Jumat, 03 Oktober 2008

Warna-Warni Kehidupan

By: Yuldi Hendry
Setelah beberapa saat di Jogja, pulang dari Indramayu dan Cirebon. Saya menuruti kata hati untuk membersihkan pakaian yang sudah perlu untuk dibersihkan, dirapikan dan dijaga. Alhamdulillah, disaat mencuci sepatu yang berwarna putih, disaat itulah hati dan pikiran saya menerawang ke dunia realitas yang ada disekitar dan di dalam kehidupan saya, kamu, dia, mereka dan kita semua.
Sendal yang saya cuci pada dasarnya berwarna putih bersih dan kelihatan indah. Namun, saat mencuci sandal tersebut, ia begitu kotor, menjadi coklat, berdebu dan berpasir. Setelah beberapa hari saya melakukan “intellectual journey” ke kota Mangga dan kota Nasi Lengko tersebut. Disadari, bahwa sandal itu saya pakai ke berbagai tempat, ke pantai, pergi wudhu’, jalan-jalan, penelitian, main ke Pesantren Az-Zaitun yang cukup megah, bersilaturrahmi, belanja dan seterusnya. Tidak terasa, sandal yang berwarna putih bersih itu berubah menjadi coklat dan gelap. Subhanllah, saya lupa membersihkan dan merawatnya.
Inti permasalahannya bukanlah sandal tersebut. Tetapi saya lebih memperhatikan warna, perubahan, toleransi, penjagaan, dan kesadaran diri. Lima kata kunci ini semakin membuat saya semakin asyik dalam mencuci sandal tersebut. Berangkat dari kata kunci awal, “warna”. Disinilah saya melihat bahwa, ketika ia memiliki original color putih, maka ia akan menjadi tidak indah lagi kalau dia berubah menjadi coklat dan hitam. Maksudnya disini, ada dua kategori yang perlu diperhatikan. Pertama, warna yang original, kedua warna perubahan.
Warna original adalah bentuk asli atau asal. Ia adalah warna yang memang dibentuk atau di-create seperti apa adanya. Ini merupakan warna yang tidak mungkin dirubah lagi, karena ia stagnan dan tidak bisa berubah. Maka, hal yang perlu kita lakukan dalam menghadapi hal ini adalah menerimanya apa adanya, tanpa merendahkan, diskriminasi apalagi penindasan. Warna disini tidak hanya warna sandal, dan yang penulis maksud juga bukan warna sandal, karena warna sandal bisa saja dirubah-rubah dengan kreatifitas cerdas sehingga tampak lebih baik dan menarik. Namun, yang dimaksud disini adalah warna kulit, ras, suku bangsa, bahasa, budaya dan seterusnya. (Terlepas dari perbendaan pendapat yang menyatakan bahwa budaya selalu berubah berdasarkan perubahan sosio-masyarakatnya dan hal itu memang benar adanya). Ketika kita menemukan warna-warna diatas, maka kita tidak bisa merubahnya ke dalam satu warna dan corak. Karena setiap individu memiliki hak otonomi dengan warna-warnanya sendiri. Tidak perlu membeda-bedakan warna kulit seseorang, apakah ia dari kalangan kulit hitam, putih, kuning, sawo matang dan seterusnya. Tidak perlu merendahkan orang-orang yang berada dalam ras yang “kelihatannya” langka kita lihat, tidak boleh menindas dan memandang rendah kelompok suatu suku bangsa, tidak perlu menghina dan menganggap tidak relevan dengan bahasa-bahasa yang berbeda dengan kita, tidak sopan dan tidak manusiawi kalau kita ingin menghancurkan dan mengganti budaya suatu komunitas dengan budaya yang kita inginkan. Sikap yang perlu ditanamkan disini adalah bagaimana kita menghargai, menjaga, dan bersikap toleransi dan mengakui adanya eksistensi setiap warna-warna yang ada.
Warna perubahan, merupakan warna yang merubah suatu hal menjadi sesuatu yang baru dan berbeda dengan warna sebelumnya. Contoh simple nya sebagaimana sendat tadi. Warna aslinya adalah putih, tetapi terkontaminasi dengan warna tanah, pasir dan bercampur baur sehingga menjadi coklat kehitam-hitaman. Dan warna ini membuatnya semakin buruk dan kehilangan jati dirinya. Warna perubahan ini memiliki dampak tertentu sesuai dengan konteks dan situasi yang melingkupinya. Ia bisa saja berdampak positif dan kadang berdampak negative. Misalkan saja perubahan yang terjadi pada seseorang yang memilki suatu budaya tertentu, namun karena lingkungan dan warna lain yang ia salami sehingga ia menjadi warna yang berbeda dan melupakan dan bahkan menanggalkan baju budayannya sendiri. Hal ini tentu merupakan hal negative yang tidak perlu untuk dilakukan, bagaimanapun kita memandang baik suatu budaya, kita tidak boleh meninggalkan dan menghilangkan jati diri kita. Bahkan, disuatu waktu kita perlu untuk memahami, mempelajari dan mengadopsi budaya orang lain, tanpa menghilangkan jati diri kita sendiri. Karena proses adopsi tidak berarti mengambilnya secara keseluruhan, tetapi butuh adanya proses internalisasi dengan nilai-nilai kita sendiri. Dan begitu juga dengan hal-hal lainnya.
Perubahan, perlukah? Tidak perlu jawaban, karena orang-orang yang berakal dan berfikir mesti telah memiliki jawaban di dalam dirinya sendiri. Kalau tidak tau jawabannya, lihatlah di beberapa papan iklan rokok (Ini bukan iklan lho….kita juga ga dibayar kok…heee…heee) di jalan-jalan raya maka kita akan menemukan tulisan PERUBAHAN ITU PERLU. That’s right. Perubahan itu tidak hanya perlu, tetapi perubahan itu adalah suatu keharusan. Karena kehidupan itu sendiri adalah perubahan. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Perubahan yang diinginkan disini adalah perubahan yang positif, perubahan yang bermamfaat dan menjadikan sesuatu itu lebih baik. Bukan malah perubahan yang terjadi pada sandal saya yang kotor dan tidak menarik lagi. Tapi satu hal yang perlu dicatat, bahwa perubahan yang negative disatu saat kita juga butuhkan supaya kita bangkit lagi menuju suatu perubahan yang lebih baik dan terbaik. Karena tidak perlu ada penyesalan dan kekecewaan apabila kita mengalami erubahan yang negative, tetapi yang terenting adalah bagaimana kita mengubah arah negative itu dan merubahnya menjadi pancaran yang positif. Anyway, kita tidak akan pernah berubah kalau kita tidak mau merubah diri kita sendiri.
Toleransi merupakan sebuah sikap yang sangat penting dalam kehidupan sosio-budaya yang berwarna-warni. Karena toleransi akan menjadi kata kunci dalam keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia. Toleransi tidak hanya ada dalam teks-teks keagamaan, buku-buku ilmiah dan intelektual, tetapi harus ada dalam tatanan praktis sehingga setiap individu merasakan dirinya dihargai dan ia memiliki hak untuk dirinya sendiri, tanpa menghilangkan makna adanya sesuatu di luar dirinya sendiri. Toleransi adalah penting, tetapi bersikap toleran terhadap siapapun adalah lebih penting.
Warna-warna yang ada disekitar dan di diri kita harus kita jaga dan harus kita sadari bahwa itu adalah milik kita, sehingga perlunya kesadaran diri untuk bersikap toleran, memiliki, menjaga, menghormati setiap warna-warni kehidupan. Sehingga perlunya suatu kata yang cukup kontradiktif yaitu “kebebasan”. Suara kebeasan yang dimaksud disini adalah “suara tengah” / middle voice diantara dua titik ekstrim yang beroposisi biner antara benar dan salah, baik dan buruk, dan seterusya. Kebebasan yang dimaksud disini adalah kesadaran akan adanya lebih dari satu warna kehidupan.

Tidak ada komentar: