Jumat, 03 Oktober 2008

What am I supposed to do?

By: Yuldi Hendry
Entahlah…apakah persaudaraan itu sesuatu yang bisa diibaratkan dengan sebuah gelas yang terbuat dari mutiara yang berdiri tegak di atas aliran air yang deras…ya itu adalah sesuatu yang mustahil dan ini tidak mungkin. Namun, persaudaraan memang begitu langka di saat fasaduz az-zaman ini. Mungkin ia ada di lorong-lorong kehidupan yang sempit dan begitu sulit untuk dideteksi. Betapa indahnya persaudaraan yang dicontohkan oleh Rasulullah bersama sahabat-sahabat yang dicintainya? Betapa manisnya persaudaraan yang digambarkan para tabi’in dan kekasih-kekasihnya? Betapa harumnya wewangian persaudaraan yang digambarkan dan dipraktekkan oleh orang-orang ‘alim dan sholeh di zaman dahulu? Apakah saya hanya bermimpi dan beromatisisme ria saja? Apakah itu hanya sekedar cerita dan sejarah saja? Atau apakah ia masih ada saat sekarang ini? Atau berusaha menuju titik tersebut? Ataukah ia hanya suatu ilusi yang begitu jauh di atas langit sedangkan kita berada di bumi? Ataukah…ataukah….beribu pertanyaan muncul dalam titik sadar otakku.
Perhatikanlah di sekitarku, disekitarmu, disekitar dia, disekitar mereka dan disekitar kita semua. Persaudaraan begitu murah dan murahan. Ia tidak lagi berdasarkan atas cinta, kasih sayang, kemanusiaan, fitrah dan Tuhan. Tetapi lebih berorientasi pada suatu titik materi. Ya sebuah orientasi materialis, tidak salah teori marxisme tetapi tidak juga bisa dibenarkan secara mutlak. Lihatlah persaudaraan, pertemanan, persahabatan sekarang ini lebih banyak berujung pada harta, kedudukan, kecantikan/ketampanan, ras dan suku, kekuasaan dan hal-hal yang berbau material lainnya. Ia hanya bertujuan pada sesuatu yang pasti, yang tampak dan wujud yang nyata, ia tidak lagi melihat suatu nilai abstrak dan substansial yang paling penting dan utama. Entahlah….mungkin hal ini juga dipengaruhi oleh kuatnya positifisme dalam kehidupan modern, atau karena berhasilnya para kapitalis dalam merubah framework makhluk yang bernama manusia, ataukah..ataukah….begitu banyak kemungkinan. Satu kemungkinan yang jelas dan tidak bisa dipungkiri, karena rusaknya zaman, karena jauhnya manusia dari nilai-nilai substansial agama, jauhnya manusia dari nilai moral-spritual. Lets back to religion values.
Dalam ranah soaial kehidupan manusia saat ini begitu kompleksnya permasalahan. Mulai dari permasalahan kemanusiaan itu sendiri, moral, kemiskinan, kelaparan, penindasan, marginalisasi, kebodohan, korupsi/mencuri, idho’atul mal/hedonisme, materialistic, futuristic, fundamentalisme, sekulerisme dan liberalisme dan seabrek kata-kata yang senada. Huuuuhhh…..ratusan….eh ribuan…..Semuanya membutuhkan prosese perbaikan infrastruktur yang membutuhkan waktu yang cukup panjang dan butuh perjuangan regenerasi. Sebuah tawaran yang cukup sederhana tetapi pasti untuk menghadapi semua ini adalah “MARILAH KITA BERSAMA-SAMA MEMPELAJARI AGAMA KITA SECARA KONFREHENSIF DAN MENGAPLIKASIKAN NILAI-NILAI TERSEBUT DI DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI, SEHINGGA IA AKAN MENJADI RAHMAT DAN RAMAH BAGI SEMESTA ALAM”.

Tidak ada komentar: