak salah teori marxisme tetapi tidak juga bisa dibenarkan secara mutlak. Lihatlah persaudaraan, pertemanan, persahabatan sekarang ini lebih banyak berujung pada harta, kedudukan, kecantikan/ketampanan, ras dan suku, kekuasaan dan hal-hal yang berbau material lainnya. Ia hanya bertujuan pada sesuatu yang pasti, yang tampak dan wujud yang nyata, ia tidak lagi melihat suatu nilai abstrak dan substansial yang paling penting dan utama. Entahlah….mungkin hal ini juga dipengaruhi oleh kuatnya positifisme dalam kehidupan modern, atau karena berhasilnya para kapitalis dalam merubah framework makhluk yang bernama manusia, ataukah..ataukah….begitu banyak kemungkinan. Satu kemungkinan yang jelas dan tidak bisa dipungkiri, karena rusaknya zaman, karena jauhnya manusia dari nilai-nilai substansial agama, jauhnya manusia dari nilai moral-spritual. Lets back to religion values.
Dalam ranah soaial kehidupan manusia saat ini begitu kompleksnya permasalahan. Mulai dari permasalahan kemanusiaan itu sendiri, moral, kemiskinan, kelaparan, penindasan, marginalisasi, kebodohan, korupsi/mencuri, idho’atul mal/hedonisme, materialistic, futuristic, fundamentalisme, sekulerisme dan liberalisme dan seabrek kata-kata yang senada. Huuuuhhh…..ratusan….eh ribuan…..Semuanya membutuhkan prosese perbaikan infrastruktur yang membutuhkan waktu yang cukup panjang dan butuh perjuangan regenerasi. Sebuah tawaran yang cukup sederhana tetapi pasti untuk menghadapi semua ini adalah “MARILAH KITA BERSAMA-SAMA MEMPELAJARI AGAMA KITA SECARA KONFREHENSIF DAN MENGAPLIKASIKAN NILAI-NILAI TERSEBUT DI DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI, SEHINGGA IA AKAN MENJADI RAHMAT DAN RAMAH BAGI SEMESTA ALAM”.
Entahlah…apakah persaudaraan itu sesuatu yang bisa diibaratkan dengan sebuah gelas yang terbuat dari mutiara yang berdiri tegak di atas aliran air yang deras…ya itu adalah sesuatu yang mustahil dan ini tidak mungkin. Namun, persaudaraan memang begitu langka di saat fasaduz az-zaman ini. Mungkin ia ada di lorong-lorong kehidupan yang sempit dan begitu sulit untuk dideteksi. Betapa indahnya persaudaraan yang dicontohkan oleh Rasulullah bersama sahabat-sahabat yang dicintainya? Betapa manisnya persaudaraan yang digambarkan para tabi’in dan kekasih-kekasihnya? Betapa harumnya wewangian persaudaraan yang digambarkan dan dipraktekkan oleh orang-orang ‘alim dan sholeh di zaman dahulu? Apakah saya hanya bermimpi dan beromatisisme ria saja? Apakah itu hanya sekedar cerita dan sejarah saja? Atau apakah ia masih ada saat sekarang ini? Atau berusaha menuju titik tersebut? Ataukah ia hanya suatu ilusi yang begitu jauh di atas langit sedangkan kita berada di bumi? Ataukah…ataukah….beribu pertanyaan muncul dalam titik sadar otakku.
Perhatikanlah di sekitarku, disekitarmu, disekitar dia, disekitar mereka dan disekitar kita semua. Persaudaraan begitu murah dan murahan. Ia tidak lagi berdasarkan atas cinta, kasih sayang, kemanusiaan, fitrah dan Tuhan. Tetapi lebih berorientasi pada suatu titik materi. Ya sebuah orientasi materialis, tidak salah teori marxisme tetapi tidak juga bisa dibenarkan secara mutlak. Lihatlah persaudaraan, pertemanan, persahabatan sekarang ini lebih banyak berujung pada harta, kedudukan, kecantikan/ketampanan, ras dan suku, kekuasaan dan hal-hal yang berbau material lainnya. Ia hanya bertujuan pada sesuatu yang pasti, yang tampak dan wujud yang nyata, ia tidak lagi melihat suatu nilai abstrak dan substansial yang paling penting dan utama. Entahlah….mungkin hal ini juga dipengaruhi oleh kuatnya positifisme dalam kehidupan modern, atau karena berhasilnya para kapitalis dalam merubah framework makhluk yang bernama manusia, ataukah..ataukah….begitu banyak kemungkinan. Satu kemungkinan yang jelas dan tidak bisa dipungkiri, karena rusaknya zaman, karena jauhnya manusia dari nilai-nilai substansial agama, jauhnya manusia dari nilai moral-spritual. Lets back to religion values.
Dalam ranah soaial kehidupan manusia saat ini begitu kompleksnya permasalahan. Mulai dari permasalahan kemanusiaan itu sendiri, moral, kemiskinan, kelaparan, penindasan, marginalisasi, kebodohan, korupsi/mencuri, idho’atul mal/hedonisme, materialistic, futuristic, fundamentalisme, sekulerisme dan liberalisme dan seabrek kata-kata yang senada. Huuuuhhh…..ratusan….eh ribuan…..Semuanya membutuhkan prosese perbaikan infrastruktur yang membutuhkan waktu yang cukup panjang dan butuh perjuangan regenerasi. Sebuah tawaran yang cukup sederhana tetapi pasti untuk menghadapi semua ini adalah “MARILAH KITA BERSAMA-SAMA MEMPELAJARI AGAMA KITA SECARA KONFREHENSIF DAN MENGAPLIKASIKAN NILAI-NILAI TERSEBUT DI DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI, SEHINGGA IA AKAN MENJADI RAHMAT DAN RAMAH BAGI SEMESTA ALAM”.
Stop Global Warming
By: Yuldi Hendry
Ah....beli makanan keluar yuk.....Ok deh
Beberapa menit sampai di luar rumah.....Tidaaaaaaaaaaaaaaaakkkk...
Panaaaaaaaaaaassssssss.....(Ini bukan karena sengatan api atau terbakar karena ayat-ayat al-Qur'an...emangnya gue syetan...??)
Subhanallah..panas sekali cuaca....
Teringat tiga tahun lalu waktu awal ke Jogja, ga panas-panas amat, malahan lumayan adem dan sejuk
Tapi sekarang.......panaass.......Global Warming....
STOP GLOBAL WARMING
GLOBAL WARMING IS OUR ENEMY
So.....
Hentikan segala hal yang akan menyebabkan global warming, hentikanlah pembakaran hutan dan penebangan hutan sembarangan wahai orang-orang yang tidak bertanggungjawab, jangan buang sampah sembarangan wahai orang-orang yang baik hati, tolong imbangi produksi polusi udara dengan penyegaran dan pembersihan udara wahai orang-orang yang memiliki perhatian terhadap dirinya sendiri dan anak cucunya, tolong....tolong...tolong......Jangan lah bersikap atau berbuat sesuatu yang akan merusak tatanan dan keberlangsungan kehidupan kita di dunia ini, karena anak cucu kita juga akan menikmati kehidupan ini...Dan jangan biarkan mereka nantinya tersiksa dengan pemanasan global..Huuuuhhh...huuuuhhhhhh..Saya tidak bisa bayangkan bagaimanakah 10 tahun ke depan, 20, 40, 70 tahun ke depan...Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk..
So anyway, jangan takut. Sebelum terlambat kita harus membuat good solution terhadap semua ini. Jagalah lingkungan dan alam di sekitar kita. Taukah kita bahwa teks-teks keagamaan terlalu banyak yang menganjurkan hal ini, dan banyak sekali yang berbicara tentang ontologi. Ayat-ayat ontologi begitu banyak, tapi apakah prakteknya sudah ada nih? Atau cuma sibuk dengan hal-hal yang teoritis, tap melupakan nilai-nilai praktis yang seharusnya selalu di kedepankan.....
Global warming harus segera di atasi, atau kita yang nanti ga bisa berbuat apa-apa lagi. Dari pada terlambat...mumpung nih....STOP GOLBAL WARMING dengan usaha apapun yang kita bisa, dan sikap atau perbuatan apapun yang bisa meminimalisirnya atau malah menutupnya sekalian....
Met Berjuang yach.........
Selamatkan Dunia Kita, atau Kita yang Tidak akan Terselamatkan di Dunia Kita Sendiri
Salam Perjuangan
Ah....beli makanan keluar yuk.....Ok deh
Beberapa menit sampai di luar rumah.....Tidaaaaaaaaaaaaaaaakkkk...
Panaaaaaaaaaaassssssss.....(Ini bukan karena sengatan api atau terbakar karena ayat-ayat al-Qur'an...emangnya gue syetan...??)
Subhanallah..panas sekali cuaca....
Teringat tiga tahun lalu waktu awal ke Jogja, ga panas-panas amat, malahan lumayan adem dan sejuk
Tapi sekarang.......panaass.......Global Warming....
STOP GLOBAL WARMING
GLOBAL WARMING IS OUR ENEMY
So.....
Hentikan segala hal yang akan menyebabkan global warming, hentikanlah pembakaran hutan dan penebangan hutan sembarangan wahai orang-orang yang tidak bertanggungjawab, jangan buang sampah sembarangan wahai orang-orang yang baik hati, tolong imbangi produksi polusi udara dengan penyegaran dan pembersihan udara wahai orang-orang yang memiliki perhatian terhadap dirinya sendiri dan anak cucunya, tolong....tolong...tolong......Jangan lah bersikap atau berbuat sesuatu yang akan merusak tatanan dan keberlangsungan kehidupan kita di dunia ini, karena anak cucu kita juga akan menikmati kehidupan ini...Dan jangan biarkan mereka nantinya tersiksa dengan pemanasan global..Huuuuhhh...huuuuhhhhhh..Saya tidak bisa bayangkan bagaimanakah 10 tahun ke depan, 20, 40, 70 tahun ke depan...Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk..
So anyway, jangan takut. Sebelum terlambat kita harus membuat good solution terhadap semua ini. Jagalah lingkungan dan alam di sekitar kita. Taukah kita bahwa teks-teks keagamaan terlalu banyak yang menganjurkan hal ini, dan banyak sekali yang berbicara tentang ontologi. Ayat-ayat ontologi begitu banyak, tapi apakah prakteknya sudah ada nih? Atau cuma sibuk dengan hal-hal yang teoritis, tap melupakan nilai-nilai praktis yang seharusnya selalu di kedepankan.....
Global warming harus segera di atasi, atau kita yang nanti ga bisa berbuat apa-apa lagi. Dari pada terlambat...mumpung nih....STOP GOLBAL WARMING dengan usaha apapun yang kita bisa, dan sikap atau perbuatan apapun yang bisa meminimalisirnya atau malah menutupnya sekalian....
Met Berjuang yach.........
Selamatkan Dunia Kita, atau Kita yang Tidak akan Terselamatkan di Dunia Kita Sendiri
Salam Perjuangan
Sabtu, 13 September 2008
Did you ever?
Did you ever?
I feel confused right now, I am standing on scary path. No one here can comfrehend me. I would like to go around the world to say, I am so happy with my own way, my life. I wanna live in my life.
Whoever you are read my writing, thanks
But, sometime I feel so scare. People beside me always oversee me. Yea, I am not confedence and free to do thing what I wanna do it. Yea, many cases bound me what make me couldn't be myself. I wanna be my ownself and real me. Yea, leave me alone, I wanna bethink something useful for me, for my life and my future.
Eh, what I say? Do you understand? Look at what I mean not what I say.....
Ok?
See you later
Best Redards...
Yuldi Hendry
(I am writing my mini thesis, may it will be over)
I feel confused right now, I am standing on scary path. No one here can comfrehend me. I would like to go around the world to say, I am so happy with my own way, my life. I wanna live in my life.
Whoever you are read my writing, thanks
But, sometime I feel so scare. People beside me always oversee me. Yea, I am not confedence and free to do thing what I wanna do it. Yea, many cases bound me what make me couldn't be myself. I wanna be my ownself and real me. Yea, leave me alone, I wanna bethink something useful for me, for my life and my future.
Eh, what I say? Do you understand? Look at what I mean not what I say.....
Ok?
See you later
Best Redards...
Yuldi Hendry
(I am writing my mini thesis, may it will be over)
Selasa, 02 September 2008
LARANGAN JUAL BELI BUAH-BUAHAN YANG MASIH DIATAS POHON (Studi Penelitian Sanad Hadis Riwayat Abu Dawud no. 2929)
PENELITIAN SANAD HADIS SUNAN ABU DAWUD
KITAB BUYU’ NO. 3373 / 2929
bY: Yuldi Hendri
A. Teks Hadits Abu Dawud, Kitab Buyu’, No. 2929
حدثنا إسحاق بن إسماعيل الطالقاني ثنا سفيان عن ابن جريج عن عطاء عن جابر
أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الثمر حتى يبدو صلاحه ولا يباع إلا بالدينار أو بالدرهم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isma’il at-Thalaqany, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, dari Jabir, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alahi Wasallam melarang menjual buah-buahan diatas pohon sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya.
Hadits ini diriwayatkan dari berbagi jalur yang memiliki makna hadits yang setema . Diantaranya adalah: Sehingga disini penelitian takhrij dengan berbagai pendekatan, yaitu metode no. hadits pada mausu’ah, mencari kata yang semakna pada al-maktabah asy-syamilah dengan menulis kata al-‘araayaa, kemudian juga dengan cara manual dengan melihat kitab Al-Mu’jam al_Mufahras li Al_Faazhil hadits an_Nabawi ‘anil kutub as_Sittah wa ‘an Musnad ad_Darimi, wa Muwaththa’ Malik, wa Musnad Ahmad bin Hanbal, sehingga didalam penelitian ini terdapat banyak hadits yang terkait dengan hadits riwayat Abu Dawud no. 2929. Namun, pada I’tibar sanadnya nanti, yang ditampilkan hanya riwayat takhrij dalam CD Masu’ah saja. Hadits-haditsnya sebagai berikut:
حدثنا يحيى بن سليمان حدثنا ابن وهب أخبرنا ابن جريج عن عطاء وأبي الزبير عن جابر رضي الله عنه قال
نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن بيع الثمر حتى يطيب ولا يباع منه إلا بالدينار والدرهم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahhab, telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij, dari ‘Atha’ dan Abu Zubair, dari Jabir semoga Allah meridhainya, ia berkata:” Nabi Shalallahu ‘Alahi Wasallam melarang menjual buah-buahan di atas pohon sehingga baik, dan tidak boleh dijual dari buah-buahan itu kecuali dengan uang kontan (dinar dan dirham, kecuali al-‘arrayaa.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ سَلِيمِ بْنِ حَيَّانَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَا قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُبَاعَ الثَّمَرَةُ حَتَّى تُشَقِّحَ فَقِيلَ وَمَا تُشَقِّحُ قَالَ تَحْمَارُّ وَتَصْفَارُّ وَيُؤْكَلُ مِنْهَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Salim bin Hayyan, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Mina, ia berkata, saya mendengar Jabir bin Abdullah semoga Allah meridhai keduanya, ia berkata:” Rasulullah melarang menjual tamar sehingga dapat dimakan, maka ditanyakan, dan apakah tanda ia sudah bisa dimakan? Ia berkata:” Sudah berwarna merah, dan kuning, dan telah dimakan darinya.
حدثنا عبد الله بن محمد حدثنا ابن عيينة عن ابن جريج عن عطاء سمع جابر بن عبد الله رضي الله عنهما
: نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن المخابرة والمحاقلة وعن المزابنة وعن بيع الثمر حتى يبدو صلاحها وأن لا تباع إلا بالدينار والدرهم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, mendengar dari Jabir bin Abdullah semogaAllah meridhai keduanya:” Nabi melarang menjual buah-buahan dengan cara al_mukhaabarah, al-muhaaqalah dan al-muzaabanah sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ ح و حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى أَوْ نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَطِيبَ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Khaitsamah, dari Abu Zubair, dari Jabir{ dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Abu Zubair, dari Jabir}, ia berkata:” Melarang atau Rasulullah melarang kami menjual buah-buahan hingga ia jelas baiknya (bisa dimakan).
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ النَّوْفَلِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا رَوْحٌ قَالَا حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ إِسْحَقَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُا نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهُ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Utsman an_Naufali, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim {dan telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Hatim dan lafazh baginya, telah menceritakan kepada kami Ruh, ia berkata telah menceritakan kepada kami Zakariya bin Ishaq, telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Dinar, bahwasanya ia mendengar Jabir bin Abdullah berkata:” Rasulullah melarang menjual buah-buahan hingga jelas jadinya.
حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة ومحمد بن عبدالله بن نمير وزهير بن حرب قالوا جميعا حدثنا سفيان بن عيينة عن ابن جريج عن عطاء عن جابر بن عبدالله قال
: نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن المحاقلة والمزابنة والمخابرة وعن بيع الثمر حتى يبدو صلاحه ولا يباع إلا بالدينار والدرهم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Ghamir dan Zuhair bin Harb, mereka berkata telah menceritakan kepada kami Syufyan bin ‘Uyainah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, dari Jabir bin Abdillah, ia berkata:” Nabi melarang menjual buah-buahan dengan cara al_mukhaabarah, al-muhaaqalah dan al-muzaabanah sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ الْجَزَرِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تُطْعِمَ وَلَا تُبَاعُ إِلَّا بِالدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ إِلَّا الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim al_Hanzhali, telah mengkhabarkan kepada kami Makhlad bin Yazid al_Jazari, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah mengkhabarkan kepadaku ‘Atha’, dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Rasulullah melarang al_mukhaabarah, al_muhaaqalah dan al_muzaabanah dan menjual buah-buahan hingga ia bisa dimakan, dan dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya.
