I try to do the best for me by keeping spirit, doing the best, preparing everything I need it..Etc...
Did you know? Right away, there are many schedules what I must do its
I don't know, What can I be successful someday....But, I belief that I can grab my dream, I can make dreams come true.....
Didn't you?
Guys? Youa are a pilot of your aeroplane, and a driver of your executive car, You can do what do wanna do and can be what do you wanna be....
Sorry, I gotta go..
See u
Jumat, 31 Oktober 2008
Eh...Incredible
I'm really not sure what I passed this time. I'm so busy with many activities. Start from the course at two universities. Then the school should be extra, and take language courses, participate in religious instruction. Huuuh tired ... .. not okay again now thanks again, preparing the English language and making a scientific paper. a lot of tasks and activities that make me tired but quite challenging ..
Praying me
Praying me
Kamis, 23 Oktober 2008
Jogja Panas..
Kok Jogja panas sekali yach?
Tidak sefresh dan SEsejuk dulu lagi....
Kayaknya global warming nih kali yach...
Coba bayangin 10, 20 taon yang akan datang?
Gimana ya generasi masa depan..?
Mereka harus pakai pakaian besi untuk melindungi kulit mereka dari panas matahari yang meyengat? Seperti dalam film The Last Mimzy? (Bukan Promosi Film)
Apa yang harus kita lakukan untuk generasi yang akan datang?
Apakah kita hanya meninggalkan tugas?
Atau kita yang akan melakukan tugas ini dan generasi yang akan datang hanya menyempurnakan atau kalau bisa hanya menikmati dan menjaga saja?
Did you ever think about your next generation?
Okay....Thats all
SEE YOU IN THE PERFECT CONDITION
Tidak sefresh dan SEsejuk dulu lagi....
Kayaknya global warming nih kali yach...
Coba bayangin 10, 20 taon yang akan datang?
Gimana ya generasi masa depan..?
Mereka harus pakai pakaian besi untuk melindungi kulit mereka dari panas matahari yang meyengat? Seperti dalam film The Last Mimzy? (Bukan Promosi Film)
Apa yang harus kita lakukan untuk generasi yang akan datang?
Apakah kita hanya meninggalkan tugas?
Atau kita yang akan melakukan tugas ini dan generasi yang akan datang hanya menyempurnakan atau kalau bisa hanya menikmati dan menjaga saja?
Did you ever think about your next generation?
Okay....Thats all
SEE YOU IN THE PERFECT CONDITION
Jumat, 03 Oktober 2008
Warna-Warni Kehidupan
By: Yuldi Hendry
Setelah beberapa saat di Jogja, pulang dari Indramayu dan Cirebon. Saya menuruti kata hati untuk membersihkan pakaian yang sudah perlu untuk dibersihkan, dirapikan dan dijaga. Alhamdulillah, disaat mencuci sepatu yang berwarna putih, disaat itulah hati dan pikiran saya menerawang ke dunia realitas yang ada disekitar dan di dalam kehidupan saya, kamu, dia, mereka dan kita semua.
Sendal yang saya cuci pada dasarnya berwarna putih bersih dan kelihatan indah. Namun, saat mencuci sandal tersebut, ia begitu kotor, menjadi coklat, berdebu dan berpasir. Setelah beberapa hari saya melakukan “intellectual journey” ke kota Mangga dan kota Nasi Lengko tersebut. Disadari, bahwa sandal itu saya pakai ke berbagai tempat, ke pantai, pergi wudhu’, jalan-jalan, penelitian, main ke Pesantren Az-Zaitun yang cukup megah, bersilaturrahmi, belanja dan seterusnya. Tidak terasa, sandal yang berwarna putih bersih itu berubah menjadi coklat dan gelap. Subhanllah, saya lupa membersihkan dan merawatnya.
Inti permasalahannya bukanlah sandal tersebut. Tetapi saya lebih memperhatikan warna, perubahan, toleransi, penjagaan, dan kesadaran diri. Lima kata kunci ini semakin membuat saya semakin asyik dalam mencuci sandal tersebut. Berangkat dari kata kunci awal, “warna”. Disinilah saya melihat bahwa, ketika ia memiliki original color putih, maka ia akan menjadi tidak indah lagi kalau dia berubah menjadi coklat dan hitam. Maksudnya disini, ada dua kategori yang perlu diperhatikan. Pertama, warna yang original, kedua warna perubahan.
Warna original adalah bentuk asli atau asal. Ia adalah warna yang memang dibentuk atau di-create seperti apa adanya. Ini merupakan warna yang tidak mungkin dirubah lagi, karena ia stagnan dan tidak bisa berubah. Maka, hal yang perlu kita lakukan dalam menghadapi hal ini adalah menerimanya apa adanya, tanpa merendahkan, diskriminasi apalagi penindasan. Warna disini tidak hanya warna sandal, dan yang penulis maksud juga bukan warna sandal, karena warna sandal bisa saja dirubah-rubah dengan kreatifitas cerdas sehingga tampak lebih baik dan menarik. Namun, yang dimaksud disini adalah warna kulit, ras, suku bangsa, bahasa, budaya dan seterusnya. (Terlepas dari perbendaan pendapat yang menyatakan bahwa budaya selalu berubah berdasarkan perubahan sosio-masyarakatnya dan hal itu memang benar adanya). Ketika kita menemukan warna-warna diatas, maka kita tidak bisa merubahnya ke dalam satu warna dan corak. Karena setiap individu memiliki hak otonomi dengan warna-warnanya sendiri. Tidak perlu membeda-bedakan warna kulit seseorang, apakah ia dari kalangan kulit hitam, putih, kuning, sawo matang dan seterusnya. Tidak perlu merendahkan orang-orang yang berada dalam ras yang “kelihatannya” langka kita lihat, tidak boleh menindas dan memandang rendah kelompok suatu suku bangsa, tidak perlu menghina dan menganggap tidak relevan dengan bahasa-bahasa yang berbeda dengan kita, tidak sopan dan tidak manusiawi kalau kita ingin menghancurkan dan mengganti budaya suatu komunitas dengan budaya yang kita inginkan. Sikap yang perlu ditanamkan disini adalah bagaimana kita menghargai, menjaga, dan bersikap toleransi dan mengakui adanya eksistensi setiap warna-warna yang ada.
Warna perubahan, merupakan warna yang merubah suatu hal menjadi sesuatu yang baru dan berbeda dengan warna sebelumnya. Contoh simple nya sebagaimana sendat tadi. Warna aslinya adalah putih, tetapi terkontaminasi dengan warna tanah, pasir dan bercampur baur sehingga menjadi coklat kehitam-hitaman. Dan warna ini membuatnya semakin buruk dan kehilangan jati dirinya. Warna perubahan ini memiliki dampak tertentu sesuai dengan konteks dan situasi yang melingkupinya. Ia bisa saja berdampak positif dan kadang berdampak negative. Misalkan saja perubahan yang terjadi pada seseorang yang memilki suatu budaya tertentu, namun karena lingkungan dan warna lain yang ia salami sehingga ia menjadi warna yang berbeda dan melupakan dan bahkan menanggalkan baju budayannya sendiri. Hal ini tentu merupakan hal negative yang tidak perlu untuk dilakukan, bagaimanapun kita memandang baik suatu budaya, kita tidak boleh meninggalkan dan menghilangkan jati diri kita. Bahkan, disuatu waktu kita perlu untuk memahami, mempelajari dan mengadopsi budaya orang lain, tanpa menghilangkan jati diri kita sendiri. Karena proses adopsi tidak berarti mengambilnya secara keseluruhan, tetapi butuh adanya proses internalisasi dengan nilai-nilai kita sendiri. Dan begitu juga dengan hal-hal lainnya.
Perubahan, perlukah? Tidak perlu jawaban, karena orang-orang yang berakal dan berfikir mesti telah memiliki jawaban di dalam dirinya sendiri. Kalau tidak tau jawabannya, lihatlah di beberapa papan iklan rokok (Ini bukan iklan lho….kita juga ga dibayar kok…heee…heee) di jalan-jalan raya maka kita akan menemukan tulisan PERUBAHAN ITU PERLU. That’s right. Perubahan itu tidak hanya perlu, tetapi perubahan itu adalah suatu keharusan. Karena kehidupan itu sendiri adalah perubahan. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Perubahan yang diinginkan disini adalah perubahan yang positif, perubahan yang bermamfaat dan menjadikan sesuatu itu lebih baik. Bukan malah perubahan yang terjadi pada sandal saya yang kotor dan tidak menarik lagi. Tapi satu hal yang perlu dicatat, bahwa perubahan yang negative disatu saat kita juga butuhkan supaya kita bangkit lagi menuju suatu perubahan yang lebih baik dan terbaik. Karena tidak perlu ada penyesalan dan kekecewaan apabila kita mengalami erubahan yang negative, tetapi yang terenting adalah bagaimana kita mengubah arah negative itu dan merubahnya menjadi pancaran yang positif. Anyway, kita tidak akan pernah berubah kalau kita tidak mau merubah diri kita sendiri.
Toleransi merupakan sebuah sikap yang sangat penting dalam kehidupan sosio-budaya yang berwarna-warni. Karena toleransi akan menjadi kata kunci dalam keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia. Toleransi tidak hanya ada dalam teks-teks keagamaan, buku-buku ilmiah dan intelektual, tetapi harus ada dalam tatanan praktis sehingga setiap individu merasakan dirinya dihargai dan ia memiliki hak untuk dirinya sendiri, tanpa menghilangkan makna adanya sesuatu di luar dirinya sendiri. Toleransi adalah penting, tetapi bersikap toleran terhadap siapapun adalah lebih penting.
