Sabtu, 13 September 2008

Did you ever?

Did you ever?
I feel confused right now, I am standing on scary path. No one here can comfrehend me. I would like to go around the world to say, I am so happy with my own way, my life. I wanna live in my life.
Whoever you are read my writing, thanks
But, sometime I feel so scare. People beside me always oversee me. Yea, I am not confedence and free to do thing what I wanna do it. Yea, many cases bound me what make me couldn't be myself. I wanna be my ownself and real me. Yea, leave me alone, I wanna bethink something useful for me, for my life and my future.

Eh, what I say? Do you understand? Look at what I mean not what I say.....
Ok?
See you later
Best Redards...
Yuldi Hendry

(I am writing my mini thesis, may it will be over)

Selasa, 02 September 2008

LARANGAN JUAL BELI BUAH-BUAHAN YANG MASIH DIATAS POHON (Studi Penelitian Sanad Hadis Riwayat Abu Dawud no. 2929)

PENELITIAN SANAD HADIS SUNAN ABU DAWUD
KITAB BUYU’ NO. 3373 / 2929
bY: Yuldi Hendri

A. Teks Hadits Abu Dawud, Kitab Buyu’, No. 2929
حدثنا إسحاق بن إسماعيل الطالقاني ثنا سفيان عن ابن جريج عن عطاء عن جابر
أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الثمر حتى يبدو صلاحه ولا يباع إلا بالدينار أو بالدرهم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Isma’il at-Thalaqany, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, dari Jabir, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alahi Wasallam melarang menjual buah-buahan diatas pohon sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya.
Hadits ini diriwayatkan dari berbagi jalur yang memiliki makna hadits yang setema . Diantaranya adalah: Sehingga disini penelitian takhrij dengan berbagai pendekatan, yaitu metode no. hadits pada mausu’ah, mencari kata yang semakna pada al-maktabah asy-syamilah dengan menulis kata al-‘araayaa, kemudian juga dengan cara manual dengan melihat kitab Al-Mu’jam al_Mufahras li Al_Faazhil hadits an_Nabawi ‘anil kutub as_Sittah wa ‘an Musnad ad_Darimi, wa Muwaththa’ Malik, wa Musnad Ahmad bin Hanbal, sehingga didalam penelitian ini terdapat banyak hadits yang terkait dengan hadits riwayat Abu Dawud no. 2929. Namun, pada I’tibar sanadnya nanti, yang ditampilkan hanya riwayat takhrij dalam CD Masu’ah saja. Hadits-haditsnya sebagai berikut:

حدثنا يحيى بن سليمان حدثنا ابن وهب أخبرنا ابن جريج عن عطاء وأبي الزبير عن جابر رضي الله عنه قال
نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن بيع الثمر حتى يطيب ولا يباع منه إلا بالدينار والدرهم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahhab, telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij, dari ‘Atha’ dan Abu Zubair, dari Jabir semoga Allah meridhainya, ia berkata:” Nabi Shalallahu ‘Alahi Wasallam melarang menjual buah-buahan di atas pohon sehingga baik, dan tidak boleh dijual dari buah-buahan itu kecuali dengan uang kontan (dinar dan dirham, kecuali al-‘arrayaa.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ سَلِيمِ بْنِ حَيَّانَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَا قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُبَاعَ الثَّمَرَةُ حَتَّى تُشَقِّحَ فَقِيلَ وَمَا تُشَقِّحُ قَالَ تَحْمَارُّ وَتَصْفَارُّ وَيُؤْكَلُ مِنْهَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Salim bin Hayyan, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Mina, ia berkata, saya mendengar Jabir bin Abdullah semoga Allah meridhai keduanya, ia berkata:” Rasulullah melarang menjual tamar sehingga dapat dimakan, maka ditanyakan, dan apakah tanda ia sudah bisa dimakan? Ia berkata:” Sudah berwarna merah, dan kuning, dan telah dimakan darinya.
حدثنا عبد الله بن محمد حدثنا ابن عيينة عن ابن جريج عن عطاء سمع جابر بن عبد الله رضي الله عنهما
: نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن المخابرة والمحاقلة وعن المزابنة وعن بيع الثمر حتى يبدو صلاحها وأن لا تباع إلا بالدينار والدرهم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, mendengar dari Jabir bin Abdullah semogaAllah meridhai keduanya:” Nabi melarang menjual buah-buahan dengan cara al_mukhaabarah, al-muhaaqalah dan al-muzaabanah sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ ح و حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى أَوْ نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَطِيبَ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Khaitsamah, dari Abu Zubair, dari Jabir{ dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Abu Zubair, dari Jabir}, ia berkata:” Melarang atau Rasulullah melarang kami menjual buah-buahan hingga ia jelas baiknya (bisa dimakan).



حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ النَّوْفَلِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا رَوْحٌ قَالَا حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ إِسْحَقَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُا نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهُ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Utsman an_Naufali, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim {dan telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Hatim dan lafazh baginya, telah menceritakan kepada kami Ruh, ia berkata telah menceritakan kepada kami Zakariya bin Ishaq, telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Dinar, bahwasanya ia mendengar Jabir bin Abdullah berkata:” Rasulullah melarang menjual buah-buahan hingga jelas jadinya.
حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة ومحمد بن عبدالله بن نمير وزهير بن حرب قالوا جميعا حدثنا سفيان بن عيينة عن ابن جريج عن عطاء عن جابر بن عبدالله قال
: نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن المحاقلة والمزابنة والمخابرة وعن بيع الثمر حتى يبدو صلاحه ولا يباع إلا بالدينار والدرهم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Ghamir dan Zuhair bin Harb, mereka berkata telah menceritakan kepada kami Syufyan bin ‘Uyainah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, dari Jabir bin Abdillah, ia berkata:” Nabi melarang menjual buah-buahan dengan cara al_mukhaabarah, al-muhaaqalah dan al-muzaabanah sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ الْجَزَرِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تُطْعِمَ وَلَا تُبَاعُ إِلَّا بِالدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ إِلَّا الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim al_Hanzhali, telah mengkhabarkan kepada kami Makhlad bin Yazid al_Jazari, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah mengkhabarkan kepadaku ‘Atha’, dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Rasulullah melarang al_mukhaabarah, al_muhaaqalah dan al_muzaabanah dan menjual buah-buahan hingga ia bisa dimakan, dan dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya.

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي خَلَفٍ كِلَاهُمَا عَنْ زَكَرِيَّاءَ قَالَ ابْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ عَدِيٍّ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الْمَكِّيُّ وَهُوَ جَالِسٌ عِنْدَ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَأَنْ تُشْتَرَى النَّخْلُ حَتَّى تُشْقِهَ وَالْإِشْقَاهُ أَنْ يَحْمَرَّ أَوْ يَصْفَرَّ أَوْ يُؤْكَلَ مِنْهُ شَيْءٌ وَالْمُحَاقَلَةُ أَنْ يُبَاعَ الْحَقْلُ بِكَيْلٍ مِنْ الطَّعَامِ مَعْلُومٍ وَالْمُزَابَنَةُ أَنْ يُبَاعَ النَّخْلُ بِأَوْسَاقٍ مِنْ التَّمْرِ وَالْمُخَابَرَةُ الثُّلُثُ وَالرُّبُعُ وَأَشْبَاهُ ذَلِكَ قَالَ زَيْدٌ قُلْتُ لِعَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ أَسَمِعْتَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَذْكُرُ هَذَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin Ahmad bin bin Abi Khalaf, keduanya dari Zakariya, ia berkata, Ibnu Khalaf, telah menceritakan kepada kami Zakariya bin ‘Adi, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaidullah bin Zaid bin Abi Unaisah, telah menceritakan kepada kami Abul Walid al_Makki, dan ia duduk disamping ‘Atha’ bin Abi Rabbah, dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Rasulullah melarang jual beli dengan cara al_muhaalaqah, al-muzaabanah dan al_mukhaabarah dan melarangmembeli kurmasehingga dapat dimakan. Jabir berkata: Dan al_Isyqah itu adalah kurma yang telah nampak menjadi merah dan menguning atau dapat dimakan, muhaalaqah yaitutanaman yang dijual dengan takaran makanan yang tertentu, muzaabanah yaitu pohon kurma yang dijual dengan beberapa gantang kurma, dan mukhaabarah yaitu perjanjian bagi hasil dengan sepertiga atau seperempat dsb. Zaid berkata, aku pernah bertanya kepada Atha’: Pernahkah engkau mendengar Jabir menyebut masalah ini dari Rasulullah? Ia menjawab: Ya.
و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هَاشِمٍ حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا سَلِيمُ بْنُ حَيَّانَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُزَابَنَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تُشْقِحَ قَالَ قُلْتُ لِسَعِيدٍ مَا تُشْقِحُ قَالَ تَحْمَارُّ وَتَصْفَارُّ وَيُؤْكَلُ مِنْهَا
Artinya: Dan telah mnceritakan kepada kami Abdullah bin Hasyim, telah menceritakan kepada kami Bahzun, telah menceritakan kepada kami Salim bin Hayyan, telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Mina’, dari Jabir bin Abdulah berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang al_muzaabanah, al_muhaaqalah dan al_mukhaabarah dan melarang menjual buah-buahan hingga bisa dimakan, dan ia berkata, aku berkata kepada Sa’id apakah Tusyqih? Ia berkata, buah itu sudah menjadi merah dan kuning, dan sudah dimakan darinya.

حدثنا محمد بن منصور قال حدثنا سفيان عن بن جريج عن عطاء سمعت جابر بن عبد الله عن النبي صلى الله عليه وسلم : أنه نهى عن المخابرة والمزابنة والمحاقلة وأن يباع الثمر حتى يبدو صلاحه وأن لا يباع إلا بالدنانير والدراهم ورخص في العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Manshur, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, saya mendengar Jabir bin Abdullah, dari Nabi Shalllahu ‘Alaihi Wasallam: Bahwasanya ia melarang menjual buah-buahan dengan cara al-mukhabarah, al-muzabanah dan al-muhalaqah sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) dan memberi keringanan pada al-‘araaya.
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ الْجَزَرِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى تُطْعِمَ وَلَا تُبَاعُ إِلَّا بِالدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ إِلَّا الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali, telah mengkhabarkan kepada kami Makhlad bin Yazid al-Jazari, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah mengkhabarkan kepadaku ‘Atha’, dari Jabir bin ‘Abdillah bahwasanya Rasululah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al-mukhabarah, al-muzabanah dan al-muhalaqah sehingga jelas baiknya (nyata jadinya), dan tidak boleh dijual kecuali dengan dinar atau dirham (kontan) kecuali al-‘araaya.
أخبرنا قتيبة قال حدثنا المفضل عن بن جريج عن عطاء وأبي الزبير عن جابر : أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن المخابرة والمزابنة والمحاقلة وبيع الثمر حتى يطعم إلا العرايا
Artinya: Telah mengkhabakan kepada kami Qutaibah, ia berkata, telah bercerita kepada kami Al-Mufadhdhal, dari IIbnu Juraij, dari ‘Atha’ dan Abu Zubair, dari Jabir: Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al-mukhabarah, al-muzabanah dan al-muhalaqah sehingga bisa dimakan, kecuali al-‘araayaa.
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ النَّخْلِ حَتَّى يُطْعَمَ
Artinya: Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul A’la, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Khalid, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Abu Zubair, dari Jabir, ia berkata:” Rasulullah melarang menjual kurma sehingga dapat dimakan.
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَعَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ قَبْلَ أَنْ يُطْعَمَ وَعَنْ بَيْعِ ذَلِكَ إِلَّا بِالدَّنَانِيرِ وَالدَّرَاهِمِ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Muhammad, ia berkata telah menceritakan kepada kamiMakhlad bin Yazid, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Atha’, dari Jabir, bahwasanya Rasulullah melarang jual beli dengan cara al_mukhaabarah, al_muzaabanah dan al_muhaalaqah, dan melarang menjual buah-buahan sebelum ia bisa dimakan, dan jual beli demikian itu dilarang kecuali dengan dirham dan dinar (secara kontan).
أَخْبَرَنَا الثِّقَةُ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ مَسْعَدَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَاضَرَةِ وَقَالَ الْمُخَاضَرَةُ بَيْعُ الثَّمَرِ قَبْلَ أَنْ يَزْهُوَ وَالْمُخَابَرَةُ بَيْعُ الْكَرْمِ بِكَذَا وَكَذَا صَاعٍ خَالَفَهُ عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ فَقَالَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ats-Tsiqah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Mas’adah, dari Hisyam bin Abi Abdillah, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Jabir bin Abdillah, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang jual beli dengan cara al_muzaabanah, dan al_mukhaadharah. Dan berkata al_mukhaadharah adalah menjual buah sebelum nyata jadinya, dan al_mukhaabarah adalah menjual pohon anggur dengan ini (perjanjian bagi hasil sepertiga, seperempat dsb),dan demikianlah penakaran yang diselisihi Amru bin Abi Salamah, maka ia berkata, dari Bapaknya, dari Abu Hurairah.


أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَجَابِرٍ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهُ وَنَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ كِرَاءِ الْأَرْضِ بِالثُّلُثِ وَالرُّبُعِ رَوَاهُ أَبُو النَّجَاشِيِّ عَطَاءُ بْنُ صُهَيْبٍ وَاخْتُلِفَ عَلَيْهِ فِيهِ
Artinya: Telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari Amru bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar dan Jabir, Rasulullah melarang menjual buah-buahan hingga jelas jadinya, dan melarang jual beli al_mukhaabarah, dengan melakukan perjanjian bagi hasil sepertiga dan seperempat. Meriwaytkannya An_Najasyi ‘Atha’ bi Shuhaib, dan terjadi perbedaan padanya.
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهُ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Ammar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’, dari Jabir, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan hingga jelas jadinya.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَالْمُعَاوَمَةِ وَرَخَّصَ فِي الْعَرَايَا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhab at_Taqafi, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Zubair, dari Jabir, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al_muhaaqalah,al_muzaabanah dan al_mukhaabarah dan al_mu’aawamah dan memberi keringanan pada al_’araaya.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنِي شِبْلٌ قَالَ سَمِعْتُ عَمْرَو بْنَ دِينَارٍ يَقُولُ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ وَابْنِ عُمَرَ وَابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يَبْدُوَ صَلَاحُهُ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Harits , telah menceritakan kepadaku Syiblun, ia berkata, saya mendengar Amru bin Dinar berkata, dari Jabir bin Abdullh dan Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan sehingga jelas jadinya.
حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا قتيبة حدثنا المفضل بن فضالة عن بن جريج عن عطاء وأبي الزبير عن جابر : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن المخابرة والمزابنة والمحاقلة وبيع الثمر حتى يطعم إلا العرايا
Artinya: Telah menceritakan kepada kamiAbdullah, telah menceritakan kepada saya Bapak saya, telah mencritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Mufadhdhal bin Fadhaalah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’ dan Abu Zubair, dari Jabir: Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al-mukhabarah, al-muzabanah dan al-muhalaqah sehingga bisa dimakan, kecuali al-‘araayaa.
حَدَّثَنَا أَبُو سَعْدٍ الصَّاغَانِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ مُيَسَّرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَأَنْ يُبَاعَ الثَّمَرُ حَتَّى يُطْعَمَ إِلَّا بِدَنَانِيرَ أَوْ دَرَاهِمَ إِلَّا الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id ash_Shaaghaani Muhammad bin Muyassar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Abu Zubair, dari Jabir, ia berkata, Rasulullah melarang berjualan dengan cara al_muhaaqalah, al_muzaabanah, al_mukhaabarah, dan dijualnya buah-buahan sehingga ia bisa dimakan, kecuali dengan dinar dan dirham (kontam), kecuali al_’araaya.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا الْمُفَضَّلُ بْنُ فَضَالَةَ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ وَأَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُخَابَرَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُحَاقَلَةِ وَبَيْعِ الثَّمَرِ حَتَّى يُطْعَمَ إِلَّا الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami al-Mufadhdhal bin Fadhaalah, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’ dan Abu Zubair, dari Jabir, bahwasanya Rasulullah Shlallahu ‘Alaihi Wasallam melarang menjual buah-buahan dengan cara al_mukhaabarah, al_muzaabanah dan al_muhaaqalah dan menjual buah-buahan sehingga ia bisa dimakan, kecuali al_’araaya.
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُحَاقَلَةِ وَالْمُزَابَنَةِ وَالْمُخَابَرَةِ وَالْمُعَاوَمَةِ وَالثُّنْيَا وَرَخَّصَ فِي الْعَرَايَا
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Isma’il, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Zubair, dari Jabir, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melarang berjualan dengan cara al_muhaaqalah, al_muzaabanah, al_mukhaabarah dan ats_tsuna, dan memberikan keringanan pada al_’araayaa.













B. Meneliti Kualitas Riwayat dan Persambungan Sanad
(1) Skema Sanad Hadits

Sanad hadits pada jalur Abu Dawud yang akan diteliti:
محمد

جابر
عن
عطاء
عن
عبدالملك
عن
سفيان بن عيينة
حدثنا
اسحاق
حدثنا
ابوداود
Urutan nama periwayat jalur Abu Dawud adalah:
1. Periwayat I : Jabir bin Abdillah
2. Periwayat II : ‘Atha’ bin Abi Rabbah
3. Periwayat III : Ibnu Juraij
4. Periwayat IV : Sufyan bin ‘Uyainah
5. Periwayat V : Ishaq bin Isma’il Ath-Thalaqani
6. Periwayat VI : Abu Dawud
(2) Meneliti kualitas periwayat dan persambungan sanadnya pada jalur Abu Dawud
1. Abu Dawud
a. Nama lengkapnya: Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Imran al-Azdi al_Sijistani
b. Lahirnya di Sijistan –suatu kota di Bashrah- pada tahun 202 H. Dan meninggal pada tahun 275 di al_Sijistani pada umur 73 tahun, tepatnya pada tanggal 16 Syawal 275 H di Bashrah.
c. Guru dan Muridnya
• Guru-gurunya diantaranya adalah: Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Yahya bin Ma’in (w. 233 H), Muslim bin Ibrahim (w. 222 H), ‘Amr bin Aun al_Najili (w. 225 H), Musaddad bin Musarhad al-Asadi (w. 228 H), Abdullah bin Maslamah al_Qa’nabi (w. 221 H), Abu Utsman ‘Amr bin Marzuki al-Bahili (w. 224 H), Ishaq bin Isma’il Ath_Thalaqani (w. 225 H). Muhammad bin Auf bin Sufyan (w. 262 H), Ibrahim bin Musa bin Yazid al_Tamimi (w. 225 H), Abdullah bin Ahmad al_Napili (w. 234 H), Qutaibah bin Sa’id al_Saqafi (w. 240), dan lainnya. .
• Murid-muridnya diantaranya: Muhammad bin ‘Isa al_Turmuzi (w. 274 H), Ahmad bin Salman al_Najd, Isma’il bin Muhammad al_Safar, Muhammad bin Mukhallid, Ali bin Husein bin al_Abid, Ahmad bin Muhammad bin Harun al_Khalal, An_Nasa’I (w. 334 H), Abdullah bin Sulaiman bin al_Asy’as.
d. Penilaian ulama hadits terhadap Abu Dawud:
• Al_Hakim berkata: “Abu Dawud adalah imam ahli hadits pada zamannya, tidak ada yang menyamainya”.
• Abu Hatim bin Hibban berkata:” Abu Dawud adalah seorang imam dunia dalam bidang fikqih, ilmu, hapalan, dan ibadah. Beliau telah mengumpulkan hadits-hadits hukum dan tegak mempertahankan sunnah”.
• Maslamah bin Qasim berkata:” Dia adalah tsiqah, seorang zahid, mempunyai ilmu pengetahuan tentang hadits, seorang imam pada zamannya”.
• Musa bin Harun berkata:” Abu Dawud diciptakan di dunia untuk hadits dan di akhirat untuk surga. Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih utama dari dia”.
• Ahmad bin Muhammad bin Yasin al_Harawi berkata:” Abu Dawud adalah salah seorang hafiz dalam bidang hadits, yang memahami hadits beserta illat dan sanadnya, dia mempunyai derajat yang tinggi dalam beribadah, kesucian, diri, ke_shahih_an dan ke_wara’_an.
Keseluruhan penilaian ulama terhadap Abu Dawud diatas, menunjukkan kepakaran Abu Dawud dalam bidang hadits.

2. Ishaq bin Isma’il Ath_Thalaqani
a. Nama : Ishaq bin Isma’il Ath-Thalaqany
b. Kunyah : Abu Ya’qub
c. Laqab : Ath-Thaalaqaani, al-Yatiim, al-Baghdaadi
d Wafat : 225 H. Al-Baghawi mengatakan bahwa Ishaq bin Ismai’l meninggal tahun 230 bulan ramadhan, namun biasa tertulis akan kematiannya adalah 225. Ibnu Hibban mengatakan Ishaq meninggal 225. Ia semasa dengan Hisyam bin Ammaar bin ad-Dimasyqi. Ishaq semasa dengan Ibnu ‘Uyainah, Syu’bah, Abu Mu’awiyah, Abdah, Muhammad bin Yazid, Ali bin Mishar.
e. Data-data tentang Ishaq bin Ismail bisa didapatkan di: Tahdzib al-Kamal: 1/82. Tahdzib at-Tahdzib 1/226. Taqrib at-Tahdzib: 1/56. Khulaashah tahdzib al-Kamal: 1/ 71. Al-Kaashif: 1/108. Al-Jarh wa at-Ta’dil: 2/212. Ats-Tsiqaat: 8/113. Al-Waafi bil Wafiyaat: 8/404. Majma’: 3/147, 8/106. Taarikh al-Baghdad: 6/334. Thabaqah: 10/ al-‘Aasyirah
f. Yang meriwayatkan darinya: Abu Dawud
g. Guru dan muridnya:
• Gurunya: Jarir, Ibnu ‘Uyainah, Abu Usamah, ‘Abdah bin Sulaiman, Abu Mu’awiyah, Mu’tamar bin Sulaiman, Yazid bin Harun. Ibrahim bin ‘Uyainah, Jarir bin Abdul Hamid al-Razi, Hatim bin Wardan al-Bashari, Husain bin Ali al-Ja’fi, Hikam bin Salam al-Razi, Abu Usamah, Hamad bin Usamah, Sufyan bin ‘Uyainah, Sulaiman bin Hikam bin Uwanah al-Kalabi, Abdurrahman bin Sa’ad bin Umaar al-Mu’adzin dan Abdah bin Sulaiman, ‘Utsam bin Ali al-‘Amiri, ‘Adi bin Fadhil, Abu Daud Umar bin Saad al-Hafri, Isa bin Yunus, Abu Mu’awiyah, Muhammad bin ‘Abid, Muhammad bin Fadhil, Mu’tamar bin Sulaiman, Waki’ bin Jarrah.
• Muridnya : Abu Dawud, Ya’qub bin Syaibah, Ali bin Abdul ‘Aziz, Abu Ya’la, Ibnu Abi Dunya, al-Baghawi, dan selainnya. Muhammad bin Sai’ al-Ashbahani, Utsman bin Syaibah dan Abu Bakar bin Syaibah, Ibrahim bin Musa. Muhammad bin Muslim. Al-Auza’i.
h. Penilaian ulama: Dia tsiqah, berbicara pada hal-hal yang ia dengar dari Jarir secara sendiri. Abu Abdillah: Tidaklah yang saya tau tentang Ishaq bin Ismail kecuali kebaikan, dan ia membawa riwayat yang ia hafal, Ya’qub bin Syaibah: Ia stiqah dan kokoh, Ibnu Ma’in: Stiqah, Abu Dawud dan Daruquthni: Tsiqah, Utsman bin Kharzadz: Tsiqah tsiqah, Ibnu Hibban: Tsiqah, Ibnu Mai’n: La baks, shadduq. Ibnu Ma’in: saya berharap ia shadduq, la baksa bihi shaduq. Yahya: Tidak apa-apa. Ibnu Syaibah: Ishaq adalah tsiqah dan ia lebih kokoh dari utsman dalam periwayatan walaupun mereka sama-sama tsiqah, dan kadang Yahya bin Ma’in mentsiqahkannya tidak menshadduqkan. Ibnu Adi: Ishaq bin Ismail: Tsiqah. Utsman bin Kharzadz: Ishaq tsiqah tsiqah. Daruquthni: Ishaq tsiqah. Apa yang ada padanya baik, Yahya bin Aktsam: terpercaya.
Dari penilaian para ulama diatas, maka bisa disimpulkan bahwa Ishaq bin Isma’il ath_Thalaqani orang yang terpercaya dan pakar dalam hadits.

3. Sufyan Bin ‘Uyainah
a. Nama: Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran maimun
b. Kunyah: Abu Muhammad
c. Laqab: Al-Hilali, al-Kufi, al-makki
d. Wafat: 198 bulan rajab, umurnya 91 tahun
e. Tingkatan: Dia pemimpin tingkatan ke delapan (ruus ats-tsaminah)
f. Yang mengeluarkan darinya: Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmidzi, Nasai dan Ibnu Majah,
Ia tsiqah, hafizh, faqih, imam hujjah, tapi ia berubah pada akhir hidupnya dan kadang memudallaskan hadits , tetapi dari para perawi tsiqah, dan ia adalah orang yang paling tsabit pada riwayat Amru bin Dinar
g. Bisa dilihat pada: Tahdzib tahdzib:4/117, Tahdzib kamal: 1/514, taqrib tahdzib: 1/312, Khulashah Tahdzib Kamal: 1/397, al-Kasyif: 1/379, tarikh kabir: 4/94, jarh wa ta’dil: 4/973, 1/32, mizanul I’tidal: 2/170, thabaqat Ibnu Sa’ad: 9/83, Al-Bidayah wa nihayah: 10/205, 218, 239, 244, , al-Wafi bil wafiyaat: 15/281, al-hilyah: 7/270, siyarul a’lam: 8/454, daiwanul a’lam: 1104, ats-tsiqat: 6/403.
h.Guru dan muridnya:
• Gurunya: Abaan bin Taghlab, Ibrahim bin ‘Uqbah bin Abi ‘abbas, Ibrahim bin Muhammad bin al_Muntasyir bin al_Ajda’, Ibrahim bin Muslim, Ibrahim bin Maisarah, Ajla’ bin Abdillah bin hujjiyah, Ahwash bin hakam bin ‘Amir, Isra’il bin Musa, Abdul Malik bin Abdul ‘Aziz bin Juraij, Isma’il bin Abi Khalid, Isma’il bin Muslim, Al_Aswad bin Qais, Ayyub bin Musa, Baasyir bin Sulaiman, Bayaan bin Basyir, Hazuur, al_Hakam bin abaan, Khalid bin Mahran.
• Muridnya: Ibrahim bin Basyaar, Ibrahim bin Dinar, Ibrahim Sa’id, Muhammad bin ‘Abbas, Mandzur bin Abdillah, Ahmad bin Tsabit, Ahmad bin al_Hijaaj, Ishaq bin Isma’il ath_Thalaqani, Ahmad bin Shalihh, Isma’il bin Salim, Isma’il bin Musa, Harun bin Ma’ruf, Muhammad bin Sulaiman bin Habib.
i. Penilaian ulama: Syafi’i: Kalau bukan karena Malik dan Sufyan, maka akan hilang ilmu di Hijaz. Ibnu Mahdi: Dia adalah oaring paling mengetahui masalah hadits. Ibnu Wahhab: Saya tidak melihat seorangpun yang lebih mengetahui kitab Allah dari pada dia. Al_Ijli: Tsiqah, tsabit fil hadits. Ibnu Hibban: Hafizh, Mutqin. Abul Qasim al_Laalikai: Dia kaya akan tazkiyah dan merupakan orang yang sangat kokoh dalam hadits.
Dari paparan diatas, maka bisa diambil kesimpulan dia adalah pakar dalam hadits dan kualitasnya tsiqah, walaupun ia kadang memudallaskan hadits. Namun, pada hadits ini ia tidak memungkinkan memudallaskan hadits, karena yang meriwayatkan darinya perawi yang tsiqah dan ia juga meriwayatkan dari rawi yang tsiqah.

4. Ibnu Juraij
a. Nama: Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij,
b. Kunyah: Abul Walid, Abu Khalid
c. Laqab: Al-Amwa maulahum, al-makki, al-Qurasyi
d. Wafat: 150 atau 149
e. Taqbaqah: keenam
f. Mengeluarkan darinya: Bukhari, muslim, abu daud, turmidzi, nasai, ibnu majah
g. Dia tsiqah, faqih, utama, dia memudallaskan dan memursalkan hadits.
Tahdzib kamal: 2/855, tahdzib tahdzib: 6/402, 855, Taqrib Tahdzib: 1/ 520, 1324, Khulashah tahdzib kamal: 2/178, al-Kasyif: 2/210, tarikh kabir: 5/422, tarikh shaghir: 2/98, 99, 111. Jarh wa ta’dil: 5/1687, Mizanul I’tidal: 2/659, Lisanul Mizan: 7/292, Siyar a’lam: 6/325 dan hasyiah, ats-tsiqat: 7/93
h. Guru dan Murid-muridnya:
• Gurunya: Aban bin Shaleh bin ‘Amir bin ‘Abid: Abu Bakr, Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya: Abu Ishaq, Ibrahim bin Maisarah, Abu Bakr bin ‘Ubaidillah bin Abi Malikah: Abu Bakr, Abu Khalid dari ‘di bin Tsabit: Abu Khalid, Ishaq bin Abdillah bin Abi Thalhah bin Zaid bin Sahl: Abu Yahya, Isma’il bin Ibrahim bin Maqsam: Abu Basyr, Isma’il bin Umayyah bin ‘Amru bin S’id bin al_’Ash, Isma’il bin Katsir: Abu Hasyim, Isma’il bin Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqqash: Abu Muhammad, Ayyub bin Abi Tamimah Kaisan: Abu Bakr, Ayyub bin Hani’, Banaanah, Ja’far bin Khalid bin Sarah, Ja’far bin Muhammad bin ‘Ali bin al_Husein, al_Harits bin Abdirrahman bin Abdul Malik, Habib bin Abi Tsabit Qais bin Dinar: Abu Yahya, Huraiz: Abu Huraiz, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran Maimun, Sulaiman bin Abi Muslim, Mujahid, ‘Atha’, Ibnu Abi Maliikah dan lainnya.
• Muridnya: Al-Qaththan, Ruh, Hijaaj , Isma’il bin Ziyad, Isma’il bin ‘Iyasy bin Salim: Abu ‘Utbah, Anas bin’Iyadh bin Dhamrah: Abu Dhamrah, Basyar bin Manshur: Abu Muhammad, Tsaur bin Yazid bin Ziyad: Abu Khalid, Hijaj bin Muhammad: Abu Muhammad, Al_Hasan bin Muhammad bin ‘Ubaidillah, Hafsh bin Ghiyats bin Thalaq: Abu ‘Amr, Hammad bin Usamah bin Yazid: Abu Usamah, Hammad bin Yazid bin Dirham: Abu Isma’il, Hammad bin Salmah bin Dinar: Abu Usamah, Hammad bin Mas’adah: Abu Sa’id, Khalid bin al_Harits: Abu ‘Utsman, Daud bin Abdurrahman: Abu Sulaiman, Zuhair bin Muhammad, Zaid bin Hibban, Sa’id bin Salim, Sufyan bin Habib, Sufyan bin Sa’id bin Masruq, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran Maimun: Abu Muhammad, Salmah bin Sa’id bin ‘Athiyah, Sulaiman bin Hayyan: Abu Khalid, ‘Utsman bin al_Hakam, ‘Ali bin Mashar, al_Fadhl bin Musa, Muhammad bin Ja’far, Muhammad bin Khazim, Muhammad bin Rabi’ah, Muhammad bin ‘Amru, Muhammad bin Maisar, Waki’ bin al_Jarh bin Malih, Yazid bin Abdullah, Al_Walid bin Muslim, Yazid bin Harun.
• Tingkatanya: Tsiqah, kadang ia memudallaskan dan memursalkan hadits.
i. Penilaian Ulama: Yahya bin Sa’id al_Qaththan: Shadduq, Ahmad bin Hanbal: Orang yang paling kokoh, jika meriwayatkan dari ‘Atha’. Yahya bin Ma’in: Tsiqah. Al_Ijli: Tsiqah. Ibnu Hibban: Ia tsiqah, dan kadang mudallaskan hadits. Ibnu Kharrasy: Shadduq.
Dari penjabaran ulama hadits diatas, jelaslah bahwa Ibnu Juraij memiliki kredebilitas dalam hadits, bahkan menurut Ahmad bin Hanbal riwayatnya melalui ‘Atha’ adalah riwayat yang paling kokoh. Dan pada jalur ini ia meriwayatkan dari ‘Atha’, maka tidak dikeragui lagi kualitasnya dalam hal ini.

5. ‘Atha’
a. Nama: ‘Atha’ bin Abi Rabbah dan namanya adalah Aslam
b. Kunyah: Abu Muhammad
c. Laqab: al-Qarasyi, Maulahum saidul tabi’in, ahadul a’lam).
d. Wafat: 114 atau115, 117. Hidup selama 80 tahun.
e. Tabaqah: 3 atau pertengahan pada masa tabi’in
f. Mengeluarkan darinya Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmidzi, Nasa’I dan Ibnu Majah
g. Dia tsiqah, faqih, dia utama, tetapi ia banyak hadits2 mursal (lakinnahu katsirun irsaal). Dan dikatakan bahwa ia berubah diakhir kehidupannya, walam yakun dzalika minhu.
h. Terdapat di Tahdzib Tahdzib: 7/199, Tahdzib Kamal: 2/933, Taqrib Tahdzib: 2/22, Khulashah Tahdzib Kamal: 2/230, Al-Kasyif:2/265, Tarikh kabir: 6/463, Tarikh Shaghir: 1/277, Aljarh wa Ta’dil: 6/330, Mizanul I’tidal: 3/70, Lisanul mizan: 7/ 305, albidayah wa nihayah: 9/306, alhilyah: 3/310, Thabaqat Ibnu Sa’ad:2/386, 5/555, 483, 7/370, Siyar a’lam: 5/78, Ats-Tsiqat: 5/198


i. Guru dan muridnya:
• Gurunya: Meriwayatkan hadits dari: Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Syarhabil: Abu Muhammad, Ummu Karz, Iyas bin Khalifah, Aiman ibnu Ummu Aiman, Jabir bin Abdullah bin Amru bin Harram: Abu Abdillah, Habib bin Abi Tsabit Qais bin Dinar: Abu Yahya, Habibah binti Maisarah bin Abi Khutsaim: Ummu Habib, Hazam bin Hakim bin Hazam bin Khuwailid, Zakwan: Abu Shaleh, Rafi’ bin Khudaij bin Rafi’: Abu Abdillah, Zaid bin rqam bin Zaid, Zaid bin Khalid, As_Saib bin Farukh, Salim bin Syawwal, Suraqah bin Malik bin Za’syam bin Malik, Syahr bin Hausyab, Shofwan bin Umayyah bin Khalaf, Shofwan bin Abdillah bin Shofwan bin Umayyah, Shofwan bin Mauhib, A’isyah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Abdurrahman bin Auf, Jabir, Ibnu Umar, Amru bin ‘Ash, dan banyak lagi lainnya.
• Muridnya: Al-Auza’I, Ibnu Juraij, Abu Hanifah, Laits. Aban bin Shaleh bin Amir bin ‘Abid: Abu Bakr, Ibrahim bin Maimun: Abu Ishaq, Abu al_Mubarak dari ‘Atha’: Abu Mubarak, Usamah bin Zaid: Abu Zaid, Isma’il bin Ibrahim bin Abdillah, Isma’il bin Muslim, al_Aswad bin Syaiban: Abu Syaiban, Ayyub bin Abi Tamimah Kaisan: Abu Bakr, Badil bin Maisarah, Bard bin Sinan, Bakir bin Al_Akhnas, Tsabit bin ‘Ijlan, Jami’ bin Abi Rasyid, Hatim bin Abi Shaghirah, Habib bin Abi Qaribah, Habib bin Syahid, al_Husein bin Qais, Az_Zubair bin Khariq, Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘imran Maimun, Sulaimn bin Abi Muslim, Abdul Malik bin Abdul ‘Aziz bin Juraij, bdul Wahid bin Salim, ‘Asl bin Sufyan, ‘Uqbah bin Abdillah, dan murid-murid lainnya yang sangat banyak.
Tingkatannya: Tsiqah, dan banyak melakukan pemursalan hadits.
j. Penilaian ulama: Abu Ja’far al_Baqir: Ambillah hadits dari ‘Atha’ semampu kalian. Yahya bin Ma’in: Tsiqah. Muhammad bin Sa’ad: Tsiqah. Abu Zur’ah al_Razi: Tsiqah. Ibnu Hibban: Ibnu Hibban menyebutkan ‘Atha’ dalam ats_Tsiqatnya.
‘Atha’ adalah perawi yang tsiqah sebagaimana yang dipaparkan ulama, dan ia juga terkenal akan ketsiqohannya, sebagaimana ia masuk dalam kitab Ats-Tsiqat Ibnu Hibban.

6. Jabir
a. Nama: Jabir bin Abdullah bin ‘Amru bin Haraam bin Tsa’labah, semoga Allah meridhainya.
b. Kunyahnya: Abu Abdillah, dan dikatakan juga Abu Abdirrahman, dan juga dikatakan Abu Muhammad.
c. Laqab: Al-Hiraami, al-Khazraji, as-Salami, al-Anshari.
d. Wafat: 73 , 77 , 78 H , ia termasuk sahabat di madinah yang terakhir meninggal.
e. Tingkatan: Sahabat. Dari 21 kali peperangan yang diikuti oleh Nabi, Jabir ikut dalam pasukan perang sebanyak 17 kali. Beliau tidak ikut peperangan karena dilarang oleh bapaknya. Dan Nabi memintakan ampun baginya selama 28 kali ketika peristiwa malam ba’ir.
f. Meriwayatkan darinya Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmidzi, Nasa’I dan Ibnu Maajah.
g. Dia adalah sahabat dan anak dari sahabat.
h. Terdapat biografnya di: Tahdzib al-Kamal: 1/179, Tahdzib Thdzib: 2/42, Taqrib Tahdzib: 1/122, Khulashah Tahdzib Kamal: 1/156, Tarikh al-Kabir: 2/207, Tarikh ash-Shaghir: 1/21, 115, 161, 190. Jarh wa Ta’dil: 2/2019, Asaadul Ghabah: 13/305, Tajrid Asma’ Ash-Shahabah: 1/73, Al-Isti’ab,: 1/219, Thabaqat Ibnu Sa’ad: 3/561, Tadzkiratul Huffadz: 1/43, Siyarul A’lam Nubala’: 3/189, Ats-Tsiqat: 3/51.
i. Guru dan Muridnya
• Guru-gurunya: Beliau meriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, Abu Bakr Ash_Shiddiq, Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Abu Ubaidah, Thalhah bin Ubaidillah, Mu’adz bin Jabal, Ammar bin Yasar, Khalid bin Walid, Abu Bardar bin Niyar, Abu Qatadah, Abu Hurairah, Abu Sa’id Abdullah bin Anis, Abu Hamid As_Sa’adi. Ummu Syarik, Ummu Malik, Ummu Mabsyir, Ummu Kultsum binti Abu Bakr Ash_Shiddiq.
• Murid-muridnya: Meriwayatkan darinya anak-anaknya, Abdurrahman, ‘Uqail, Muhammad, Sa’id bin Musayyib, Mahmud bin Labid, Abu Zubair, Amru bin Dinar, Abu Ja’far al_Baqir, Ibnu ‘Ammah, Muhammad bin Amru bin Hasan, Muhammad bin al_Mankid, Wahab bin Kaisan, Sa’id bin Mina’, Salim bin Abi Sa’d, Abu Abdurrahman al_Habli, Ubaidillah bin Maqsam, ‘Atha’ bin Abi Rabbah, Urwah bin Zubair, Mujahid dan masih banyak lagi murid-muridnya.
J. Penilaian ulama: Beliau adalah salah satu dari sahabat yang masyhur dan utama dikalangan sahabat, bahkan termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan sebagaimana telah disepakati ulama –terlepas dari pro dan kontra- bahwa seluruh sahabat itu adalah tsiqah dan ‘adil. Maka, para ulama hadits memandang bahwa tingkatan sahabat –disini termasuk Jabir bin Abdillah- adalah tingkatan yang paling tinggi dan tidak dikeragui keadilannya-sekali lagi terlepas dari pro dan kontra-. Dan Jabir adalah kibar sahabat yang sangat terkenal keilmuan dan ketqwaannya.

C. Meneliti kemungkinan syudzudz dan illah
Dalam banyak riwayat, hanya Abdullah bin Jabir sendiri yang meriwayatkan hadis yang menjelaskan tentang al-‘araayaa, bahkan bisa dikatakan dominan hadis ini adalah riwayat beliau. Namun, peneliti menemukan satu riwayat yang berasal dari Ibnu Umar, Ibnu ‘Abbas dan bersamaan dengan Jabir yang meriwayatkan hadis yang terkait dengan al-‘araayaa. Kemudian para mukharrij hadis lain selain Abu Dawud juga meriwayatkan dari Jabir. Sehingga hadis ini terdapat banyak sekali riwayat, sehingga secara kuantitas memiliki derajat ahad, dan secara kualitas memiliki nilai shahih, karena perawi-perawinya yang terpercaya dan ketersambungan sanadnya. Namun, ada satu jalur melalu mukharrij an-Nasai, hadis no.3823, disana terdapat rawi yang mubham. Namun, riwayat tersebut tidak menyebabkan hadis yang lainnya menjadi lemah, karena ia hanya sebagai syahid penguat hadis riwayat Abu Dawud yang sedang diteliti.
Dalam berbagai riwayat memang terdapat Sufyan bin ‘Uyainah, yangmana banyak kritikus yang mengatakan bahwa beliau kadang mudallas hadits. Namun, dalam kasus hadis ini, tidak mungkin ia memudallaskan hadis, karena ada banyak perawi yang tsiqah yang telah meriwayatkan hadits darinya, maka hal itu sudah cukup untuk dikatakan ghairu syadz wa ghairu ‘illah.
Setelah melakukan i’tibar, antara matan yang ditakhrij oleh Imam Bukhari, Muslim, Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Turmidzi tidak ada perbedaan yang signifikan, hanya berbeda dalam penggunaan kata حتى يبدو صلاحه, تُشَقِّحَ, حَتَّى يَطِيبَ, حَتَّى تُطْعِمَ, حَتَّى تُشْقِهَ, قَبْلَ أَنْ يُطْعَمَ dan ada beberapa tambahan-tambahan dalam beberapa riwayat, yang sama sekali tidak mengurangi makna yang dimaksud, bahkan tambahan dan perbedaan tersebut saling melengkapi dan saling menafsirkan satu sama lainnya, sehingga maknya lebih konfrehensif dan mudah dipahami.
Dari paparan dan alasan-alasan diatas, maka bisa dikatakan bahwa kemungkinan syadz dan illah sangat kecil sekali, bahkan sudah cukup dianggap ghairu syadz wa illah, karena periwayatnya berkualitas tsiqah.

D. Kesimpulan
Dilihat dari segi jumlah periwayatannya, hadits ini tergolong hadits ahad. Karena diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, Turmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad lewat Jabir. Sedangkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu ‘Umar hanya diriwayatkan oleh Ahmad . Namun, secara makna hadis ini sudah masyhur dikalangan ahli hadits dan ahli fikih.
Dari segi persambungan sanadnya, menurut informasi riwayat hidup rijal antara satu perawi dengan yang lainnya saling bertemu. Hal ini dapat dilihat dari masing-masing tahun wafatnya, dan juga mereka memiliki hubungan guru dan murid, sehingga hal itu memastikan bahwa mereka bertemu. Sedangkan dilihat dari sighat tahammul wal adaa’nya, mereka memakain حدثنا عن سمعت, sehingga kemungkina pada riwayat Abu Dawud ini riwayatnya iittishal, sehingga haditsnya bisa diterima-terlepas dari hadisnya ma’mul bih atau ghairu ma’mul bih-, karena perawinya tsiqah.
Berdasarlan argumentasi-argumentasi diatas, ditinjau dari segi persambungan sanadnya, kualitas pribadi periwayatnya, dan terhindarnya dari syudzudz dan illah, maka hadis ini termasuk hadis ahad yang berkualitas shahih. Wallahu’lam bi ash-shawwab.
























DAFTAR PUSTAKA

Al-Maktabah Asy-Syamilah
Al_Asqalani, Ibnu Hajar, Tahzib al_Tahdzib, Beirut: Dar al_Fikr, t.t.
____________________, Al_Ishaabah fi Tamyiz ash_Shahaabah: Dar Kutub Ilmiah, Beirut, 1995.
Al_Mizzi, Abu al_Hajjaj Yusuf bin al_Zaki, Tahzib al_Kamal, Beirut: Dar al_Fikr, 1994.
Al-Bandaari, ‘Abdul Ghaffar Sulaiman dan Said Kurdi Hasan Mausuu’ah Rijal al-Kutub at-Tis’ah.. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah. Beirut. 1993. Jilid. 1.
Al-Dzahabi, Al-Kasif fi Ma’rifati man Lahu Riwaayah fil Kutub As-Sittah: Beirut, Dar al-Kutub al_Hadiitsah, 1978, Jilid II, hlm. 210-211
_________, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad, Siyar al-A’lam al-Nubala, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1990
Al-Bukhari, Imam Kitab Tarikh al_Kabir : Beirut, Dar Kutub Ilmiyah, 1995. jilid 2.
CD Rom, Mausu’ah al_Hadits al_Syarif, 1999.

Daud, Abu, Sunan Abu Daud, pentahqiq, Sidqi Muhammad Jamil, Beirut: Dar al-Fikr, 1994.
Hibban, Ibnu, Kitab bats-Tsiqat li Ibni Hibban: al_Dar as_Salafiyah, India, 1988, cet. 2.
Mubarak, Faishal Abdul Aziz Ali, Nailul Authar, terj.: Bina Ilmu, Jakarta. Jilid. 4. tt.
Wensinck, Al_Mu’jam al_Mufahras li Al_Faazhil hadits an_Nabawi ‘anil kutub as_Sittah wa ‘an Musnad ad_Darimi, wa Muwaththa’ Malik, wa Musnad Ahmad bin Hanbal:, terj. Muhammad Fu’ad Abdul Baqi: Brill, Leiden, 1962.