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي خَلَفٍ كِلَاهُمَا عَنْ زَكَرِيَّاءَ قَالَ ابْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ عَدِيٍّ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الْمَكِّيُّ وَهُوَ جَالِسٌ عِنْدَ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَأَنْ تُشْتَرَى النَّخْلُ حَتَّى تُشْقِهَ وَالْإِشْقَاهُ أَنْ يَحْمَرَّ أَوْ يَصْفَرَّ أَوْ يُؤْكَلَ مِنْهُ شَيْءٌ وَالْمُحَاقَلَةُ أَنْ يُبَاعَ الْحَقْلُ بِكَيْلٍ مِنْ الطَّعَامِ مَعْلُومٍ وَالْمُزَابَنَةُ أَنْ يُبَاعَ النَّخْلُ بِأَوْسَاقٍ مِنْ التَّمْرِ وَالْمُخَابَرَةُ الثُّلُثُ وَالرُّبُعُ وَأَشْبَاهُ ذَلِكَ قَالَ زَيْدٌ قُلْتُ لِعَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ أَسَمِعْتَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَذْكُرُ هَذَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Ahmad bin bin Abi Khalaf, keduanya dari Zakariya, ia berkata, Ibnu Khalaf, telah menceritakan kepada kami Zakariya bin ‘Adi, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaidullah bin Zaid bin Abi Unaisah, telah menceritakan kepada kami Abul Walid al_Makki, dan ia duduk disamping ‘Atha’ bin Abi Rabbah, dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Rasulullah melarang jual beli dengan cara al_muhaalaqah, al-muzaabanah dan al_mukhaabarah dan melarangmembeli kurmasehingga dapat dimakan. Jabir berkata: Dan al_Isyqah itu adalah kurma yang telah nampak menjadi merah dan menguning atau dapat dimakan, muhaalaqah yaitutanaman yang dijual dengan takaran makanan yang tertentu, muzaabanah yaitu pohon kurma yang dijual dengan beberapa gantang kurma, dan mukhaabarah yaitu perjanjian bagi hasil dengan sepertiga atau seperempat dsb. Zaid berkata, aku pernah bertanya kepada Atha’: Pernahkah engkau mendengar Jabir menyebut masalah ini dari Rasulullah? Ia menjawab: Ya.
و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هَاشِمٍ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا سَلِيمُ بْنُ حَيَّانَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُزَابَنَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تُشْقِحَ قَالَ قُلْتُ لِسَعِيدٍ مَا تُشْقِحُ قَالَ تَحْمَارُّ وَتَصْفَارُّ وَيُؤْكَلُ مِنْهَا
Artinya: Dan telah mnceritakan kepada kami Abdullah bin Hasyim, telah menceritakan kepada kami Bahzun, telah menceritakan kepada kami Salim bin Hayyan, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Mina’, dari Jabir bin Abdulah berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang al_muzaabanah, al_muhaaqalah dan al_mukhaabarah dan melarang menjual buah-buahan hingga bisa dimakan, dan ia berkata, aku berkata kepada Sa’id apakah Tusyqih? Ia berkata, buah itu sudah menjadi merah dan kuning, dan sudah dimakan darinya.
حدثنا محمد بن منصور قال حدثنا سفيان عن بن جريج عن عطاء سمعت جابر بن عبد الله عن النبي صلى الله عليه وسلم : أنه نهى عن المخابرة والمزابنة والمحاقلة وأن يباع الثمر حتى يبدو صلاحه وأن لا يباع إلا بالدنانير والدراهم ورخص في العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Manshur, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, saya mendengar Jabir bin Abdullah, dari Nabi Shalllahu ‘Alaihi Wasallam: Bahwasanya ia melarang menjual buah-buahan dengan cara al-mukhabarah, al-muzabanah dan al-muhalaqah sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) dan memberi keringanan pada al-‘araaya.
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ الْجَزَرِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تُطْعِمَ وَلَا تُبَاعُ إِلَّا بِالدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ إِلَّا الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali, telah mengkhabarkan kepada kami Makhlad bin Yazid al-Jazari, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah mengkhabarkan kepadaku ‘Atha’, dari Jabir bin ‘Abdillah bahwasanya Rasululah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al-mukhabarah, al-muzabanah dan al-muhalaqah sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya.
أخبرنا قتيبة قال حدثنا المفضل عن بن جريج عن عطاء وأبي الزبير عن جابر : أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن المخابرة والمزابنة والمحاقلة وبيع الثمر حتى يطعم إلا العرايا
Artinya: Telah mengkhabakan kepada kami Qutaibah, ia berkata, telah bercerita kepada kami Al-Mufadhdhal, dari IIbnu Juraij, dari ‘Atha’ dan Abu Zubair, dari Jabir: Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al-mukhabarah, al-muzabanah dan al-muhalaqah sehingga bisa dimakan, kecuali al-‘araayaa.
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ النَّخْلِ حَتَّى يُطْعَمَ
Artinya: Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul A’la, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Khalid, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Abu Zubair, dari Jabir, ia berkata:” Rasulullah melarang menjual kurma sehingga dapat dimakan.
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ قَبْلَ أَنْ يُطْعَمَ وَعَنْ بَيْعِ ذَلِكَ إِلَّا بِالدَّنَانِيرِ وَالدَّرَاهِمِ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Muhammad, ia berkata telah menceritakan kepada kamiMakhlad bin Yazid, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Atha’, dari Jabir, bahwasanya Rasulullah melarang jual beli dengan cara al_mukhaabarah, al_muzaabanah dan al_muhaalaqah, dan melarang menjual buah-buahan sebelum ia bisa dimakan, dan jual beli demikian itu dilarang kecuali dengan dirham dan dinar (secara kontan).
أَخْبَرَنَا الثِّقَةُ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ مَسْعَدَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَاضَرَةِ وَقَالَ الْمُخَاضَرَةُ بَيْعُ الثَّمَرِ قَبْلَ أَنْ يَزْهُوَ وَالْمُخَابَرَةُ بَيْعُ الْكَرْمِ بِكَذَا وَكَذَا صَاعٍ خَالَفَهُ عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ فَقَالَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ats-Tsiqah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Mas’adah, dari Hisyam bin Abi Abdillah, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Jabir bin Abdillah, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang jual beli dengan cara al_muzaabanah, dan al_mukhaadharah. Dan berkata al_mukhaadharah adalah menjual buah sebelum nyata jadinya, dan al_mukhaabarah adalah menjual pohon anggur dengan ini (perjanjian bagi hasil sepertiga, seperempat dsb),dan demikianlah penakaran yang diselisihi Amru bin Abi Salamah, maka ia berkata, dari Bapaknya, dari Abu Hurairah.
أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَجَابِرٍ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهُ وَنَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ كِرَاءِ الْأَرْضِ بِالثُّلُثِ وَالرُّبُعِ رَوَاهُ أَبُو النَّجَاشِيِّ عَطَاءُ بْنُ صُهَيْبٍ وَاخْتُلِفَ عَلَيْهِ فِيهِ
Artinya: Telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari Amru bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar dan Jabir, Rasulullah melarang menjual buah-buahan hingga jelas jadinya, dan melarang jual beli al_mukhaabarah, dengan melakukan perjanjian bagi hasil sepertiga dan seperempat. Meriwaytkannya An_Najasyi ‘Atha’ bi Shuhaib, dan terjadi perbedaan padanya.
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهُ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Ammar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, dari Jabir, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan hingga jelas jadinya.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَالْمُعَاوَمَةِ وَرَخَّصَ فِي الْعَرَايَا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhab at_Taqafi, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Zubair, dari Jabir, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al_muhaaqalah,al_muzaabanah dan al_mukhaabarah dan al_mu’aawamah dan memberi keringanan pada al_’araaya.
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنِي شِبْلٌ قَالَ سَمِعْتُ عَمْرَو بْنَ دِينَارٍ يَقُولُ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَابْنِ عُمَرَ وَابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهُ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Harits , telah menceritakan kepadaku Syiblun, ia berkata, saya mendengar Amru bin Dinar berkata, dari Jabir bin Abdullh dan Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan sehingga jelas jadinya.
حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا قتيبة حدثنا المفضل بن فضالة عن بن جريج عن عطاء وأبي الزبير عن جابر : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن المخابرة والمزابنة والمحاقلة وبيع الثمر حتى يطعم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kamiAbdullah, telah menceritakan kepada saya Bapak saya, telah mencritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Mufadhdhal bin Fadhaalah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’ dan Abu Zubair, dari Jabir: Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al-mukhabarah, al-muzabanah dan al-muhalaqah sehingga bisa dimakan, kecuali al-‘araayaa.
حَدَّثَنَا أَبُو سَعْدٍ الصَّاغَانِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ مُيَسَّرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَأَنْ يُبَاعَ الثَّمَرُ حَتَّى يُطْعَمَ إِلَّا بِدَنَانِيرَ أَوْ دَرَاهِمَ إِلَّا الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id ash_Shaaghaani Muhammad bin Muyassar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Abu Zubair, dari Jabir, ia berkata, Rasulullah melarang berjualan dengan cara al_muhaaqalah, al_muzaabanah, al_mukhaabarah, dan dijualnya buah-buahan sehingga ia bisa dimakan, kecuali dengan dinar dan dirham (kontam), kecuali al_’araaya.
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا الْمُفَضَّلُ بْنُ فَضَالَةَ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ وَأَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَبَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يُطْعَمَ إِلَّا الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami al-Mufadhdhal bin Fadhaalah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’ dan Abu Zubair, dari Jabir, bahwasanya Rasulullah Shlallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al_mukhaabarah, al_muzaabanah dan al_muhaaqalah dan menjual buah-buahan sehingga ia bisa dimakan, kecuali al_’araaya.
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَالْمُعَاوَمَةِ وَالثُّنْيَا وَرَخَّصَ فِي الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Isma’il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Zubair, dari Jabir, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang berjualan dengan cara al_muhaaqalah, al_muzaabanah, al_mukhaabarah dan ats_tsuna, dan memberikan keringanan pada al_’araayaa.
B. Meneliti Kualitas Riwayat dan Persambungan Sanad
(1) Skema Sanad Hadits
Sanad hadits pada jalur Abu Dawud yang akan diteliti:
محمد
جابر
عن
عطاء
عن
عبدالملك
عن
سفيان بن عيينة
حدثنا
اسحاق
حدثنا
ابوداود
Urutan nama periwayat jalur Abu Dawud adalah:
1. Periwayat I : Jabir bin Abdillah
2. Periwayat II : ‘Atha’ bin Abi Rabbah
3. Periwayat III : Ibnu Juraij
4. Periwayat IV : Sufyan bin ‘Uyainah
5. Periwayat V : Ishaq bin Isma’il Ath-Thalaqani
6. Periwayat VI : Abu Dawud
(2) Meneliti kualitas periwayat dan persambungan sanadnya pada jalur Abu Dawud
1. Abu Dawud
a. Nama lengkapnya: Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Imran al-Azdi al_Sijistani
b. Lahirnya di Sijistan –suatu kota di Bashrah- pada tahun 202 H. Dan meninggal pada tahun 275 di al_Sijistani pada umur 73 tahun, tepatnya pada tanggal 16 Syawal 275 H di Bashrah.
c. Guru dan Muridnya
• Guru-gurunya diantaranya adalah: Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Yahya bin Ma’in (w. 233 H), Muslim bin Ibrahim (w. 222 H), ‘Amr bin Aun al_Najili (w. 225 H), Musaddad bin Musarhad al-Asadi (w. 228 H), Abdullah bin Maslamah al_Qa’nabi (w. 221 H), Abu Utsman ‘Amr bin Marzuki al-Bahili (w. 224 H), Ishaq bin Isma’il Ath_Thalaqani (w. 225 H). Muhammad bin Auf bin Sufyan (w. 262 H), Ibrahim bin Musa bin Yazid al_Tamimi (w. 225 H), Abdullah bin Ahmad al_Napili (w. 234 H), Qutaibah bin Sa’id al_Saqafi (w. 240), dan lainnya. .
• Murid-muridnya diantaranya: Muhammad bin ‘Isa al_Turmuzi (w. 274 H), Ahmad bin Salman al_Najd, Isma’il bin Muhammad al_Safar, Muhammad bin Mukhallid, Ali bin Husein bin al_Abid, Ahmad bin Muhammad bin Harun al_Khalal, An_Nasa’I (w. 334 H), Abdullah bin Sulaiman bin al_Asy’as.
d. Penilaian ulama hadits terhadap Abu Dawud:
• Al_Hakim berkata: “Abu Dawud adalah imam ahli hadits pada zamannya, tidak ada yang menyamainya”.
• Abu Hatim bin Hibban berkata:” Abu Dawud adalah seorang imam dunia dalam bidang fikqih, ilmu, hapalan, dan ibadah. Beliau telah mengumpulkan hadits-hadits hukum dan tegak mempertahankan sunnah”.
• Maslamah bin Qasim berkata:” Dia adalah tsiqah, seorang zahid, mempunyai ilmu pengetahuan tentang hadits, seorang imam pada zamannya”.
• Musa bin Harun berkata:” Abu Dawud diciptakan di dunia untuk hadits dan di akhirat untuk surga. Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih utama dari dia”.
• Ahmad bin Muhammad bin Yasin al_Harawi berkata:” Abu Dawud adalah salah seorang hafiz dalam bidang hadits, yang memahami hadits beserta illat dan sanadnya, dia mempunyai derajat yang tinggi dalam beribadah, kesucian, diri, ke_shahih_an dan ke_wara’_an.
Keseluruhan penilaian ulama terhadap Abu Dawud diatas, menunjukkan kepakaran Abu Dawud dalam bidang hadits.
2. Ishaq bin Isma’il Ath_Thalaqani
a. Nama : Ishaq bin Isma’il Ath-Thalaqany
b. Kunyah : Abu Ya’qub
c. Laqab : Ath-Thaalaqaani, al-Yatiim, al-Baghdaadi
d Wafat : 225 H. Al-Baghawi mengatakan bahwa Ishaq bin Ismai’l meninggal tahun 230 bulan ramadhan, namun biasa tertulis akan kematiannya adalah 225. Ibnu Hibban mengatakan Ishaq meninggal 225. Ia semasa dengan Hisyam bin Ammaar bin ad-Dimasyqi. Ishaq semasa dengan Ibnu ‘Uyainah, Syu’bah, Abu Mu’awiyah, Abdah, Muhammad bin Yazid, Ali bin Mishar.
e. Data-data tentang Ishaq bin Ismail bisa didapatkan di: Tahdzib al-Kamal: 1/82. Tahdzib at-Tahdzib 1/226. Taqrib at-Tahdzib: 1/56. Khulaashah tahdzib al-Kamal: 1/ 71. Al-Kaashif: 1/108. Al-Jarh wa at-Ta’dil: 2/212. Ats-Tsiqaat: 8/113. Al-Waafi bil Wafiyaat: 8/404. Majma’: 3/147, 8/106. Taarikh al-Baghdad: 6/334. Thabaqah: 10/ al-‘Aasyirah
f. Yang meriwayatkan darinya: Abu Dawud
g. Guru dan muridnya:
• Gurunya: Jarir, Ibnu ‘Uyainah, Abu Usamah, ‘Abdah bin Sulaiman, Abu Mu’awiyah, Mu’tamar bin Sulaiman, Yazid bin Harun. Ibrahim bin ‘Uyainah, Jarir bin Abdul Hamid al-Razi, Hatim bin Wardan al-Bashari, Husain bin Ali al-Ja’fi, Hikam bin Salam al-Razi, Abu Usamah, Hamad bin Usamah, Sufyan bin ‘Uyainah, Sulaiman bin Hikam bin Uwanah al-Kalabi, Abdurrahman bin Sa’ad bin Umaar al-Mu’adzin dan Abdah bin Sulaiman, ‘Utsam bin Ali al-‘Amiri, ‘Adi bin Fadhil, Abu Daud Umar bin Saad al-Hafri, Isa bin Yunus, Abu Mu’awiyah, Muhammad bin ‘Abid, Muhammad bin Fadhil, Mu’tamar bin Sulaiman, Waki’ bin Jarrah.
• Muridnya : Abu Dawud, Ya’qub bin Syaibah, Ali bin Abdul ‘Aziz, Abu Ya’la, Ibnu Abi Dunya, al-Baghawi, dan selainnya. Muhammad bin Sai’ al-Ashbahani, Utsman bin Syaibah dan Abu Bakar bin Syaibah, Ibrahim bin Musa. Muhammad bin Muslim. Al-Auza’i.
h. Penilaian ulama: Dia tsiqah, berbicara pada hal-hal yang ia dengar dari Jarir secara sendiri. Abu Abdillah: Tidaklah yang saya tau tentang Ishaq bin Ismail kecuali kebaikan, dan ia membawa riwayat yang ia hafal, Ya’qub bin Syaibah: Ia stiqah dan kokoh, Ibnu Ma’in: Stiqah, Abu Dawud dan Daruquthni: Tsiqah, Utsman bin Kharzadz: Tsiqah tsiqah, Ibnu Hibban: Tsiqah, Ibnu Mai’n: La baks, shadduq. Ibnu Ma’in: saya berharap ia shadduq, la baksa bihi shaduq. Yahya: Tidak apa-apa. Ibnu Syaibah: Ishaq adalah tsiqah dan ia lebih kokoh dari utsman dalam periwayatan walaupun mereka sama-sama tsiqah, dan kadang Yahya bin Ma’in mentsiqahkannya tidak menshadduqkan. Ibnu Adi: Ishaq bin Ismail: Tsiqah. Utsman bin Kharzadz: Ishaq tsiqah tsiqah. Daruquthni: Ishaq tsiqah. Apa yang ada padanya baik, Yahya bin Aktsam: terpercaya.
Dari penilaian para ulama diatas, maka bisa disimpulkan bahwa Ishaq bin Isma’il ath_Thalaqani orang yang terpercaya dan pakar dalam hadits.
3. Sufyan Bin ‘Uyainah
a. Nama: Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran maimun
b. Kunyah: Abu Muhammad
c. Laqab: Al-Hilali, al-Kufi, al-makki
d. Wafat: 198 bulan rajab, umurnya 91 tahun
e. Tingkatan: Dia pemimpin tingkatan ke delapan (ruus ats-tsaminah)
f. Yang mengeluarkan darinya: Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmidzi, Nasai dan Ibnu Majah,
Ia tsiqah, hafizh, faqih, imam hujjah, tapi ia berubah pada akhir hidupnya dan kadang memudallaskan hadits , tetapi dari para perawi tsiqah, dan ia adalah orang yang paling tsabit pada riwayat Amru bin Dinar
g. Bisa dilihat pada: Tahdzib tahdzib:4/117, Tahdzib kamal: 1/514, taqrib tahdzib: 1/312, Khulashah Tahdzib Kamal: 1/397, al-Kasyif: 1/379, tarikh kabir: 4/94, jarh wa ta’dil: 4/973, 1/32, mizanul I’tidal: 2/170, thabaqat Ibnu Sa’ad: 9/83, Al-Bidayah wa nihayah: 10/205, 218, 239, 244, , al-Wafi bil wafiyaat: 15/281, al-hilyah: 7/270, siyarul a’lam: 8/454, daiwanul a’lam: 1104, ats-tsiqat: 6/403.
h.Guru dan muridnya:
• Gurunya: Abaan bin Taghlab, Ibrahim bin ‘Uqbah bin Abi ‘abbas, Ibrahim bin Muhammad bin al_Muntasyir bin al_Ajda’, Ibrahim bin Muslim, Ibrahim bin Maisarah, Ajla’ bin Abdillah bin hujjiyah, Ahwash bin hakam bin ‘Amir, Isra’il bin Musa, Abdul Malik bin Abdul ‘Aziz bin Juraij, Isma’il bin Abi Khalid, Isma’il bin Muslim, Al_Aswad bin Qais, Ayyub bin Musa, Baasyir bin Sulaiman, Bayaan bin Basyir, Hazuur, al_Hakam bin abaan, Khalid bin Mahran.
• Muridnya: Ibrahim bin Basyaar, Ibrahim bin Dinar, Ibrahim Sa’id, Muhammad bin ‘Abbas, Mandzur bin Abdillah, Ahmad bin Tsabit, Ahmad bin al_Hijaaj, Ishaq bin Isma’il ath_Thalaqani, Ahmad bin Shalihh, Isma’il bin Salim, Isma’il bin Musa, Harun bin Ma’ruf, Muhammad bin Sulaiman bin Habib.
i. Penilaian ulama: Syafi’i: Kalau bukan karena Malik dan Sufyan, maka akan hilang ilmu di Hijaz. Ibnu Mahdi: Dia adalah oaring paling mengetahui masalah hadits. Ibnu Wahhab: Saya tidak melihat seorangpun yang lebih mengetahui kitab Allah dari pada dia. Al_Ijli: Tsiqah, tsabit fil hadits. Ibnu Hibban: Hafizh, Mutqin. Abul Qasim al_Laalikai: Dia kaya akan tazkiyah dan merupakan orang yang sangat kokoh dalam hadits.
Dari paparan diatas, maka bisa diambil kesimpulan dia adalah pakar dalam hadits dan kualitasnya tsiqah, walaupun ia kadang memudallaskan hadits. Namun, pada hadits ini ia tidak memungkinkan memudallaskan hadits, karena yang meriwayatkan darinya perawi yang tsiqah dan ia juga meriwayatkan dari rawi yang tsiqah.
4. Ibnu Juraij
a. Nama: Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij,
b. Kunyah: Abul Walid, Abu Khalid
c. Laqab: Al-Amwa maulahum, al-makki, al-Qurasyi
d. Wafat: 150 atau 149
e. Taqbaqah: keenam
f. Mengeluarkan darinya: Bukhari, muslim, abu daud, turmidzi, nasai, ibnu majah
g. Dia tsiqah, faqih, utama, dia memudallaskan dan memursalkan hadits.
Tahdzib kamal: 2/855, tahdzib tahdzib: 6/402, 855, Taqrib Tahdzib: 1/ 520, 1324, Khulashah tahdzib kamal: 2/178, al-Kasyif: 2/210, tarikh kabir: 5/422, tarikh shaghir: 2/98, 99, 111. Jarh wa ta’dil: 5/1687, Mizanul I’tidal: 2/659, Lisanul Mizan: 7/292, Siyar a’lam: 6/325 dan hasyiah, ats-tsiqat: 7/93
h. Guru dan Murid-muridnya:
• Gurunya: Aban bin Shaleh bin ‘Amir bin ‘Abid: Abu Bakr, Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya: Abu Ishaq, Ibrahim bin Maisarah, Abu Bakr bin ‘Ubaidillah bin Abi Malikah: Abu Bakr, Abu Khalid dari ‘di bin Tsabit: Abu Khalid, Ishaq bin Abdillah bin Abi Thalhah bin Zaid bin Sahl: Abu Yahya, Isma’il bin Ibrahim bin Maqsam: Abu Basyr, Isma’il bin Umayyah bin ‘Amru bin S’id bin al_’Ash, Isma’il bin Katsir: Abu Hasyim, Isma’il bin Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqqash: Abu Muhammad, Ayyub bin Abi Tamimah Kaisan: Abu Bakr, Ayyub bin Hani’, Banaanah, Ja’far bin Khalid bin Sarah, Ja’far bin Muhammad bin ‘Ali bin al_Husein, al_Harits bin Abdirrahman bin Abdul Malik, Habib bin Abi Tsabit Qais bin Dinar: Abu Yahya, Huraiz: Abu Huraiz, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran Maimun, Sulaiman bin Abi Muslim, Mujahid, ‘Atha’, Ibnu Abi Maliikah dan lainnya.
• Muridnya: Al-Qaththan, Ruh, Hijaaj , Isma’il bin Ziyad, Isma’il bin ‘Iyasy bin Salim: Abu ‘Utbah, Anas bin’Iyadh bin Dhamrah: Abu Dhamrah, Basyar bin Manshur: Abu Muhammad, Tsaur bin Yazid bin Ziyad: Abu Khalid, Hijaj bin Muhammad: Abu Muhammad, Al_Hasan bin Muhammad bin ‘Ubaidillah, Hafsh bin Ghiyats bin Thalaq: Abu ‘Amr, Hammad bin Usamah bin Yazid: Abu Usamah, Hammad bin Yazid bin Dirham: Abu Isma’il, Hammad bin Salmah bin Dinar: Abu Usamah, Hammad bin Mas’adah: Abu Sa’id, Khalid bin al_Harits: Abu ‘Utsman, Daud bin Abdurrahman: Abu Sulaiman, Zuhair bin Muhammad, Zaid bin Hibban, Sa’id bin Salim, Sufyan bin Habib, Sufyan bin Sa’id bin Masruq, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran Maimun: Abu Muhammad, Salmah bin Sa’id bin ‘Athiyah, Sulaiman bin Hayyan: Abu Khalid, ‘Utsman bin al_Hakam, ‘Ali bin Mashar, al_Fadhl bin Musa, Muhammad bin Ja’far, Muhammad bin Khazim, Muhammad bin Rabi’ah, Muhammad bin ‘Amru, Muhammad bin Maisar, Waki’ bin al_Jarh bin Malih, Yazid bin Abdullah, Al_Walid bin Muslim, Yazid bin Harun.
• Tingkatanya: Tsiqah, kadang ia memudallaskan dan memursalkan hadits.
i. Penilaian Ulama: Yahya bin Sa’id al_Qaththan: Shadduq, Ahmad bin Hanbal: Orang yang paling kokoh, jika meriwayatkan dari ‘Atha’. Yahya bin Ma’in: Tsiqah. Al_Ijli: Tsiqah. Ibnu Hibban: Ia tsiqah, dan kadang mudallaskan hadits. Ibnu Kharrasy: Shadduq.
Dari penjabaran ulama hadits diatas, jelaslah bahwa Ibnu Juraij memiliki kredebilitas dalam hadits, bahkan menurut Ahmad bin Hanbal riwayatnya melalui ‘Atha’ adalah riwayat yang paling kokoh. Dan pada jalur ini ia meriwayatkan dari ‘Atha’, maka tidak dikeragui lagi kualitasnya dalam hal ini.
5. ‘Atha’
a. Nama: ‘Atha’ bin Abi Rabbah dan namanya adalah Aslam
b. Kunyah: Abu Muhammad
c. Laqab: al-Qarasyi, Maulahum saidul tabi’in, ahadul a’lam).
d. Wafat: 114 atau115, 117. Hidup selama 80 tahun.
e. Tabaqah: 3 atau pertengahan pada masa tabi’in
f. Mengeluarkan darinya Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmidzi, Nasa’I dan Ibnu Majah
g. Dia tsiqah, faqih, dia utama, tetapi ia banyak hadits2 mursal (lakinnahu katsirun irsaal). Dan dikatakan bahwa ia berubah diakhir kehidupannya, walam yakun dzalika minhu.
h. Terdapat di Tahdzib Tahdzib: 7/199, Tahdzib Kamal: 2/933, Taqrib Tahdzib: 2/22, Khulashah Tahdzib Kamal: 2/230, Al-Kasyif:2/265, Tarikh kabir: 6/463, Tarikh Shaghir: 1/277, Aljarh wa Ta’dil: 6/330, Mizanul I’tidal: 3/70, Lisanul mizan: 7/ 305, albidayah wa nihayah: 9/306, alhilyah: 3/310, Thabaqat Ibnu Sa’ad:2/386, 5/555, 483, 7/370, Siyar a’lam: 5/78, Ats-Tsiqat: 5/198
i. Guru dan muridnya:
• Gurunya: Meriwayatkan hadits dari: Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Syarhabil: Abu Muhammad, Ummu Karz, Iyas bin Khalifah, Aiman ibnu Ummu Aiman, Jabir bin Abdullah bin Amru bin Harram: Abu Abdillah, Habib bin Abi Tsabit Qais bin Dinar: Abu Yahya, Habibah binti Maisarah bin Abi Khutsaim: Ummu Habib, Hazam bin Hakim bin Hazam bin Khuwailid, Zakwan: Abu Shaleh, Rafi’ bin Khudaij bin Rafi’: Abu Abdillah, Zaid bin rqam bin Zaid, Zaid bin Khalid, As_Saib bin Farukh, Salim bin Syawwal, Suraqah bin Malik bin Za’syam bin Malik, Syahr bin Hausyab, Shofwan bin Umayyah bin Khalaf, Shofwan bin Abdillah bin Shofwan bin Umayyah, Shofwan bin Mauhib, A’isyah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Abdurrahman bin Auf, Jabir, Ibnu Umar, Amru bin ‘Ash, dan banyak lagi lainnya.
• Muridnya: Al-Auza’I, Ibnu Juraij, Abu Hanifah, Laits. Aban bin Shaleh bin Amir bin ‘Abid: Abu Bakr, Ibrahim bin Maimun: Abu Ishaq, Abu al_Mubarak dari ‘Atha’: Abu Mubarak, Usamah bin Zaid: Abu Zaid, Isma’il bin Ibrahim bin Abdillah, Isma’il bin Muslim, al_Aswad bin Syaiban: Abu Syaiban, Ayyub bin Abi Tamimah Kaisan: Abu Bakr, Badil bin Maisarah, Bard bin Sinan, Bakir bin Al_Akhnas, Tsabit bin ‘Ijlan, Jami’ bin Abi Rasyid, Hatim bin Abi Shaghirah, Habib bin Abi Qaribah, Habib bin Syahid, al_Husein bin Qais, Az_Zubair bin Khariq, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘imran Maimun, Sulaimn bin Abi Muslim, Abdul Malik bin Abdul ‘Aziz bin Juraij, bdul Wahid bin Salim, ‘Asl bin Sufyan, ‘Uqbah bin Abdillah, dan murid-murid lainnya yang sangat banyak.
Tingkatannya: Tsiqah, dan banyak melakukan pemursalan hadits.
j. Penilaian ulama: Abu Ja’far al_Baqir: Ambillah hadits dari ‘Atha’ semampu kalian. Yahya bin Ma’in: Tsiqah. Muhammad bin Sa’ad: Tsiqah. Abu Zur’ah al_Razi: Tsiqah. Ibnu Hibban: Ibnu Hibban menyebutkan ‘Atha’ dalam ats_Tsiqatnya.
‘Atha’ adalah perawi yang tsiqah sebagaimana yang dipaparkan ulama, dan ia juga terkenal akan ketsiqohannya, sebagaimana ia masuk dalam kitab Ats-Tsiqat Ibnu Hibban.
6. Jabir
a. Nama: Jabir bin Abdullah bin ‘Amru bin Haraam bin Tsa’labah, semoga Allah meridhainya.
b. Kunyahnya: Abu Abdillah, dan dikatakan juga Abu Abdirrahman, dan juga dikatakan Abu Muhammad.
c. Laqab: Al-Hiraami, al-Khazraji, as-Salami, al-Anshari.
d. Wafat: 73 , 77 , 78 H , ia termasuk sahabat di madinah yang terakhir meninggal.
e. Tingkatan: Sahabat. Dari 21 kali peperangan yang diikuti oleh Nabi, Jabir ikut dalam pasukan perang sebanyak 17 kali. Beliau tidak ikut peperangan karena dilarang oleh bapaknya. Dan Nabi memintakan ampun baginya selama 28 kali ketika peristiwa malam ba’ir.
f. Meriwayatkan darinya Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmidzi, Nasa’I dan Ibnu Maajah.
g. Dia adalah sahabat dan anak dari sahabat.
h. Terdapat biografnya di: Tahdzib al-Kamal: 1/179, Tahdzib Thdzib: 2/42, Taqrib Tahdzib: 1/122, Khulashah Tahdzib Kamal: 1/156, Tarikh al-Kabir: 2/207, Tarikh ash-Shaghir: 1/21, 115, 161, 190. Jarh wa Ta’dil: 2/2019, Asaadul Ghabah: 13/305, Tajrid Asma’ Ash-Shahabah: 1/73, Al-Isti’ab,: 1/219, Thabaqat Ibnu Sa’ad: 3/561, Tadzkiratul Huffadz: 1/43, Siyarul A’lam Nubala’: 3/189, Ats-Tsiqat: 3/51.
i. Guru dan Muridnya
• Guru-gurunya: Beliau meriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, Abu Bakr Ash_Shiddiq, Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Abu Ubaidah, Thalhah bin Ubaidillah, Mu’adz bin Jabal, Ammar bin Yasar, Khalid bin Walid, Abu Bardar bin Niyar, Abu Qatadah, Abu Hurairah, Abu Sa’id Abdullah bin Anis, Abu Hamid As_Sa’adi. Ummu Syarik, Ummu Malik, Ummu Mabsyir, Ummu Kultsum binti Abu Bakr Ash_Shiddiq.
• Murid-muridnya: Meriwayatkan darinya anak-anaknya, Abdurrahman, ‘Uqail, Muhammad, Sa’id bin Musayyib, Mahmud bin Labid, Abu Zubair, Amru bin Dinar, Abu Ja’far al_Baqir, Ibnu ‘Ammah, Muhammad bin Amru bin Hasan, Muhammad bin al_Mankid, Wahab bin Kaisan, Sa’id bin Mina’, Salim bin Abi Sa’d, Abu Abdurrahman al_Habli, Ubaidillah bin Maqsam, ‘Atha’ bin Abi Rabbah, Urwah bin Zubair, Mujahid dan masih banyak lagi murid-muridnya.
J. Penilaian ulama: Beliau adalah salah satu dari sahabat yang masyhur dan utama dikalangan sahabat, bahkan termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan sebagaimana telah disepakati ulama –terlepas dari pro dan kontra- bahwa seluruh sahabat itu adalah tsiqah dan ‘adil. Maka, para ulama hadits memandang bahwa tingkatan sahabat –disini termasuk Jabir bin Abdillah- adalah tingkatan yang paling tinggi dan tidak dikeragui keadilannya-sekali lagi terlepas dari pro dan kontra-. Dan Jabir adalah kibar sahabat yang sangat terkenal keilmuan dan ketqwaannya.
C. Meneliti kemungkinan syudzudz dan illah
Dalam banyak riwayat, hanya Abdullah bin Jabir sendiri yang meriwayatkan hadis yang menjelaskan tentang al-‘araayaa, bahkan bisa dikatakan dominan hadis ini adalah riwayat beliau. Namun, peneliti menemukan satu riwayat yang berasal dari Ibnu Umar, Ibnu ‘Abbas dan bersamaan dengan Jabir yang meriwayatkan hadis yang terkait dengan al-‘araayaa. Kemudian para mukharrij hadis lain selain Abu Dawud juga meriwayatkan dari Jabir. Sehingga hadis ini terdapat banyak sekali riwayat, sehingga secara kuantitas memiliki derajat ahad, dan secara kualitas memiliki nilai shahih, karena perawi-perawinya yang terpercaya dan ketersambungan sanadnya. Namun, ada satu jalur melalu mukharrij an-Nasai, hadis no.3823, disana terdapat rawi yang mubham. Namun, riwayat tersebut tidak menyebabkan hadis yang lainnya menjadi lemah, karena ia hanya sebagai syahid penguat hadis riwayat Abu Dawud yang sedang diteliti.
Dalam berbagai riwayat memang terdapat Sufyan bin ‘Uyainah, yangmana banyak kritikus yang mengatakan bahwa beliau kadang mudallas hadits. Namun, dalam kasus hadis ini, tidak mungkin ia memudallaskan hadis, karena ada banyak perawi yang tsiqah yang telah meriwayatkan hadits darinya, maka hal itu sudah cukup untuk dikatakan ghairu syadz wa ghairu ‘illah.
Setelah melakukan i’tibar, antara matan yang ditakhrij oleh Imam Bukhari, Muslim, Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Turmidzi tidak ada perbedaan yang signifikan, hanya berbeda dalam penggunaan kata حتى يبدو صلاحه, تُشَقِّحَ, حَتَّى يَطِيبَ, حَتَّى تُطْعِمَ, حَتَّى تُشْقِهَ, قَبْلَ أَنْ يُطْعَمَ dan ada beberapa tambahan-tambahan dalam beberapa riwayat, yang sama sekali tidak mengurangi makna yang dimaksud, bahkan tambahan dan perbedaan tersebut saling melengkapi dan saling menafsirkan satu sama lainnya, sehingga maknya lebih konfrehensif dan mudah dipahami.
Dari paparan dan alasan-alasan diatas, maka bisa dikatakan bahwa kemungkinan syadz dan illah sangat kecil sekali, bahkan sudah cukup dianggap ghairu syadz wa illah, karena periwayatnya berkualitas tsiqah.
D. Kesimpulan
Dilihat dari segi jumlah periwayatannya, hadits ini tergolong hadits ahad. Karena diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, Turmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad lewat Jabir. Sedangkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu ‘Umar hanya diriwayatkan oleh Ahmad . Namun, secara makna hadis ini sudah masyhur dikalangan ahli hadits dan ahli fikih.
Dari segi persambungan sanadnya, menurut informasi riwayat hidup rijal antara satu perawi dengan yang lainnya saling bertemu. Hal ini dapat dilihat dari masing-masing tahun wafatnya, dan juga mereka memiliki hubungan guru dan murid, sehingga hal itu memastikan bahwa mereka bertemu. Sedangkan dilihat dari sighat tahammul wal adaa’nya, mereka memakain حدثنا عن سمعت, sehingga kemungkina pada riwayat Abu Dawud ini riwayatnya iittishal, sehingga haditsnya bisa diterima-terlepas dari hadisnya ma’mul bih atau ghairu ma’mul bih-, karena perawinya tsiqah.
Berdasarlan argumentasi-argumentasi diatas, ditinjau dari segi persambungan sanadnya, kualitas pribadi periwayatnya, dan terhindarnya dari syudzudz dan illah, maka hadis ini termasuk hadis ahad yang berkualitas shahih. Wallahu’lam bi ash-shawwab.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maktabah Asy-Syamilah
Al_Asqalani, Ibnu Hajar, Tahzib al_Tahdzib, Beirut: Dar al_Fikr, t.t.
____________________, Al_Ishaabah fi Tamyiz ash_Shahaabah: Dar Kutub Ilmiah, Beirut, 1995.
Al_Mizzi, Abu al_Hajjaj Yusuf bin al_Zaki, Tahzib al_Kamal, Beirut: Dar al_Fikr, 1994.
Al-Bandaari, ‘Abdul Ghaffar Sulaiman dan Said Kurdi Hasan Mausuu’ah Rijal al-Kutub at-Tis’ah.. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah. Beirut. 1993. Jilid. 1.
Al-Dzahabi, Al-Kasif fi Ma’rifati man Lahu Riwaayah fil Kutub As-Sittah: Beirut, Dar al-Kutub al_Hadiitsah, 1978, Jilid II, hlm. 210-211
_________, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad, Siyar al-A’lam al-Nubala, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1990
Al-Bukhari, Imam Kitab Tarikh al_Kabir : Beirut, Dar Kutub Ilmiyah, 1995. jilid 2.
CD Rom, Mausu’ah al_Hadits al_Syarif, 1999.
Daud, Abu, Sunan Abu Daud, pentahqiq, Sidqi Muhammad Jamil, Beirut: Dar al-Fikr, 1994.
Hibban, Ibnu, Kitab bats-Tsiqat li Ibni Hibban: al_Dar as_Salafiyah, India, 1988, cet. 2.
Mubarak, Faishal Abdul Aziz Ali, Nailul Authar, terj.: Bina Ilmu, Jakarta. Jilid. 4. tt.
Wensinck, Al_Mu’jam al_Mufahras li Al_Faazhil hadits an_Nabawi ‘anil kutub as_Sittah wa ‘an Musnad ad_Darimi, wa Muwaththa’ Malik, wa Musnad Ahmad bin Hanbal:, terj. Muhammad Fu’ad Abdul Baqi: Brill, Leiden, 1962.
KITAB BUYU’ NO. 3373 / 2929
bY: Yuldi Hendri
A. Teks Hadits Abu Dawud, Kitab Buyu’, No. 2929
حدثنا إسحاق بن إسماعيل الطالقاني ثنا سفيان عن ابن جريج عن عطاء عن جابر
أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الثمر حتى يبدو صلاحه ولا يباع إلا بالدينار أو بالدرهم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isma’il at-Thalaqany, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, dari Jabir, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alahi Wasallam melarang menjual buah-buahan diatas pohon sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya.
Hadits ini diriwayatkan dari berbagi jalur yang memiliki makna hadits yang setema . Diantaranya adalah: Sehingga disini penelitian takhrij dengan berbagai pendekatan, yaitu metode no. hadits pada mausu’ah, mencari kata yang semakna pada al-maktabah asy-syamilah dengan menulis kata al-‘araayaa, kemudian juga dengan cara manual dengan melihat kitab Al-Mu’jam al_Mufahras li Al_Faazhil hadits an_Nabawi ‘anil kutub as_Sittah wa ‘an Musnad ad_Darimi, wa Muwaththa’ Malik, wa Musnad Ahmad bin Hanbal, sehingga didalam penelitian ini terdapat banyak hadits yang terkait dengan hadits riwayat Abu Dawud no. 2929. Namun, pada I’tibar sanadnya nanti, yang ditampilkan hanya riwayat takhrij dalam CD Masu’ah saja. Hadits-haditsnya sebagai berikut:
حدثنا يحيى بن سليمان حدثنا ابن وهب أخبرنا ابن جريج عن عطاء وأبي الزبير عن جابر رضي الله عنه قال
نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن بيع الثمر حتى يطيب ولا يباع منه إلا بالدينار والدرهم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahhab, telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij, dari ‘Atha’ dan Abu Zubair, dari Jabir semoga Allah meridhainya, ia berkata:” Nabi Shalallahu ‘Alahi Wasallam melarang menjual buah-buahan di atas pohon sehingga baik, dan tidak boleh dijual dari buah-buahan itu kecuali dengan uang kontan (dinar dan dirham, kecuali al-‘arrayaa.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ سَلِيمِ بْنِ حَيَّانَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَا قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُبَاعَ الثَّمَرَةُ حَتَّى تُشَقِّحَ فَقِيلَ وَمَا تُشَقِّحُ قَالَ تَحْمَارُّ وَتَصْفَارُّ وَيُؤْكَلُ مِنْهَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Salim bin Hayyan, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Mina, ia berkata, saya mendengar Jabir bin Abdullah semoga Allah meridhai keduanya, ia berkata:” Rasulullah melarang menjual tamar sehingga dapat dimakan, maka ditanyakan, dan apakah tanda ia sudah bisa dimakan? Ia berkata:” Sudah berwarna merah, dan kuning, dan telah dimakan darinya.
حدثنا عبد الله بن محمد حدثنا ابن عيينة عن ابن جريج عن عطاء سمع جابر بن عبد الله رضي الله عنهما
: نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن المخابرة والمحاقلة وعن المزابنة وعن بيع الثمر حتى يبدو صلاحها وأن لا تباع إلا بالدينار والدرهم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, mendengar dari Jabir bin Abdullah semogaAllah meridhai keduanya:” Nabi melarang menjual buah-buahan dengan cara al_mukhaabarah, al-muhaaqalah dan al-muzaabanah sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ ح و حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى أَوْ نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَطِيبَ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Khaitsamah, dari Abu Zubair, dari Jabir{ dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Abu Zubair, dari Jabir}, ia berkata:” Melarang atau Rasulullah melarang kami menjual buah-buahan hingga ia jelas baiknya (bisa dimakan).
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ النَّوْفَلِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا رَوْحٌ قَالَا حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ إِسْحَقَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُا نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهُ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Utsman an_Naufali, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim {dan telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Hatim dan lafazh baginya, telah menceritakan kepada kami Ruh, ia berkata telah menceritakan kepada kami Zakariya bin Ishaq, telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Dinar, bahwasanya ia mendengar Jabir bin Abdullah berkata:” Rasulullah melarang menjual buah-buahan hingga jelas jadinya.
حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة ومحمد بن عبدالله بن نمير وزهير بن حرب قالوا جميعا حدثنا سفيان بن عيينة عن ابن جريج عن عطاء عن جابر بن عبدالله قال
: نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن المحاقلة والمزابنة والمخابرة وعن بيع الثمر حتى يبدو صلاحه ولا يباع إلا بالدينار والدرهم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Ghamir dan Zuhair bin Harb, mereka berkata telah menceritakan kepada kami Syufyan bin ‘Uyainah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, dari Jabir bin Abdillah, ia berkata:” Nabi melarang menjual buah-buahan dengan cara al_mukhaabarah, al-muhaaqalah dan al-muzaabanah sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ الْجَزَرِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تُطْعِمَ وَلَا تُبَاعُ إِلَّا بِالدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ إِلَّا الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim al_Hanzhali, telah mengkhabarkan kepada kami Makhlad bin Yazid al_Jazari, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah mengkhabarkan kepadaku ‘Atha’, dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Rasulullah melarang al_mukhaabarah, al_muhaaqalah dan al_muzaabanah dan menjual buah-buahan hingga ia bisa dimakan, dan dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya.
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي خَلَفٍ كِلَاهُمَا عَنْ زَكَرِيَّاءَ قَالَ ابْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ عَدِيٍّ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الْمَكِّيُّ وَهُوَ جَالِسٌ عِنْدَ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَأَنْ تُشْتَرَى النَّخْلُ حَتَّى تُشْقِهَ وَالْإِشْقَاهُ أَنْ يَحْمَرَّ أَوْ يَصْفَرَّ أَوْ يُؤْكَلَ مِنْهُ شَيْءٌ وَالْمُحَاقَلَةُ أَنْ يُبَاعَ الْحَقْلُ بِكَيْلٍ مِنْ الطَّعَامِ مَعْلُومٍ وَالْمُزَابَنَةُ أَنْ يُبَاعَ النَّخْلُ بِأَوْسَاقٍ مِنْ التَّمْرِ وَالْمُخَابَرَةُ الثُّلُثُ وَالرُّبُعُ وَأَشْبَاهُ ذَلِكَ قَالَ زَيْدٌ قُلْتُ لِعَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ أَسَمِعْتَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَذْكُرُ هَذَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Ahmad bin bin Abi Khalaf, keduanya dari Zakariya, ia berkata, Ibnu Khalaf, telah menceritakan kepada kami Zakariya bin ‘Adi, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaidullah bin Zaid bin Abi Unaisah, telah menceritakan kepada kami Abul Walid al_Makki, dan ia duduk disamping ‘Atha’ bin Abi Rabbah, dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Rasulullah melarang jual beli dengan cara al_muhaalaqah, al-muzaabanah dan al_mukhaabarah dan melarangmembeli kurmasehingga dapat dimakan. Jabir berkata: Dan al_Isyqah itu adalah kurma yang telah nampak menjadi merah dan menguning atau dapat dimakan, muhaalaqah yaitutanaman yang dijual dengan takaran makanan yang tertentu, muzaabanah yaitu pohon kurma yang dijual dengan beberapa gantang kurma, dan mukhaabarah yaitu perjanjian bagi hasil dengan sepertiga atau seperempat dsb. Zaid berkata, aku pernah bertanya kepada Atha’: Pernahkah engkau mendengar Jabir menyebut masalah ini dari Rasulullah? Ia menjawab: Ya.
و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هَاشِمٍ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا سَلِيمُ بْنُ حَيَّانَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُزَابَنَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تُشْقِحَ قَالَ قُلْتُ لِسَعِيدٍ مَا تُشْقِحُ قَالَ تَحْمَارُّ وَتَصْفَارُّ وَيُؤْكَلُ مِنْهَا
Artinya: Dan telah mnceritakan kepada kami Abdullah bin Hasyim, telah menceritakan kepada kami Bahzun, telah menceritakan kepada kami Salim bin Hayyan, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Mina’, dari Jabir bin Abdulah berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang al_muzaabanah, al_muhaaqalah dan al_mukhaabarah dan melarang menjual buah-buahan hingga bisa dimakan, dan ia berkata, aku berkata kepada Sa’id apakah Tusyqih? Ia berkata, buah itu sudah menjadi merah dan kuning, dan sudah dimakan darinya.
حدثنا محمد بن منصور قال حدثنا سفيان عن بن جريج عن عطاء سمعت جابر بن عبد الله عن النبي صلى الله عليه وسلم : أنه نهى عن المخابرة والمزابنة والمحاقلة وأن يباع الثمر حتى يبدو صلاحه وأن لا يباع إلا بالدنانير والدراهم ورخص في العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Manshur, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, saya mendengar Jabir bin Abdullah, dari Nabi Shalllahu ‘Alaihi Wasallam: Bahwasanya ia melarang menjual buah-buahan dengan cara al-mukhabarah, al-muzabanah dan al-muhalaqah sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) dan memberi keringanan pada al-‘araaya.
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ الْجَزَرِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تُطْعِمَ وَلَا تُبَاعُ إِلَّا بِالدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ إِلَّا الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali, telah mengkhabarkan kepada kami Makhlad bin Yazid al-Jazari, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah mengkhabarkan kepadaku ‘Atha’, dari Jabir bin ‘Abdillah bahwasanya Rasululah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al-mukhabarah, al-muzabanah dan al-muhalaqah sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya.
أخبرنا قتيبة قال حدثنا المفضل عن بن جريج عن عطاء وأبي الزبير عن جابر : أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن المخابرة والمزابنة والمحاقلة وبيع الثمر حتى يطعم إلا العرايا
Artinya: Telah mengkhabakan kepada kami Qutaibah, ia berkata, telah bercerita kepada kami Al-Mufadhdhal, dari IIbnu Juraij, dari ‘Atha’ dan Abu Zubair, dari Jabir: Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al-mukhabarah, al-muzabanah dan al-muhalaqah sehingga bisa dimakan, kecuali al-‘araayaa.
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ النَّخْلِ حَتَّى يُطْعَمَ
Artinya: Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul A’la, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Khalid, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Abu Zubair, dari Jabir, ia berkata:” Rasulullah melarang menjual kurma sehingga dapat dimakan.
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ قَبْلَ أَنْ يُطْعَمَ وَعَنْ بَيْعِ ذَلِكَ إِلَّا بِالدَّنَانِيرِ وَالدَّرَاهِمِ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Muhammad, ia berkata telah menceritakan kepada kamiMakhlad bin Yazid, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Atha’, dari Jabir, bahwasanya Rasulullah melarang jual beli dengan cara al_mukhaabarah, al_muzaabanah dan al_muhaalaqah, dan melarang menjual buah-buahan sebelum ia bisa dimakan, dan jual beli demikian itu dilarang kecuali dengan dirham dan dinar (secara kontan).
أَخْبَرَنَا الثِّقَةُ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ مَسْعَدَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَاضَرَةِ وَقَالَ الْمُخَاضَرَةُ بَيْعُ الثَّمَرِ قَبْلَ أَنْ يَزْهُوَ وَالْمُخَابَرَةُ بَيْعُ الْكَرْمِ بِكَذَا وَكَذَا صَاعٍ خَالَفَهُ عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ فَقَالَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ats-Tsiqah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Mas’adah, dari Hisyam bin Abi Abdillah, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Jabir bin Abdillah, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang jual beli dengan cara al_muzaabanah, dan al_mukhaadharah. Dan berkata al_mukhaadharah adalah menjual buah sebelum nyata jadinya, dan al_mukhaabarah adalah menjual pohon anggur dengan ini (perjanjian bagi hasil sepertiga, seperempat dsb),dan demikianlah penakaran yang diselisihi Amru bin Abi Salamah, maka ia berkata, dari Bapaknya, dari Abu Hurairah.
أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَجَابِرٍ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهُ وَنَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ كِرَاءِ الْأَرْضِ بِالثُّلُثِ وَالرُّبُعِ رَوَاهُ أَبُو النَّجَاشِيِّ عَطَاءُ بْنُ صُهَيْبٍ وَاخْتُلِفَ عَلَيْهِ فِيهِ
Artinya: Telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari Amru bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar dan Jabir, Rasulullah melarang menjual buah-buahan hingga jelas jadinya, dan melarang jual beli al_mukhaabarah, dengan melakukan perjanjian bagi hasil sepertiga dan seperempat. Meriwaytkannya An_Najasyi ‘Atha’ bi Shuhaib, dan terjadi perbedaan padanya.
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهُ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Ammar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, dari Jabir, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan hingga jelas jadinya.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَالْمُعَاوَمَةِ وَرَخَّصَ فِي الْعَرَايَا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhab at_Taqafi, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Zubair, dari Jabir, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al_muhaaqalah,al_muzaabanah dan al_mukhaabarah dan al_mu’aawamah dan memberi keringanan pada al_’araaya.
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنِي شِبْلٌ قَالَ سَمِعْتُ عَمْرَو بْنَ دِينَارٍ يَقُولُ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَابْنِ عُمَرَ وَابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهُ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Harits , telah menceritakan kepadaku Syiblun, ia berkata, saya mendengar Amru bin Dinar berkata, dari Jabir bin Abdullh dan Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan sehingga jelas jadinya.
حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا قتيبة حدثنا المفضل بن فضالة عن بن جريج عن عطاء وأبي الزبير عن جابر : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن المخابرة والمزابنة والمحاقلة وبيع الثمر حتى يطعم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kamiAbdullah, telah menceritakan kepada saya Bapak saya, telah mencritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Mufadhdhal bin Fadhaalah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’ dan Abu Zubair, dari Jabir: Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al-mukhabarah, al-muzabanah dan al-muhalaqah sehingga bisa dimakan, kecuali al-‘araayaa.
حَدَّثَنَا أَبُو سَعْدٍ الصَّاغَانِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ مُيَسَّرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَأَنْ يُبَاعَ الثَّمَرُ حَتَّى يُطْعَمَ إِلَّا بِدَنَانِيرَ أَوْ دَرَاهِمَ إِلَّا الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id ash_Shaaghaani Muhammad bin Muyassar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Abu Zubair, dari Jabir, ia berkata, Rasulullah melarang berjualan dengan cara al_muhaaqalah, al_muzaabanah, al_mukhaabarah, dan dijualnya buah-buahan sehingga ia bisa dimakan, kecuali dengan dinar dan dirham (kontam), kecuali al_’araaya.
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا الْمُفَضَّلُ بْنُ فَضَالَةَ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ وَأَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَبَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يُطْعَمَ إِلَّا الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami al-Mufadhdhal bin Fadhaalah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’ dan Abu Zubair, dari Jabir, bahwasanya Rasulullah Shlallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al_mukhaabarah, al_muzaabanah dan al_muhaaqalah dan menjual buah-buahan sehingga ia bisa dimakan, kecuali al_’araaya.
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَالْمُعَاوَمَةِ وَالثُّنْيَا وَرَخَّصَ فِي الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Isma’il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Zubair, dari Jabir, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang berjualan dengan cara al_muhaaqalah, al_muzaabanah, al_mukhaabarah dan ats_tsuna, dan memberikan keringanan pada al_’araayaa.
B. Meneliti Kualitas Riwayat dan Persambungan Sanad
(1) Skema Sanad Hadits
Sanad hadits pada jalur Abu Dawud yang akan diteliti:
محمد
جابر
عن
عطاء
عن
عبدالملك
عن
سفيان بن عيينة
حدثنا
اسحاق
حدثنا
ابوداود
Urutan nama periwayat jalur Abu Dawud adalah:
1. Periwayat I : Jabir bin Abdillah
2. Periwayat II : ‘Atha’ bin Abi Rabbah
3. Periwayat III : Ibnu Juraij
4. Periwayat IV : Sufyan bin ‘Uyainah
5. Periwayat V : Ishaq bin Isma’il Ath-Thalaqani
6. Periwayat VI : Abu Dawud
(2) Meneliti kualitas periwayat dan persambungan sanadnya pada jalur Abu Dawud
1. Abu Dawud
a. Nama lengkapnya: Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Imran al-Azdi al_Sijistani
b. Lahirnya di Sijistan –suatu kota di Bashrah- pada tahun 202 H. Dan meninggal pada tahun 275 di al_Sijistani pada umur 73 tahun, tepatnya pada tanggal 16 Syawal 275 H di Bashrah.
c. Guru dan Muridnya
• Guru-gurunya diantaranya adalah: Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Yahya bin Ma’in (w. 233 H), Muslim bin Ibrahim (w. 222 H), ‘Amr bin Aun al_Najili (w. 225 H), Musaddad bin Musarhad al-Asadi (w. 228 H), Abdullah bin Maslamah al_Qa’nabi (w. 221 H), Abu Utsman ‘Amr bin Marzuki al-Bahili (w. 224 H), Ishaq bin Isma’il Ath_Thalaqani (w. 225 H). Muhammad bin Auf bin Sufyan (w. 262 H), Ibrahim bin Musa bin Yazid al_Tamimi (w. 225 H), Abdullah bin Ahmad al_Napili (w. 234 H), Qutaibah bin Sa’id al_Saqafi (w. 240), dan lainnya. .
• Murid-muridnya diantaranya: Muhammad bin ‘Isa al_Turmuzi (w. 274 H), Ahmad bin Salman al_Najd, Isma’il bin Muhammad al_Safar, Muhammad bin Mukhallid, Ali bin Husein bin al_Abid, Ahmad bin Muhammad bin Harun al_Khalal, An_Nasa’I (w. 334 H), Abdullah bin Sulaiman bin al_Asy’as.
d. Penilaian ulama hadits terhadap Abu Dawud:
• Al_Hakim berkata: “Abu Dawud adalah imam ahli hadits pada zamannya, tidak ada yang menyamainya”.
• Abu Hatim bin Hibban berkata:” Abu Dawud adalah seorang imam dunia dalam bidang fikqih, ilmu, hapalan, dan ibadah. Beliau telah mengumpulkan hadits-hadits hukum dan tegak mempertahankan sunnah”.
• Maslamah bin Qasim berkata:” Dia adalah tsiqah, seorang zahid, mempunyai ilmu pengetahuan tentang hadits, seorang imam pada zamannya”.
• Musa bin Harun berkata:” Abu Dawud diciptakan di dunia untuk hadits dan di akhirat untuk surga. Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih utama dari dia”.
• Ahmad bin Muhammad bin Yasin al_Harawi berkata:” Abu Dawud adalah salah seorang hafiz dalam bidang hadits, yang memahami hadits beserta illat dan sanadnya, dia mempunyai derajat yang tinggi dalam beribadah, kesucian, diri, ke_shahih_an dan ke_wara’_an.
Keseluruhan penilaian ulama terhadap Abu Dawud diatas, menunjukkan kepakaran Abu Dawud dalam bidang hadits.
2. Ishaq bin Isma’il Ath_Thalaqani
a. Nama : Ishaq bin Isma’il Ath-Thalaqany
b. Kunyah : Abu Ya’qub
c. Laqab : Ath-Thaalaqaani, al-Yatiim, al-Baghdaadi
d Wafat : 225 H. Al-Baghawi mengatakan bahwa Ishaq bin Ismai’l meninggal tahun 230 bulan ramadhan, namun biasa tertulis akan kematiannya adalah 225. Ibnu Hibban mengatakan Ishaq meninggal 225. Ia semasa dengan Hisyam bin Ammaar bin ad-Dimasyqi. Ishaq semasa dengan Ibnu ‘Uyainah, Syu’bah, Abu Mu’awiyah, Abdah, Muhammad bin Yazid, Ali bin Mishar.
e. Data-data tentang Ishaq bin Ismail bisa didapatkan di: Tahdzib al-Kamal: 1/82. Tahdzib at-Tahdzib 1/226. Taqrib at-Tahdzib: 1/56. Khulaashah tahdzib al-Kamal: 1/ 71. Al-Kaashif: 1/108. Al-Jarh wa at-Ta’dil: 2/212. Ats-Tsiqaat: 8/113. Al-Waafi bil Wafiyaat: 8/404. Majma’: 3/147, 8/106. Taarikh al-Baghdad: 6/334. Thabaqah: 10/ al-‘Aasyirah
f. Yang meriwayatkan darinya: Abu Dawud
g. Guru dan muridnya:
• Gurunya: Jarir, Ibnu ‘Uyainah, Abu Usamah, ‘Abdah bin Sulaiman, Abu Mu’awiyah, Mu’tamar bin Sulaiman, Yazid bin Harun. Ibrahim bin ‘Uyainah, Jarir bin Abdul Hamid al-Razi, Hatim bin Wardan al-Bashari, Husain bin Ali al-Ja’fi, Hikam bin Salam al-Razi, Abu Usamah, Hamad bin Usamah, Sufyan bin ‘Uyainah, Sulaiman bin Hikam bin Uwanah al-Kalabi, Abdurrahman bin Sa’ad bin Umaar al-Mu’adzin dan Abdah bin Sulaiman, ‘Utsam bin Ali al-‘Amiri, ‘Adi bin Fadhil, Abu Daud Umar bin Saad al-Hafri, Isa bin Yunus, Abu Mu’awiyah, Muhammad bin ‘Abid, Muhammad bin Fadhil, Mu’tamar bin Sulaiman, Waki’ bin Jarrah.
• Muridnya : Abu Dawud, Ya’qub bin Syaibah, Ali bin Abdul ‘Aziz, Abu Ya’la, Ibnu Abi Dunya, al-Baghawi, dan selainnya. Muhammad bin Sai’ al-Ashbahani, Utsman bin Syaibah dan Abu Bakar bin Syaibah, Ibrahim bin Musa. Muhammad bin Muslim. Al-Auza’i.
h. Penilaian ulama: Dia tsiqah, berbicara pada hal-hal yang ia dengar dari Jarir secara sendiri. Abu Abdillah: Tidaklah yang saya tau tentang Ishaq bin Ismail kecuali kebaikan, dan ia membawa riwayat yang ia hafal, Ya’qub bin Syaibah: Ia stiqah dan kokoh, Ibnu Ma’in: Stiqah, Abu Dawud dan Daruquthni: Tsiqah, Utsman bin Kharzadz: Tsiqah tsiqah, Ibnu Hibban: Tsiqah, Ibnu Mai’n: La baks, shadduq. Ibnu Ma’in: saya berharap ia shadduq, la baksa bihi shaduq. Yahya: Tidak apa-apa. Ibnu Syaibah: Ishaq adalah tsiqah dan ia lebih kokoh dari utsman dalam periwayatan walaupun mereka sama-sama tsiqah, dan kadang Yahya bin Ma’in mentsiqahkannya tidak menshadduqkan. Ibnu Adi: Ishaq bin Ismail: Tsiqah. Utsman bin Kharzadz: Ishaq tsiqah tsiqah. Daruquthni: Ishaq tsiqah. Apa yang ada padanya baik, Yahya bin Aktsam: terpercaya.
Dari penilaian para ulama diatas, maka bisa disimpulkan bahwa Ishaq bin Isma’il ath_Thalaqani orang yang terpercaya dan pakar dalam hadits.
3. Sufyan Bin ‘Uyainah
a. Nama: Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran maimun
b. Kunyah: Abu Muhammad
c. Laqab: Al-Hilali, al-Kufi, al-makki
d. Wafat: 198 bulan rajab, umurnya 91 tahun
e. Tingkatan: Dia pemimpin tingkatan ke delapan (ruus ats-tsaminah)
f. Yang mengeluarkan darinya: Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmidzi, Nasai dan Ibnu Majah,
Ia tsiqah, hafizh, faqih, imam hujjah, tapi ia berubah pada akhir hidupnya dan kadang memudallaskan hadits , tetapi dari para perawi tsiqah, dan ia adalah orang yang paling tsabit pada riwayat Amru bin Dinar
g. Bisa dilihat pada: Tahdzib tahdzib:4/117, Tahdzib kamal: 1/514, taqrib tahdzib: 1/312, Khulashah Tahdzib Kamal: 1/397, al-Kasyif: 1/379, tarikh kabir: 4/94, jarh wa ta’dil: 4/973, 1/32, mizanul I’tidal: 2/170, thabaqat Ibnu Sa’ad: 9/83, Al-Bidayah wa nihayah: 10/205, 218, 239, 244, , al-Wafi bil wafiyaat: 15/281, al-hilyah: 7/270, siyarul a’lam: 8/454, daiwanul a’lam: 1104, ats-tsiqat: 6/403.
h.Guru dan muridnya:
• Gurunya: Abaan bin Taghlab, Ibrahim bin ‘Uqbah bin Abi ‘abbas, Ibrahim bin Muhammad bin al_Muntasyir bin al_Ajda’, Ibrahim bin Muslim, Ibrahim bin Maisarah, Ajla’ bin Abdillah bin hujjiyah, Ahwash bin hakam bin ‘Amir, Isra’il bin Musa, Abdul Malik bin Abdul ‘Aziz bin Juraij, Isma’il bin Abi Khalid, Isma’il bin Muslim, Al_Aswad bin Qais, Ayyub bin Musa, Baasyir bin Sulaiman, Bayaan bin Basyir, Hazuur, al_Hakam bin abaan, Khalid bin Mahran.
• Muridnya: Ibrahim bin Basyaar, Ibrahim bin Dinar, Ibrahim Sa’id, Muhammad bin ‘Abbas, Mandzur bin Abdillah, Ahmad bin Tsabit, Ahmad bin al_Hijaaj, Ishaq bin Isma’il ath_Thalaqani, Ahmad bin Shalihh, Isma’il bin Salim, Isma’il bin Musa, Harun bin Ma’ruf, Muhammad bin Sulaiman bin Habib.
i. Penilaian ulama: Syafi’i: Kalau bukan karena Malik dan Sufyan, maka akan hilang ilmu di Hijaz. Ibnu Mahdi: Dia adalah oaring paling mengetahui masalah hadits. Ibnu Wahhab: Saya tidak melihat seorangpun yang lebih mengetahui kitab Allah dari pada dia. Al_Ijli: Tsiqah, tsabit fil hadits. Ibnu Hibban: Hafizh, Mutqin. Abul Qasim al_Laalikai: Dia kaya akan tazkiyah dan merupakan orang yang sangat kokoh dalam hadits.
Dari paparan diatas, maka bisa diambil kesimpulan dia adalah pakar dalam hadits dan kualitasnya tsiqah, walaupun ia kadang memudallaskan hadits. Namun, pada hadits ini ia tidak memungkinkan memudallaskan hadits, karena yang meriwayatkan darinya perawi yang tsiqah dan ia juga meriwayatkan dari rawi yang tsiqah.
4. Ibnu Juraij
a. Nama: Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij,
b. Kunyah: Abul Walid, Abu Khalid
c. Laqab: Al-Amwa maulahum, al-makki, al-Qurasyi
d. Wafat: 150 atau 149
e. Taqbaqah: keenam
f. Mengeluarkan darinya: Bukhari, muslim, abu daud, turmidzi, nasai, ibnu majah
g. Dia tsiqah, faqih, utama, dia memudallaskan dan memursalkan hadits.
Tahdzib kamal: 2/855, tahdzib tahdzib: 6/402, 855, Taqrib Tahdzib: 1/ 520, 1324, Khulashah tahdzib kamal: 2/178, al-Kasyif: 2/210, tarikh kabir: 5/422, tarikh shaghir: 2/98, 99, 111. Jarh wa ta’dil: 5/1687, Mizanul I’tidal: 2/659, Lisanul Mizan: 7/292, Siyar a’lam: 6/325 dan hasyiah, ats-tsiqat: 7/93
h. Guru dan Murid-muridnya:
• Gurunya: Aban bin Shaleh bin ‘Amir bin ‘Abid: Abu Bakr, Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya: Abu Ishaq, Ibrahim bin Maisarah, Abu Bakr bin ‘Ubaidillah bin Abi Malikah: Abu Bakr, Abu Khalid dari ‘di bin Tsabit: Abu Khalid, Ishaq bin Abdillah bin Abi Thalhah bin Zaid bin Sahl: Abu Yahya, Isma’il bin Ibrahim bin Maqsam: Abu Basyr, Isma’il bin Umayyah bin ‘Amru bin S’id bin al_’Ash, Isma’il bin Katsir: Abu Hasyim, Isma’il bin Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqqash: Abu Muhammad, Ayyub bin Abi Tamimah Kaisan: Abu Bakr, Ayyub bin Hani’, Banaanah, Ja’far bin Khalid bin Sarah, Ja’far bin Muhammad bin ‘Ali bin al_Husein, al_Harits bin Abdirrahman bin Abdul Malik, Habib bin Abi Tsabit Qais bin Dinar: Abu Yahya, Huraiz: Abu Huraiz, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran Maimun, Sulaiman bin Abi Muslim, Mujahid, ‘Atha’, Ibnu Abi Maliikah dan lainnya.
• Muridnya: Al-Qaththan, Ruh, Hijaaj , Isma’il bin Ziyad, Isma’il bin ‘Iyasy bin Salim: Abu ‘Utbah, Anas bin’Iyadh bin Dhamrah: Abu Dhamrah, Basyar bin Manshur: Abu Muhammad, Tsaur bin Yazid bin Ziyad: Abu Khalid, Hijaj bin Muhammad: Abu Muhammad, Al_Hasan bin Muhammad bin ‘Ubaidillah, Hafsh bin Ghiyats bin Thalaq: Abu ‘Amr, Hammad bin Usamah bin Yazid: Abu Usamah, Hammad bin Yazid bin Dirham: Abu Isma’il, Hammad bin Salmah bin Dinar: Abu Usamah, Hammad bin Mas’adah: Abu Sa’id, Khalid bin al_Harits: Abu ‘Utsman, Daud bin Abdurrahman: Abu Sulaiman, Zuhair bin Muhammad, Zaid bin Hibban, Sa’id bin Salim, Sufyan bin Habib, Sufyan bin Sa’id bin Masruq, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran Maimun: Abu Muhammad, Salmah bin Sa’id bin ‘Athiyah, Sulaiman bin Hayyan: Abu Khalid, ‘Utsman bin al_Hakam, ‘Ali bin Mashar, al_Fadhl bin Musa, Muhammad bin Ja’far, Muhammad bin Khazim, Muhammad bin Rabi’ah, Muhammad bin ‘Amru, Muhammad bin Maisar, Waki’ bin al_Jarh bin Malih, Yazid bin Abdullah, Al_Walid bin Muslim, Yazid bin Harun.
• Tingkatanya: Tsiqah, kadang ia memudallaskan dan memursalkan hadits.
i. Penilaian Ulama: Yahya bin Sa’id al_Qaththan: Shadduq, Ahmad bin Hanbal: Orang yang paling kokoh, jika meriwayatkan dari ‘Atha’. Yahya bin Ma’in: Tsiqah. Al_Ijli: Tsiqah. Ibnu Hibban: Ia tsiqah, dan kadang mudallaskan hadits. Ibnu Kharrasy: Shadduq.
Dari penjabaran ulama hadits diatas, jelaslah bahwa Ibnu Juraij memiliki kredebilitas dalam hadits, bahkan menurut Ahmad bin Hanbal riwayatnya melalui ‘Atha’ adalah riwayat yang paling kokoh. Dan pada jalur ini ia meriwayatkan dari ‘Atha’, maka tidak dikeragui lagi kualitasnya dalam hal ini.
5. ‘Atha’
a. Nama: ‘Atha’ bin Abi Rabbah dan namanya adalah Aslam
b. Kunyah: Abu Muhammad
c. Laqab: al-Qarasyi, Maulahum saidul tabi’in, ahadul a’lam).
d. Wafat: 114 atau115, 117. Hidup selama 80 tahun.
e. Tabaqah: 3 atau pertengahan pada masa tabi’in
f. Mengeluarkan darinya Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmidzi, Nasa’I dan Ibnu Majah
g. Dia tsiqah, faqih, dia utama, tetapi ia banyak hadits2 mursal (lakinnahu katsirun irsaal). Dan dikatakan bahwa ia berubah diakhir kehidupannya, walam yakun dzalika minhu.
h. Terdapat di Tahdzib Tahdzib: 7/199, Tahdzib Kamal: 2/933, Taqrib Tahdzib: 2/22, Khulashah Tahdzib Kamal: 2/230, Al-Kasyif:2/265, Tarikh kabir: 6/463, Tarikh Shaghir: 1/277, Aljarh wa Ta’dil: 6/330, Mizanul I’tidal: 3/70, Lisanul mizan: 7/ 305, albidayah wa nihayah: 9/306, alhilyah: 3/310, Thabaqat Ibnu Sa’ad:2/386, 5/555, 483, 7/370, Siyar a’lam: 5/78, Ats-Tsiqat: 5/198
i. Guru dan muridnya:
• Gurunya: Meriwayatkan hadits dari: Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Syarhabil: Abu Muhammad, Ummu Karz, Iyas bin Khalifah, Aiman ibnu Ummu Aiman, Jabir bin Abdullah bin Amru bin Harram: Abu Abdillah, Habib bin Abi Tsabit Qais bin Dinar: Abu Yahya, Habibah binti Maisarah bin Abi Khutsaim: Ummu Habib, Hazam bin Hakim bin Hazam bin Khuwailid, Zakwan: Abu Shaleh, Rafi’ bin Khudaij bin Rafi’: Abu Abdillah, Zaid bin rqam bin Zaid, Zaid bin Khalid, As_Saib bin Farukh, Salim bin Syawwal, Suraqah bin Malik bin Za’syam bin Malik, Syahr bin Hausyab, Shofwan bin Umayyah bin Khalaf, Shofwan bin Abdillah bin Shofwan bin Umayyah, Shofwan bin Mauhib, A’isyah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Abdurrahman bin Auf, Jabir, Ibnu Umar, Amru bin ‘Ash, dan banyak lagi lainnya.
• Muridnya: Al-Auza’I, Ibnu Juraij, Abu Hanifah, Laits. Aban bin Shaleh bin Amir bin ‘Abid: Abu Bakr, Ibrahim bin Maimun: Abu Ishaq, Abu al_Mubarak dari ‘Atha’: Abu Mubarak, Usamah bin Zaid: Abu Zaid, Isma’il bin Ibrahim bin Abdillah, Isma’il bin Muslim, al_Aswad bin Syaiban: Abu Syaiban, Ayyub bin Abi Tamimah Kaisan: Abu Bakr, Badil bin Maisarah, Bard bin Sinan, Bakir bin Al_Akhnas, Tsabit bin ‘Ijlan, Jami’ bin Abi Rasyid, Hatim bin Abi Shaghirah, Habib bin Abi Qaribah, Habib bin Syahid, al_Husein bin Qais, Az_Zubair bin Khariq, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘imran Maimun, Sulaimn bin Abi Muslim, Abdul Malik bin Abdul ‘Aziz bin Juraij, bdul Wahid bin Salim, ‘Asl bin Sufyan, ‘Uqbah bin Abdillah, dan murid-murid lainnya yang sangat banyak.
Tingkatannya: Tsiqah, dan banyak melakukan pemursalan hadits.
j. Penilaian ulama: Abu Ja’far al_Baqir: Ambillah hadits dari ‘Atha’ semampu kalian. Yahya bin Ma’in: Tsiqah. Muhammad bin Sa’ad: Tsiqah. Abu Zur’ah al_Razi: Tsiqah. Ibnu Hibban: Ibnu Hibban menyebutkan ‘Atha’ dalam ats_Tsiqatnya.
‘Atha’ adalah perawi yang tsiqah sebagaimana yang dipaparkan ulama, dan ia juga terkenal akan ketsiqohannya, sebagaimana ia masuk dalam kitab Ats-Tsiqat Ibnu Hibban.
6. Jabir
a. Nama: Jabir bin Abdullah bin ‘Amru bin Haraam bin Tsa’labah, semoga Allah meridhainya.
b. Kunyahnya: Abu Abdillah, dan dikatakan juga Abu Abdirrahman, dan juga dikatakan Abu Muhammad.
c. Laqab: Al-Hiraami, al-Khazraji, as-Salami, al-Anshari.
d. Wafat: 73 , 77 , 78 H , ia termasuk sahabat di madinah yang terakhir meninggal.
e. Tingkatan: Sahabat. Dari 21 kali peperangan yang diikuti oleh Nabi, Jabir ikut dalam pasukan perang sebanyak 17 kali. Beliau tidak ikut peperangan karena dilarang oleh bapaknya. Dan Nabi memintakan ampun baginya selama 28 kali ketika peristiwa malam ba’ir.
f. Meriwayatkan darinya Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmidzi, Nasa’I dan Ibnu Maajah.
g. Dia adalah sahabat dan anak dari sahabat.
h. Terdapat biografnya di: Tahdzib al-Kamal: 1/179, Tahdzib Thdzib: 2/42, Taqrib Tahdzib: 1/122, Khulashah Tahdzib Kamal: 1/156, Tarikh al-Kabir: 2/207, Tarikh ash-Shaghir: 1/21, 115, 161, 190. Jarh wa Ta’dil: 2/2019, Asaadul Ghabah: 13/305, Tajrid Asma’ Ash-Shahabah: 1/73, Al-Isti’ab,: 1/219, Thabaqat Ibnu Sa’ad: 3/561, Tadzkiratul Huffadz: 1/43, Siyarul A’lam Nubala’: 3/189, Ats-Tsiqat: 3/51.
i. Guru dan Muridnya
• Guru-gurunya: Beliau meriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, Abu Bakr Ash_Shiddiq, Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Abu Ubaidah, Thalhah bin Ubaidillah, Mu’adz bin Jabal, Ammar bin Yasar, Khalid bin Walid, Abu Bardar bin Niyar, Abu Qatadah, Abu Hurairah, Abu Sa’id Abdullah bin Anis, Abu Hamid As_Sa’adi. Ummu Syarik, Ummu Malik, Ummu Mabsyir, Ummu Kultsum binti Abu Bakr Ash_Shiddiq.
• Murid-muridnya: Meriwayatkan darinya anak-anaknya, Abdurrahman, ‘Uqail, Muhammad, Sa’id bin Musayyib, Mahmud bin Labid, Abu Zubair, Amru bin Dinar, Abu Ja’far al_Baqir, Ibnu ‘Ammah, Muhammad bin Amru bin Hasan, Muhammad bin al_Mankid, Wahab bin Kaisan, Sa’id bin Mina’, Salim bin Abi Sa’d, Abu Abdurrahman al_Habli, Ubaidillah bin Maqsam, ‘Atha’ bin Abi Rabbah, Urwah bin Zubair, Mujahid dan masih banyak lagi murid-muridnya.
J. Penilaian ulama: Beliau adalah salah satu dari sahabat yang masyhur dan utama dikalangan sahabat, bahkan termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan sebagaimana telah disepakati ulama –terlepas dari pro dan kontra- bahwa seluruh sahabat itu adalah tsiqah dan ‘adil. Maka, para ulama hadits memandang bahwa tingkatan sahabat –disini termasuk Jabir bin Abdillah- adalah tingkatan yang paling tinggi dan tidak dikeragui keadilannya-sekali lagi terlepas dari pro dan kontra-. Dan Jabir adalah kibar sahabat yang sangat terkenal keilmuan dan ketqwaannya.
C. Meneliti kemungkinan syudzudz dan illah
Dalam banyak riwayat, hanya Abdullah bin Jabir sendiri yang meriwayatkan hadis yang menjelaskan tentang al-‘araayaa, bahkan bisa dikatakan dominan hadis ini adalah riwayat beliau. Namun, peneliti menemukan satu riwayat yang berasal dari Ibnu Umar, Ibnu ‘Abbas dan bersamaan dengan Jabir yang meriwayatkan hadis yang terkait dengan al-‘araayaa. Kemudian para mukharrij hadis lain selain Abu Dawud juga meriwayatkan dari Jabir. Sehingga hadis ini terdapat banyak sekali riwayat, sehingga secara kuantitas memiliki derajat ahad, dan secara kualitas memiliki nilai shahih, karena perawi-perawinya yang terpercaya dan ketersambungan sanadnya. Namun, ada satu jalur melalu mukharrij an-Nasai, hadis no.3823, disana terdapat rawi yang mubham. Namun, riwayat tersebut tidak menyebabkan hadis yang lainnya menjadi lemah, karena ia hanya sebagai syahid penguat hadis riwayat Abu Dawud yang sedang diteliti.
Dalam berbagai riwayat memang terdapat Sufyan bin ‘Uyainah, yangmana banyak kritikus yang mengatakan bahwa beliau kadang mudallas hadits. Namun, dalam kasus hadis ini, tidak mungkin ia memudallaskan hadis, karena ada banyak perawi yang tsiqah yang telah meriwayatkan hadits darinya, maka hal itu sudah cukup untuk dikatakan ghairu syadz wa ghairu ‘illah.
Setelah melakukan i’tibar, antara matan yang ditakhrij oleh Imam Bukhari, Muslim, Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Turmidzi tidak ada perbedaan yang signifikan, hanya berbeda dalam penggunaan kata حتى يبدو صلاحه, تُشَقِّحَ, حَتَّى يَطِيبَ, حَتَّى تُطْعِمَ, حَتَّى تُشْقِهَ, قَبْلَ أَنْ يُطْعَمَ dan ada beberapa tambahan-tambahan dalam beberapa riwayat, yang sama sekali tidak mengurangi makna yang dimaksud, bahkan tambahan dan perbedaan tersebut saling melengkapi dan saling menafsirkan satu sama lainnya, sehingga maknya lebih konfrehensif dan mudah dipahami.
Dari paparan dan alasan-alasan diatas, maka bisa dikatakan bahwa kemungkinan syadz dan illah sangat kecil sekali, bahkan sudah cukup dianggap ghairu syadz wa illah, karena periwayatnya berkualitas tsiqah.
D. Kesimpulan
Dilihat dari segi jumlah periwayatannya, hadits ini tergolong hadits ahad. Karena diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, Turmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad lewat Jabir. Sedangkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu ‘Umar hanya diriwayatkan oleh Ahmad . Namun, secara makna hadis ini sudah masyhur dikalangan ahli hadits dan ahli fikih.
Dari segi persambungan sanadnya, menurut informasi riwayat hidup rijal antara satu perawi dengan yang lainnya saling bertemu. Hal ini dapat dilihat dari masing-masing tahun wafatnya, dan juga mereka memiliki hubungan guru dan murid, sehingga hal itu memastikan bahwa mereka bertemu. Sedangkan dilihat dari sighat tahammul wal adaa’nya, mereka memakain حدثنا عن سمعت, sehingga kemungkina pada riwayat Abu Dawud ini riwayatnya iittishal, sehingga haditsnya bisa diterima-terlepas dari hadisnya ma’mul bih atau ghairu ma’mul bih-, karena perawinya tsiqah.
Berdasarlan argumentasi-argumentasi diatas, ditinjau dari segi persambungan sanadnya, kualitas pribadi periwayatnya, dan terhindarnya dari syudzudz dan illah, maka hadis ini termasuk hadis ahad yang berkualitas shahih. Wallahu’lam bi ash-shawwab.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maktabah Asy-Syamilah
Al_Asqalani, Ibnu Hajar, Tahzib al_Tahdzib, Beirut: Dar al_Fikr, t.t.
____________________, Al_Ishaabah fi Tamyiz ash_Shahaabah: Dar Kutub Ilmiah, Beirut, 1995.
Al_Mizzi, Abu al_Hajjaj Yusuf bin al_Zaki, Tahzib al_Kamal, Beirut: Dar al_Fikr, 1994.
Al-Bandaari, ‘Abdul Ghaffar Sulaiman dan Said Kurdi Hasan Mausuu’ah Rijal al-Kutub at-Tis’ah.. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah. Beirut. 1993. Jilid. 1.
Al-Dzahabi, Al-Kasif fi Ma’rifati man Lahu Riwaayah fil Kutub As-Sittah: Beirut, Dar al-Kutub al_Hadiitsah, 1978, Jilid II, hlm. 210-211
_________, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad, Siyar al-A’lam al-Nubala, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1990
Al-Bukhari, Imam Kitab Tarikh al_Kabir : Beirut, Dar Kutub Ilmiyah, 1995. jilid 2.
CD Rom, Mausu’ah al_Hadits al_Syarif, 1999.
Daud, Abu, Sunan Abu Daud, pentahqiq, Sidqi Muhammad Jamil, Beirut: Dar al-Fikr, 1994.
Hibban, Ibnu, Kitab bats-Tsiqat li Ibni Hibban: al_Dar as_Salafiyah, India, 1988, cet. 2.
Mubarak, Faishal Abdul Aziz Ali, Nailul Authar, terj.: Bina Ilmu, Jakarta. Jilid. 4. tt.
Wensinck, Al_Mu’jam al_Mufahras li Al_Faazhil hadits an_Nabawi ‘anil kutub as_Sittah wa ‘an Musnad ad_Darimi, wa Muwaththa’ Malik, wa Musnad Ahmad bin Hanbal:, terj. Muhammad Fu’ad Abdul Baqi: Brill, Leiden, 1962.
Selasa, 10 Juni 2008
Minoritas Haruskah Tertindas?
Minoritas Haruskah Tertindas?
By: Yuldi Hendri
Tidak bisa dipungkiri dan diabaikan, di suatu komunitas kehidupan, mesti ada kaum minoritas. Ada sekelompok, bahkan beberapa kelompok manusia yang secara kuantitas jumlah mereka sedikit. Mereka minoritas dipengaruhi oleh banyak faktor dan alasan. Tidak terjadi alami begitu saja, sosial dan budaya tertentulah yang menyebabkan mereka minoritas, bahkan tertindas. Kelompok kecil ini selalu termarjinalkan, dianggap aib dan bahkan selalu tersudutkan. Mereka seakan-akan makhluk yang harus diberangus dari permukaan bumi ini, karena kuantitas mereka yang sedikit. Coba bayangkan, seandainya mereka yang mayoritas, akankah terjadi yang sebaliknya? Cibiran dan kata-kata kotor, bahkan pandangan sebelah mata akan membuat kaum minoritas akan lebih terjajah kebebasannya, akan lebih semakin tertekan psikologisnya, dan akan terpuruklah mereka. Dan mungkin saja akan terbayang di benaknya, apakah aku salah terlahir dan hidup seperti ini? Padahal aku juga tidak menginginkannya. Siapakah yang akan menolongku? Beribu pertanyaan akan muncul, namun dapatkah kita menjadi jawaban pertanyaan-pertanyaan itu? Walaupun hanya satu jawaban saja. Seharusnya kita mampu menjadi jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan mereka, bukan malah menambah beban dan menjauhi mereka.
Tatkala saya sedang termenung duduk menunggu antrian potong rambut di bawah pohon tua besar sebelah museum Affandi dan sekitar 1 meter dari jembatan sungai gajah wong, saya melihat banyak realitas kehidupan yang berbicara kepada orang-orang yang jeli melihatnya. Saat itu saya melihat ada dua orang “bencong” yang berjalan ngamen, dia akan berpapasan di depan saya. Karena saat itu rasa takut bercampur khawatir, maka saya pindah tempat dan cerita-cerita dengan barbernya, kemudian setelah mereka lewat saya kembali duduk. Mata ini tertuju kepada pohon besar, yang saat itu dedaunannya sedang gugur. Indah sekali, pohon itu hampir gundul karena gugurnya dedaunan tersebut. Imajinasi saya saat itu terbang ke Amerika dan Eropa, merindukan indahnya summer dan fall. Menatap indahnya pohon tersebut, ternyata dibawah pohon tersebut ada dua wajah memelas sedang menghitung uang receh dan kadang-kadang ada uang kertas ribuan. Dengan pakaian wanita khas jawa, kedua “mas-mas” itu sedang asyik menghitung hasil jerih payah dan dari tangan mereka sendiri. Teringat pesan Nabi, bahwa sebaik-baiknya hasil usaha adalah dari tangan sendiri. Padahal, tangan ini masih saja menampung dan mengharap dari orang tua tercinta.
Setelah “mas-mas” tersebut selesai menghitung hasil usahanya, seberkas sinar senyuman muncul dari wajah mereka yang lugu, memelas, tapi penuh dengan semangat mempertahankan hidup. Sebuah pelajaran yang perlu dipetik. Kemudian, salah seorang “mas” tersebut memperbaiki selendang kuningnya yang kelihatan lusuh. Salah seorang dari mereka mengajak temannya duduk di bangku-bangku di depan mereka. Mereka melihat jalan raya, mereka termenung, mereka beristirahat dari kepenatan fisik dan psikis mereka. Mereka melihat hiruk pikuk dunia yang tidak memanusiakan mereka. Saat itulah saya melihat reaksi setiap orang yang lewat dengan beragam warna reaksi. Mereka dengan sepeda, motor, mobil, becak dan jalan kaki memiliki reaksi yang sanga berbeda. Namun, kebanyakan sikap mereka adalah cibiran dan cemeehan. Wajah mas-mas tersebut semakin kelihatan menyembunyikan kekecewaan dan luka yang dalam. Kemudian, lewatlah becak dengan penumpang dua orang ibu-ibu yang umurnya kira-kira 50 tahunan. “Mbaaaaak???...”. Dengan senyuman tulus dan penuh penghormatan, “mas-mas” itu menjawab.” Ya buk…”. Subhanalah, ternyata diantara ratusan orang yang lewat, ternyata masih ada yang menyapa dengan ramah, bukan cemehan dan cibiran. Betapa saat itu hati saya tersentuh. Subhanallah. (Bukan berarti saya membenarkan dan ingin melegalkannya, tetapi hanya ingin menghargai hak kemanusiaan mereka, membantu dan memberikan solusi bagi mereka dan menyentuh jiwa sensitifitas kemanusiaan saya).
Rambut mas yang lagi dipotong itu ternyata masih separo, kemudian saya masih melihat sekeliling. Melihat realitas yang akan berbicara sendiri kepada kita, maka bagaimanakah kita akan bersikap. Itu tergantung kepada diri kita sendiri. Beberapa menit kemudiian, datanglah seorang bapak-bapak yang umurnya kira-kira 47 tahunan dengan becaknya yang sudah mulai rusak. Dengan senyuman, saya memulai percakapan. Bagaimana kabanya Pak?. Bapaknya dengan sikap dan kesopanan jawanya menjawab dengan lembut, “Alhamdulillah mas”. Kemudian mulailah dialog demi dialog beriringan, sampai bapaknya ”curhat” tentang usaha becaknya, keluarganya dan perjuangannya. Subhanalllah, saat itu saya tidak ada kata-kata yang harus diberikan, jawaban-jawaban hanyalah dari tanda mata berkaca-kaca. Saya tidak bisa berkata apa-apa, hanya terharu dan berfikir apakah yang bisa saya bantu? Apakah yang bisa saya lakukan untuk Bapak ini? Kadang Alhamdulillah ia hanya mendapatkan uang 10.000 rupiah sehari dan itupun kalau untung, dan kadang tidak mendapatkan apa-apa. Padahal ia hanya numpang tinggal di rumah adeknya di Jogja. Bagaimana dengan istrinya? Anak-anaknya yang sekolah? Subhanallah. Terbawa cerita dan derita itu, mas tukang potong rambut memanggil dengan lembut, “Mas? Ayo mas, udah selesai”. Saya terkejut, dan kemudian bilang ke Bapaknya, “Pak? Saya potong dulu ya? Tetap berusaha Pak ya? Yang penting bapak tetap yakin dengan pertolongan Allah dan tetap semangat. Makasih Pak ya?”.
Pernah ketika pulang dari RS Sarjito mengantarkan teman, di atas bis di perempatan ringroad utara, naiklah seorang ibu-ibu yang berkepala empat dengan topi khas pengamennya dan sebuah gitar kecil yang dipegangnya sebelah kanan, di bahunya bertengger sebuah tas kecil lusuh yang kelihatannya adalah tempat uang. Kebetulan ibu tersebut duduk di sebelah kiri saya, dan saat itu saya duduk di belakang. Karena kebiasaan kalau naik “bis kota” Jogja, saya duduk di belakang karena banyak kemudahan dan disana kita bisa melihat kejadian di depan dan kita juga bisa ngobrol dengan orang-orang disebelah kanan atau kiri, atau dengan knek bisnya. (Oya, pengumuman-pengumuman, sekarang di Jogja sudah ada Trans Joga atau Bus Way lho). Sapaan awal saya mulai, “Mau pulang ya Bu?”. Dengan ramah Ibu tersebut menjawab, “Iya mas”. Cerita-cerita disepajang jalan kali urang, demangan dan jalan Solo pun berderet rapi. Bahkan tidak hanya cerita, curhat dan nasehatpun mengalir dari seorang Ibu yang tulus tersebut. Seorang Ibu yang memiliki 4 orang anak, 2 orang yang masih sekolah. Suaminya hanya penarik becak dengan penghasiilan yang kadang hanya dapat 10.000 sehari, apalagi setelah maraknya motor, sehingga becak semakin tidak begitu laris lagi dimasyarakat. Seorang Ibu yang mengamen di perempatan ringroad utara, padahal ia adalah orang Solo. Alhamdulillah jikalau sehari dapat 20.000, kemudian beliau pulang. Setelah sampai di rumah ia mencuci pakaian keluarga, masak, membersihkan rumah, membersihkan perabot dan melayani suami. Bayangkanlah, pekerjaan sang Ibu yang berhati mulia ini. Ia adalah seorang ibu yang memili double fungsion. Subhanallah, bahkan terlontar dari lisannya yang tulus. “Mas, saya sebenarnya melakukan ini, karena saya hanya ingin membantu suami. Saya tidak tega melihat beban keluarga yang ditanggung suami, dan yang bisa saya lakukan hanya ini mas. Mas? Saya kalau berangkat pagi dan pulang sore, setelah saya pulang saya memiliki pekerjaan lagi mas. Sedangkan suami saya setelah pulang, pekerjaan selesai. Ia hanya tidur dan nonton TV. Namun, saya hanya melakukannya karena saya cinta, saya menyayangi keluarga saya. Saya tidak tega melihat beban keluarga yang ditanggung suami”. Subhanallah. Ibu tersebut kebetulan pulang cepat saat itu, karena katanya tadi saat ia ngamen di rumah makan, ada Ibu-ibu yang sukan nyanyi keroncong jawa, dan Ia bernyanyi sekitar lima nyanyian. Dan Ibu-ibu tersebut memberi uang 10.000 rupiah, karena itulah Ibu tersebut langsung pulang, karena biasanya ia pulang sore setelah ashar. Kemudian nasehat demi nasehat kemudian mulai hadir dari lisan Ibu tersebut. “Nak, disini belajar ya? Jangan mengecewakan orang tua, karena orang tua ingin anaknya pasti sukses. Dan masalah jodoh, anak ga usah pikirin sekarang, karena jodoh pasti sudah diatur Tuhan. Jangan sampai nak di sini sibuk dengan hal-hal yang ga bermamfaat. Ibu tersebut juga cerita tentang pengalaman yang ia lihat yaitu aksi para pencopet di bis-bis. Kemudian dia bilang, kalau cari calon Istri ga usah yang suka neko-neko, yang muluk-muluk. Yang penting hatinya baek, saling memahami dan solehah. Subhanalah, dengan spontan keluar kata-kata dari lisan saya, “Seperti ibu ya?, saya pengen orang yang seperti Ibu. Orangnya baik, pekerja keras, solehah, memahami suami dan saling membantu”. Kemudian ibu itu dengan senyuman manis berbicara,” Ibu walaupun ga cantik-cantik gini, tapi Alhamdulillah hati Ibu baik, perhatian dengan suami”. Kemudian saya mendehem, “ Hmmm..hmmmm”. Ternyata tujuan sudah kelihata dan saya bilang ke Ibu tersebut. “ Bu?, saya disini dulu bu ya? Hati-hati bu ya?”. Ya nak, hati-hati juga, sahut Ibu tersebut dengan senyuman manisnya. Setelah saya turun, saya tidak melihat teman saya, ternyata ia masih di atas bis. Ia tertinggal, Subhanallah. Ternyata setelah seratus meter bis tersebut kemudia berhenti lagi, dan kelihatanlah wajah teman tersebut. Hmmmmmm……Keep on Smile.
Ketika perjalanan dari Yogyakarta ke Solo saya biasanya melihat banyak sekali pengamen yang naik bis, bahkan hampir sepuluh kali setiap kali perjalanan, dan kalau pulang balik berarti dua puluh kali. Empat hari yang lalu saya baru pergi lagi ke Solo menjemput Batik pesanan Pak Etek (om-red, panggilan untuk paman di Padang). Dalam perjalanan ini banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik, karena setiap ke Solo pengalaman ini selalu saya rasakan. Banyak sekali macam dan ragam pengamen yang kita lihat. Mulai dari anak-anak kecil dengan wajah lugunya menyanyi dengan gerincingan, kadang kita tidak suka mendengarkan lagunya, karena nada dan nyanyiannya tidak serasi, suaranya juga tidak membuat orang-orang ingin mengeluarkan uang, tetpi karena kasihan, iba dan prihatin, itulah yang mendasari para penumpang mengeluarkan uang. Ada lagi yang lebih menyedihkan, ada anak seumur belasan tahun ngamen dengan gerincingannya, ia bisu, ia tidak bisa menyanyi, tapi ia berusaha untuk mengeluarkan suaea emasnya, ia benar-benar berusaha sehingga ada sedikit terdengar suara dari lisanny, duuu….haaa…hhaaa, dan lainnya. Para penumpang banyak yang kasihan, Subhanallah betapa perjuangannya. Ya Allah terima kasih atas nikmat-Mu, kesehatan, kesempurnaan yang telah Engkau berikan. Sempat air mata saya berkaca-kaca ketika melihat seorang Ibu-ibu menyanyi dengan gitar kecilnya. Suaranya sangat merdu, tapi suaranya lembut dan tidak terlalu terdengar keras. Saya langsung teringat Ibu di rumah, saya teringat anak-anak Ibu tersebut, saya teringat keluarga Ibu tersebut, saya teringat orang lain yang mungkin lebih parah keadaannya, lebih butuh perhatian masyarakat dan umat. Subhanllah, air mata saya menetes ketika Ibu tersebut menyanyi dengan bahasa jawa (walaupun saya tidak mengerti apa yang diucapkannya-red), tapi matanya berkaca-kaca, lantunan uaranya dalam nyanyian sangat melankolis dan merdu, saya tidak tahan menahan air mata. Ya Allah, sehatkanlah saudara-saudaraku yang sedang sakit siapapun mereka, penuhilah kebutuhan orang-orang yang membutuhkannya, lapangkanlah urusan-urusan kaum muslimin, maafkan dan ampunilah kesalahan-kesalahan kaum muslimin yang hidup maupun yang telah meninggal, sayangilah mereka Ya Allah, lunasilah hutang saudara-saudaraku semuslim, Ya Allah perbaikilah keadaan bangsa ini dan para pemimpin-pemimpinnya. Amin Ya Rahman Ya ‘Aziz.
Pengalaman mendengarkan nyanyian pengamen merupakan sesuatu yang sudah terbiasa bagi saya. Sehingga saya bisa menilai bahwa betapa masih kurangnya perhatian “kita” terhadap sesama. (Terlepas dari adanya pemuda-pemuda yang ngamen yang tujuannya untuk membeli minuman dan berpesta pora). Namun kemiskinan merupakan musuh kita saat ini. Kalau tidak berlebihan, dan inipun boleh disanggah dan dikritik bahwa musuh kita saat ini adalah kemiskinan dan kebodohan. Perjuangan mengurangi dan menghilangkan kemiskinan dan kebodohan merupakan jihad. Semoga Allah memudahkan urusan-urusan dan perjuangan kita bersama. Walaupun objek perjuangan kita itu berbeda, asalkan masih merada dalam rel kebaikan dan perbaikan, maka kita harus saling mendoakan, membantu dan menguatkan. Teringat ketika pelang dari Pare Jawa Timur, ketika itu saya mendengarkan nyanyian mas-mas yang sangat indah, kelihatan sekali ketulusannya dalam menyanyi. Saat itu air mata saya tidak tertahankan untuk ditumpahkan, karena kata-kata mas dalam nyanyinya, bahwa manusia tidak akan mencium bau wanginya surga kalau tidak ada ketulusan dan keikhlasan di hatinya. Pikiran saya melayang, seandainya mas tersebut memahami dan melaksanakan pesan nyanyian tersebut, betapa mulianya ia. Sungguh telur itu akan tetap telur yang enak, bergizi dan menyehatkan, walaupun ia keluar dari pantatnya ayam. Maka ambillah nilai dan pelajaran dari siapapun, ya dari siapapun. Kebenaran tidak di lihat dari tokoh atau kedudukan seseorang, tapi seseorang itu dilihat dari kebenaran yang ia sampaikan. Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mendengarkan perkataan-perkataan, dan orang-orang yang mengikuti kebaikan dan kebenaran dari perkataan tersebut. Amin
By: Yuldi Hendri
Tidak bisa dipungkiri dan diabaikan, di suatu komunitas kehidupan, mesti ada kaum minoritas. Ada sekelompok, bahkan beberapa kelompok manusia yang secara kuantitas jumlah mereka sedikit. Mereka minoritas dipengaruhi oleh banyak faktor dan alasan. Tidak terjadi alami begitu saja, sosial dan budaya tertentulah yang menyebabkan mereka minoritas, bahkan tertindas. Kelompok kecil ini selalu termarjinalkan, dianggap aib dan bahkan selalu tersudutkan. Mereka seakan-akan makhluk yang harus diberangus dari permukaan bumi ini, karena kuantitas mereka yang sedikit. Coba bayangkan, seandainya mereka yang mayoritas, akankah terjadi yang sebaliknya? Cibiran dan kata-kata kotor, bahkan pandangan sebelah mata akan membuat kaum minoritas akan lebih terjajah kebebasannya, akan lebih semakin tertekan psikologisnya, dan akan terpuruklah mereka. Dan mungkin saja akan terbayang di benaknya, apakah aku salah terlahir dan hidup seperti ini? Padahal aku juga tidak menginginkannya. Siapakah yang akan menolongku? Beribu pertanyaan akan muncul, namun dapatkah kita menjadi jawaban pertanyaan-pertanyaan itu? Walaupun hanya satu jawaban saja. Seharusnya kita mampu menjadi jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan mereka, bukan malah menambah beban dan menjauhi mereka.
Tatkala saya sedang termenung duduk menunggu antrian potong rambut di bawah pohon tua besar sebelah museum Affandi dan sekitar 1 meter dari jembatan sungai gajah wong, saya melihat banyak realitas kehidupan yang berbicara kepada orang-orang yang jeli melihatnya. Saat itu saya melihat ada dua orang “bencong” yang berjalan ngamen, dia akan berpapasan di depan saya. Karena saat itu rasa takut bercampur khawatir, maka saya pindah tempat dan cerita-cerita dengan barbernya, kemudian setelah mereka lewat saya kembali duduk. Mata ini tertuju kepada pohon besar, yang saat itu dedaunannya sedang gugur. Indah sekali, pohon itu hampir gundul karena gugurnya dedaunan tersebut. Imajinasi saya saat itu terbang ke Amerika dan Eropa, merindukan indahnya summer dan fall. Menatap indahnya pohon tersebut, ternyata dibawah pohon tersebut ada dua wajah memelas sedang menghitung uang receh dan kadang-kadang ada uang kertas ribuan. Dengan pakaian wanita khas jawa, kedua “mas-mas” itu sedang asyik menghitung hasil jerih payah dan dari tangan mereka sendiri. Teringat pesan Nabi, bahwa sebaik-baiknya hasil usaha adalah dari tangan sendiri. Padahal, tangan ini masih saja menampung dan mengharap dari orang tua tercinta.
Setelah “mas-mas” tersebut selesai menghitung hasil usahanya, seberkas sinar senyuman muncul dari wajah mereka yang lugu, memelas, tapi penuh dengan semangat mempertahankan hidup. Sebuah pelajaran yang perlu dipetik. Kemudian, salah seorang “mas” tersebut memperbaiki selendang kuningnya yang kelihatan lusuh. Salah seorang dari mereka mengajak temannya duduk di bangku-bangku di depan mereka. Mereka melihat jalan raya, mereka termenung, mereka beristirahat dari kepenatan fisik dan psikis mereka. Mereka melihat hiruk pikuk dunia yang tidak memanusiakan mereka. Saat itulah saya melihat reaksi setiap orang yang lewat dengan beragam warna reaksi. Mereka dengan sepeda, motor, mobil, becak dan jalan kaki memiliki reaksi yang sanga berbeda. Namun, kebanyakan sikap mereka adalah cibiran dan cemeehan. Wajah mas-mas tersebut semakin kelihatan menyembunyikan kekecewaan dan luka yang dalam. Kemudian, lewatlah becak dengan penumpang dua orang ibu-ibu yang umurnya kira-kira 50 tahunan. “Mbaaaaak???...”. Dengan senyuman tulus dan penuh penghormatan, “mas-mas” itu menjawab.” Ya buk…”. Subhanalah, ternyata diantara ratusan orang yang lewat, ternyata masih ada yang menyapa dengan ramah, bukan cemehan dan cibiran. Betapa saat itu hati saya tersentuh. Subhanallah. (Bukan berarti saya membenarkan dan ingin melegalkannya, tetapi hanya ingin menghargai hak kemanusiaan mereka, membantu dan memberikan solusi bagi mereka dan menyentuh jiwa sensitifitas kemanusiaan saya).
Rambut mas yang lagi dipotong itu ternyata masih separo, kemudian saya masih melihat sekeliling. Melihat realitas yang akan berbicara sendiri kepada kita, maka bagaimanakah kita akan bersikap. Itu tergantung kepada diri kita sendiri. Beberapa menit kemudiian, datanglah seorang bapak-bapak yang umurnya kira-kira 47 tahunan dengan becaknya yang sudah mulai rusak. Dengan senyuman, saya memulai percakapan. Bagaimana kabanya Pak?. Bapaknya dengan sikap dan kesopanan jawanya menjawab dengan lembut, “Alhamdulillah mas”. Kemudian mulailah dialog demi dialog beriringan, sampai bapaknya ”curhat” tentang usaha becaknya, keluarganya dan perjuangannya. Subhanalllah, saat itu saya tidak ada kata-kata yang harus diberikan, jawaban-jawaban hanyalah dari tanda mata berkaca-kaca. Saya tidak bisa berkata apa-apa, hanya terharu dan berfikir apakah yang bisa saya bantu? Apakah yang bisa saya lakukan untuk Bapak ini? Kadang Alhamdulillah ia hanya mendapatkan uang 10.000 rupiah sehari dan itupun kalau untung, dan kadang tidak mendapatkan apa-apa. Padahal ia hanya numpang tinggal di rumah adeknya di Jogja. Bagaimana dengan istrinya? Anak-anaknya yang sekolah? Subhanallah. Terbawa cerita dan derita itu, mas tukang potong rambut memanggil dengan lembut, “Mas? Ayo mas, udah selesai”. Saya terkejut, dan kemudian bilang ke Bapaknya, “Pak? Saya potong dulu ya? Tetap berusaha Pak ya? Yang penting bapak tetap yakin dengan pertolongan Allah dan tetap semangat. Makasih Pak ya?”.
Pernah ketika pulang dari RS Sarjito mengantarkan teman, di atas bis di perempatan ringroad utara, naiklah seorang ibu-ibu yang berkepala empat dengan topi khas pengamennya dan sebuah gitar kecil yang dipegangnya sebelah kanan, di bahunya bertengger sebuah tas kecil lusuh yang kelihatannya adalah tempat uang. Kebetulan ibu tersebut duduk di sebelah kiri saya, dan saat itu saya duduk di belakang. Karena kebiasaan kalau naik “bis kota” Jogja, saya duduk di belakang karena banyak kemudahan dan disana kita bisa melihat kejadian di depan dan kita juga bisa ngobrol dengan orang-orang disebelah kanan atau kiri, atau dengan knek bisnya. (Oya, pengumuman-pengumuman, sekarang di Jogja sudah ada Trans Joga atau Bus Way lho). Sapaan awal saya mulai, “Mau pulang ya Bu?”. Dengan ramah Ibu tersebut menjawab, “Iya mas”. Cerita-cerita disepajang jalan kali urang, demangan dan jalan Solo pun berderet rapi. Bahkan tidak hanya cerita, curhat dan nasehatpun mengalir dari seorang Ibu yang tulus tersebut. Seorang Ibu yang memiliki 4 orang anak, 2 orang yang masih sekolah. Suaminya hanya penarik becak dengan penghasiilan yang kadang hanya dapat 10.000 sehari, apalagi setelah maraknya motor, sehingga becak semakin tidak begitu laris lagi dimasyarakat. Seorang Ibu yang mengamen di perempatan ringroad utara, padahal ia adalah orang Solo. Alhamdulillah jikalau sehari dapat 20.000, kemudian beliau pulang. Setelah sampai di rumah ia mencuci pakaian keluarga, masak, membersihkan rumah, membersihkan perabot dan melayani suami. Bayangkanlah, pekerjaan sang Ibu yang berhati mulia ini. Ia adalah seorang ibu yang memili double fungsion. Subhanallah, bahkan terlontar dari lisannya yang tulus. “Mas, saya sebenarnya melakukan ini, karena saya hanya ingin membantu suami. Saya tidak tega melihat beban keluarga yang ditanggung suami, dan yang bisa saya lakukan hanya ini mas. Mas? Saya kalau berangkat pagi dan pulang sore, setelah saya pulang saya memiliki pekerjaan lagi mas. Sedangkan suami saya setelah pulang, pekerjaan selesai. Ia hanya tidur dan nonton TV. Namun, saya hanya melakukannya karena saya cinta, saya menyayangi keluarga saya. Saya tidak tega melihat beban keluarga yang ditanggung suami”. Subhanallah. Ibu tersebut kebetulan pulang cepat saat itu, karena katanya tadi saat ia ngamen di rumah makan, ada Ibu-ibu yang sukan nyanyi keroncong jawa, dan Ia bernyanyi sekitar lima nyanyian. Dan Ibu-ibu tersebut memberi uang 10.000 rupiah, karena itulah Ibu tersebut langsung pulang, karena biasanya ia pulang sore setelah ashar. Kemudian nasehat demi nasehat kemudian mulai hadir dari lisan Ibu tersebut. “Nak, disini belajar ya? Jangan mengecewakan orang tua, karena orang tua ingin anaknya pasti sukses. Dan masalah jodoh, anak ga usah pikirin sekarang, karena jodoh pasti sudah diatur Tuhan. Jangan sampai nak di sini sibuk dengan hal-hal yang ga bermamfaat. Ibu tersebut juga cerita tentang pengalaman yang ia lihat yaitu aksi para pencopet di bis-bis. Kemudian dia bilang, kalau cari calon Istri ga usah yang suka neko-neko, yang muluk-muluk. Yang penting hatinya baek, saling memahami dan solehah. Subhanalah, dengan spontan keluar kata-kata dari lisan saya, “Seperti ibu ya?, saya pengen orang yang seperti Ibu. Orangnya baik, pekerja keras, solehah, memahami suami dan saling membantu”. Kemudian ibu itu dengan senyuman manis berbicara,” Ibu walaupun ga cantik-cantik gini, tapi Alhamdulillah hati Ibu baik, perhatian dengan suami”. Kemudian saya mendehem, “ Hmmm..hmmmm”. Ternyata tujuan sudah kelihata dan saya bilang ke Ibu tersebut. “ Bu?, saya disini dulu bu ya? Hati-hati bu ya?”. Ya nak, hati-hati juga, sahut Ibu tersebut dengan senyuman manisnya. Setelah saya turun, saya tidak melihat teman saya, ternyata ia masih di atas bis. Ia tertinggal, Subhanallah. Ternyata setelah seratus meter bis tersebut kemudia berhenti lagi, dan kelihatanlah wajah teman tersebut. Hmmmmmm……Keep on Smile.
Ketika perjalanan dari Yogyakarta ke Solo saya biasanya melihat banyak sekali pengamen yang naik bis, bahkan hampir sepuluh kali setiap kali perjalanan, dan kalau pulang balik berarti dua puluh kali. Empat hari yang lalu saya baru pergi lagi ke Solo menjemput Batik pesanan Pak Etek (om-red, panggilan untuk paman di Padang). Dalam perjalanan ini banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik, karena setiap ke Solo pengalaman ini selalu saya rasakan. Banyak sekali macam dan ragam pengamen yang kita lihat. Mulai dari anak-anak kecil dengan wajah lugunya menyanyi dengan gerincingan, kadang kita tidak suka mendengarkan lagunya, karena nada dan nyanyiannya tidak serasi, suaranya juga tidak membuat orang-orang ingin mengeluarkan uang, tetpi karena kasihan, iba dan prihatin, itulah yang mendasari para penumpang mengeluarkan uang. Ada lagi yang lebih menyedihkan, ada anak seumur belasan tahun ngamen dengan gerincingannya, ia bisu, ia tidak bisa menyanyi, tapi ia berusaha untuk mengeluarkan suaea emasnya, ia benar-benar berusaha sehingga ada sedikit terdengar suara dari lisanny, duuu….haaa…hhaaa, dan lainnya. Para penumpang banyak yang kasihan, Subhanallah betapa perjuangannya. Ya Allah terima kasih atas nikmat-Mu, kesehatan, kesempurnaan yang telah Engkau berikan. Sempat air mata saya berkaca-kaca ketika melihat seorang Ibu-ibu menyanyi dengan gitar kecilnya. Suaranya sangat merdu, tapi suaranya lembut dan tidak terlalu terdengar keras. Saya langsung teringat Ibu di rumah, saya teringat anak-anak Ibu tersebut, saya teringat keluarga Ibu tersebut, saya teringat orang lain yang mungkin lebih parah keadaannya, lebih butuh perhatian masyarakat dan umat. Subhanllah, air mata saya menetes ketika Ibu tersebut menyanyi dengan bahasa jawa (walaupun saya tidak mengerti apa yang diucapkannya-red), tapi matanya berkaca-kaca, lantunan uaranya dalam nyanyian sangat melankolis dan merdu, saya tidak tahan menahan air mata. Ya Allah, sehatkanlah saudara-saudaraku yang sedang sakit siapapun mereka, penuhilah kebutuhan orang-orang yang membutuhkannya, lapangkanlah urusan-urusan kaum muslimin, maafkan dan ampunilah kesalahan-kesalahan kaum muslimin yang hidup maupun yang telah meninggal, sayangilah mereka Ya Allah, lunasilah hutang saudara-saudaraku semuslim, Ya Allah perbaikilah keadaan bangsa ini dan para pemimpin-pemimpinnya. Amin Ya Rahman Ya ‘Aziz.
Pengalaman mendengarkan nyanyian pengamen merupakan sesuatu yang sudah terbiasa bagi saya. Sehingga saya bisa menilai bahwa betapa masih kurangnya perhatian “kita” terhadap sesama. (Terlepas dari adanya pemuda-pemuda yang ngamen yang tujuannya untuk membeli minuman dan berpesta pora). Namun kemiskinan merupakan musuh kita saat ini. Kalau tidak berlebihan, dan inipun boleh disanggah dan dikritik bahwa musuh kita saat ini adalah kemiskinan dan kebodohan. Perjuangan mengurangi dan menghilangkan kemiskinan dan kebodohan merupakan jihad. Semoga Allah memudahkan urusan-urusan dan perjuangan kita bersama. Walaupun objek perjuangan kita itu berbeda, asalkan masih merada dalam rel kebaikan dan perbaikan, maka kita harus saling mendoakan, membantu dan menguatkan. Teringat ketika pelang dari Pare Jawa Timur, ketika itu saya mendengarkan nyanyian mas-mas yang sangat indah, kelihatan sekali ketulusannya dalam menyanyi. Saat itu air mata saya tidak tertahankan untuk ditumpahkan, karena kata-kata mas dalam nyanyinya, bahwa manusia tidak akan mencium bau wanginya surga kalau tidak ada ketulusan dan keikhlasan di hatinya. Pikiran saya melayang, seandainya mas tersebut memahami dan melaksanakan pesan nyanyian tersebut, betapa mulianya ia. Sungguh telur itu akan tetap telur yang enak, bergizi dan menyehatkan, walaupun ia keluar dari pantatnya ayam. Maka ambillah nilai dan pelajaran dari siapapun, ya dari siapapun. Kebenaran tidak di lihat dari tokoh atau kedudukan seseorang, tapi seseorang itu dilihat dari kebenaran yang ia sampaikan. Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mendengarkan perkataan-perkataan, dan orang-orang yang mengikuti kebaikan dan kebenaran dari perkataan tersebut. Amin
Senin, 12 Mei 2008
A LETTER FROM GOD
Saat kau bangun dipagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepadaKu, walaupun hanya sepatah kata, meminta pendapatKu atau bersyukurkepadaKu atas sesuatu hal indah yang terjadi didalam hidupmu
kemarin, tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.
Aku kembali menanti. Saat engkau sedang bersiap, Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu, tetapi engkau terlalu sibuk.
Di satu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir engkau ingin berbicara kepadaKu tetapi engkau berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk mendengarkan gosip terbaru.
Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu, Aku berpikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.
Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang kesekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara kepadaKu dengan lembut sebelum mereka makan, tetapi engkau tidak melakukannya.
Tidak apa-apa. Masih ada waktu yang tersisa, dan Aku berharap engkau akan berbicara kepadaKu, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan. Setelah beberapa hal tersebut selesai engkau kerjakan, engkau menyalakan televisi, Aku tidak tahu apakah kau suka menonton televisi atau tidak, hanya saja engkau selalu kesana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya, tanpa
memikirkan apapun hanya menikmati acara yang ditampilkan.
Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKu. Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada
keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tak lama kemudian. Tidak apa-apa karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu.
Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. Aku bahkan ingin mengajarkanmu bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat mengasihimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata, doa atau pikiran atau
syukur dari hatimu.
Baiklah... engkau bangun kembali dan kembali Aku akan menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiKu sedikit waktu. Semoga harimu menyenangkan. Yang selalu menyertaimu setiap saat, ALLAH
SWT.
NB. Apakah kau memiliki cukup waktu untuk mengirimkan surat ini kepada orang lain yang kau sayangi
kemarin, tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.
Aku kembali menanti. Saat engkau sedang bersiap, Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu, tetapi engkau terlalu sibuk.
Di satu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir engkau ingin berbicara kepadaKu tetapi engkau berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk mendengarkan gosip terbaru.
Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu, Aku berpikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.
Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang kesekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara kepadaKu dengan lembut sebelum mereka makan, tetapi engkau tidak melakukannya.
Tidak apa-apa. Masih ada waktu yang tersisa, dan Aku berharap engkau akan berbicara kepadaKu, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan. Setelah beberapa hal tersebut selesai engkau kerjakan, engkau menyalakan televisi, Aku tidak tahu apakah kau suka menonton televisi atau tidak, hanya saja engkau selalu kesana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya, tanpa
memikirkan apapun hanya menikmati acara yang ditampilkan.
Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKu. Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada
keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tak lama kemudian. Tidak apa-apa karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu.
Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. Aku bahkan ingin mengajarkanmu bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat mengasihimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata, doa atau pikiran atau
syukur dari hatimu.
Baiklah... engkau bangun kembali dan kembali Aku akan menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiKu sedikit waktu. Semoga harimu menyenangkan. Yang selalu menyertaimu setiap saat, ALLAH
SWT.
NB. Apakah kau memiliki cukup waktu untuk mengirimkan surat ini kepada orang lain yang kau sayangi
LUCU GA YA.............
Lucu ya, uang Rp 20.000-an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal masjid, tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket.
Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk berdzikir, tapi betapa pendeknya waktu itu untuk nonton pertandingan sepakbola.
Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di Mesjid, tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film di bioskop.
Lucu ya, susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat, tapi betapa mudahnya mencari bahan obrolan bila ketemu teman.
Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu di pertandingan bola favorit kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya.
Lucu ya, susah banget baca Al-Quran 1 Juz saja, tapi novel "best seller" 100 halamanpun habis dilalap.
Lucu ya, orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton bola atau konser, dan berebut cari shaf paling belakang bila Jum'atan agar bisa cepat keluar.
Lucu ya, susahnya orang mengajak berpartisipasi untuk dakwah, tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gosip.
Lucu ya, kita begitu percaya pada yang dikatakan koran, tapi sering kita mempertanyakan apa yang dikatakan Qur'an.
Lucu ya, semua orang pinginnya masuk surga tanpa harus beriman, berpikir, berbicara atau melakukan apa-apa.
Lucu ya, kita bisa ngirim ribuan "jokes" lewat "E-mail", tapi bila ngirim yang berkaitan dengan ibadah sering mesti berpikir dua kali.
Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk berdzikir, tapi betapa pendeknya waktu itu untuk nonton pertandingan sepakbola.
Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di Mesjid, tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film di bioskop.
Lucu ya, susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat, tapi betapa mudahnya mencari bahan obrolan bila ketemu teman.
Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu di pertandingan bola favorit kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya.
Lucu ya, susah banget baca Al-Quran 1 Juz saja, tapi novel "best seller" 100 halamanpun habis dilalap.
Lucu ya, orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton bola atau konser, dan berebut cari shaf paling belakang bila Jum'atan agar bisa cepat keluar.
Lucu ya, susahnya orang mengajak berpartisipasi untuk dakwah, tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gosip.
Lucu ya, kita begitu percaya pada yang dikatakan koran, tapi sering kita mempertanyakan apa yang dikatakan Qur'an.
Lucu ya, semua orang pinginnya masuk surga tanpa harus beriman, berpikir, berbicara atau melakukan apa-apa.
Lucu ya, kita bisa ngirim ribuan "jokes" lewat "E-mail", tapi bila ngirim yang berkaitan dengan ibadah sering mesti berpikir dua kali.
MENGAPA IBU MENANGIS ?
Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya.
"Ibu, mengapa Ibu menangis?".
Ibunya menjawab, "Sebab, aku wanita".
"Aku tak mengerti," kata si anak lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat.
"Nak, kamu memang tak akan mengerti...."
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya.
"Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang
jelas?
Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan."
Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap
bertanya-tanya,mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan "Ya Tuhan,
mengapa wanita mudah sekali menangis? Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,
"Saat Kuciptakan wanita, aku membuatnya menjadi sangat utama.
Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya,walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan
kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan pada wanita kekuatan untuk dapat melahirkan,
dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap
menerima cerca dari anaknya....
Kuberikan pada wanita keperkasaan, yang
akan membuatnya tetap bertahan,
pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Kuberikan pada wanita kesabaran, untuk merawat keluarganya,
walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah..
Kuberikan pada wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai
semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun.
Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.
Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang
terkantuk menahan lelap dan sentuhan kasih sayangnya akan memberikan kenyamanan saat
didekapdengan lembut olehnya.
Kuberikan pada wanita! kekuatan untuk membimbing
suaminya, melalui masa-masa sulit, dan m enjadi pelindung baginya.
Sebab, bukankah tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
Kuberikan pada wanita kebijaksanaan, dan kemampuan untuk
memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa, suami yang baik adalah yang
tak pernah melukai istrinya.
Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan
menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri,
sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi
Dan, akhirnya, kuberikan pada wanita airmata agar dapat mencurahkan
perasaannya.
Inilah yang khusus kuberikan kepadanya, agar dapat digunakan kapanpun ia
inginkan.
Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, airmata
ini adalah airmata kehidupan....
******************
"Ibu, mengapa Ibu menangis?".
Ibunya menjawab, "Sebab, aku wanita".
"Aku tak mengerti," kata si anak lagi.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat.
"Nak, kamu memang tak akan mengerti...."
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya.
"Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang
jelas?
Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan."
Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap
bertanya-tanya,mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan "Ya Tuhan,
mengapa wanita mudah sekali menangis? Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,
"Saat Kuciptakan wanita, aku membuatnya menjadi sangat utama.
Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya,walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan
kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan pada wanita kekuatan untuk dapat melahirkan,
dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap
menerima cerca dari anaknya....
Kuberikan pada wanita keperkasaan, yang
akan membuatnya tetap bertahan,
pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Kuberikan pada wanita kesabaran, untuk merawat keluarganya,
walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah..
Kuberikan pada wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai
semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun.
Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.
Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang
terkantuk menahan lelap dan sentuhan kasih sayangnya akan memberikan kenyamanan saat
didekapdengan lembut olehnya.
Kuberikan pada wanita! kekuatan untuk membimbing
suaminya, melalui masa-masa sulit, dan m enjadi pelindung baginya.
Sebab, bukankah tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
Kuberikan pada wanita kebijaksanaan, dan kemampuan untuk
memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa, suami yang baik adalah yang
tak pernah melukai istrinya.
Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan
menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri,
sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi
Dan, akhirnya, kuberikan pada wanita airmata agar dapat mencurahkan
perasaannya.
Inilah yang khusus kuberikan kepadanya, agar dapat digunakan kapanpun ia
inginkan.
Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, airmata
ini adalah airmata kehidupan....
******************
Beautiful Pray
Aku meminta kepada Allah untuk menyingkirkan penderitaanku.
Allah menjawab, Tidak.
Itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.
Aku meminta kepada Allah untuk menyempurnakan kecacatanku.
Allah menjawab, Tidak.
Jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.
Aku meminta kepada Allah untuk menghadiahkanku kesabaran.
Allah menjawab, Tidak.
Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu
harus
dipelajari.
Aku meminta kepada Allah untuk memberiku kebahagiaan.
Allah menjawab, Tidak.
Aku memberimu berkat.Kebahagiaan adalah tergantung padamu.
Aku meminta kepada Allah untuk menjauhkan penderitaan.
Allah menjawab, Tidak.
Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat
padaKu.
Aku meminta kepada Allah untuk menumbuhkan rohku.
Allah menjawab, Tidak.
Kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku akan memangkas untuk
membuatmu berbuah
Aku meminta kepada Allah segala hal sehingga aku dapat menikmati
hidup.
Allah menjawab, Tidak.
Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal.
Aku meminta kepada Allah membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia
mengasihiku.
Allah menjawab.. Ahhh, akhirnya kau mengerti.
HARI INI ADALAH MILIKMU JANGAN SIA-SIAKAN .
Bagi dunia kamu mungkin hanyalah seseorang, Tetapi bagi seseorang kamu
adalah dunianya
God Bless You All
------------------------
Allah menjawab, Tidak.
Itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.
Aku meminta kepada Allah untuk menyempurnakan kecacatanku.
Allah menjawab, Tidak.
Jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.
Aku meminta kepada Allah untuk menghadiahkanku kesabaran.
Allah menjawab, Tidak.
Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu
harus
dipelajari.
Aku meminta kepada Allah untuk memberiku kebahagiaan.
Allah menjawab, Tidak.
Aku memberimu berkat.Kebahagiaan adalah tergantung padamu.
Aku meminta kepada Allah untuk menjauhkan penderitaan.
Allah menjawab, Tidak.
Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat
padaKu.
Aku meminta kepada Allah untuk menumbuhkan rohku.
Allah menjawab, Tidak.
Kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku akan memangkas untuk
membuatmu berbuah
Aku meminta kepada Allah segala hal sehingga aku dapat menikmati
hidup.
Allah menjawab, Tidak.
Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal.
Aku meminta kepada Allah membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia
mengasihiku.
Allah menjawab.. Ahhh, akhirnya kau mengerti.
HARI INI ADALAH MILIKMU JANGAN SIA-SIAKAN .
Bagi dunia kamu mungkin hanyalah seseorang, Tetapi bagi seseorang kamu
adalah dunianya
God Bless You All
------------------------
Langganan:
Postingan (Atom)