Warna-warna yang ada disekitar dan di diri kita harus kita jaga dan harus kita sadari bahwa itu adalah milik kita, sehingga perlunya kesadaran diri untuk bersikap toleran, memiliki, menjaga, menghormati setiap warna-warni kehidupan. Sehingga perlunya suatu kata yang cukup kontradiktif yaitu “kebebasan”. Suara kebeasan yang dimaksud disini adalah “suara tengah” / middle voice diantara dua titik ekstrim yang beroposisi biner antara benar dan salah, baik dan buruk, dan seterusya. Kebebasan yang dimaksud disini adalah kesadaran akan adanya lebih dari satu warna kehidupan.
Setelah beberapa saat di Jogja, pulang dari Indramayu dan Cirebon. Saya menuruti kata hati untuk membersihkan pakaian yang sudah perlu untuk dibersihkan, dirapikan dan dijaga. Alhamdulillah, disaat mencuci sepatu yang berwarna putih, disaat itulah hati dan pikiran saya menerawang ke dunia realitas yang ada disekitar dan di dalam kehidupan saya, kamu, dia, mereka dan kita semua.
Sendal yang saya cuci pada dasarnya berwarna putih bersih dan kelihatan indah. Namun, saat mencuci sandal tersebut, ia begitu kotor, menjadi coklat, berdebu dan berpasir. Setelah beberapa hari saya melakukan “intellectual journey” ke kota Mangga dan kota Nasi Lengko tersebut. Disadari, bahwa sandal itu saya pakai ke berbagai tempat, ke pantai, pergi wudhu’, jalan-jalan, penelitian, main ke Pesantren Az-Zaitun yang cukup megah, bersilaturrahmi, belanja dan seterusnya. Tidak terasa, sandal yang berwarna putih bersih itu berubah menjadi coklat dan gelap. Subhanllah, saya lupa membersihkan dan merawatnya.
Inti permasalahannya bukanlah sandal tersebut. Tetapi saya lebih memperhatikan warna, perubahan, toleransi, penjagaan, dan kesadaran diri. Lima kata kunci ini semakin membuat saya semakin asyik dalam mencuci sandal tersebut. Berangkat dari kata kunci awal, “warna”. Disinilah saya melihat bahwa, ketika ia memiliki original color putih, maka ia akan menjadi tidak indah lagi kalau dia berubah menjadi coklat dan hitam. Maksudnya disini, ada dua kategori yang perlu diperhatikan. Pertama, warna yang original, kedua warna perubahan.
Warna original adalah bentuk asli atau asal. Ia adalah warna yang memang dibentuk atau di-create seperti apa adanya. Ini merupakan warna yang tidak mungkin dirubah lagi, karena ia stagnan dan tidak bisa berubah. Maka, hal yang perlu kita lakukan dalam menghadapi hal ini adalah menerimanya apa adanya, tanpa merendahkan, diskriminasi apalagi penindasan. Warna disini tidak hanya warna sandal, dan yang penulis maksud juga bukan warna sandal, karena warna sandal bisa saja dirubah-rubah dengan kreatifitas cerdas sehingga tampak lebih baik dan menarik. Namun, yang dimaksud disini adalah warna kulit, ras, suku bangsa, bahasa, budaya dan seterusnya. (Terlepas dari perbendaan pendapat yang menyatakan bahwa budaya selalu berubah berdasarkan perubahan sosio-masyarakatnya dan hal itu memang benar adanya). Ketika kita menemukan warna-warna diatas, maka kita tidak bisa merubahnya ke dalam satu warna dan corak. Karena setiap individu memiliki hak otonomi dengan warna-warnanya sendiri. Tidak perlu membeda-bedakan warna kulit seseorang, apakah ia dari kalangan kulit hitam, putih, kuning, sawo matang dan seterusnya. Tidak perlu merendahkan orang-orang yang berada dalam ras yang “kelihatannya” langka kita lihat, tidak boleh menindas dan memandang rendah kelompok suatu suku bangsa, tidak perlu menghina dan menganggap tidak relevan dengan bahasa-bahasa yang berbeda dengan kita, tidak sopan dan tidak manusiawi kalau kita ingin menghancurkan dan mengganti budaya suatu komunitas dengan budaya yang kita inginkan. Sikap yang perlu ditanamkan disini adalah bagaimana kita menghargai, menjaga, dan bersikap toleransi dan mengakui adanya eksistensi setiap warna-warna yang ada.
Warna perubahan, merupakan warna yang merubah suatu hal menjadi sesuatu yang baru dan berbeda dengan warna sebelumnya. Contoh simple nya sebagaimana sendat tadi. Warna aslinya adalah putih, tetapi terkontaminasi dengan warna tanah, pasir dan bercampur baur sehingga menjadi coklat kehitam-hitaman. Dan warna ini membuatnya semakin buruk dan kehilangan jati dirinya. Warna perubahan ini memiliki dampak tertentu sesuai dengan konteks dan situasi yang melingkupinya. Ia bisa saja berdampak positif dan kadang berdampak negative. Misalkan saja perubahan yang terjadi pada seseorang yang memilki suatu budaya tertentu, namun karena lingkungan dan warna lain yang ia salami sehingga ia menjadi warna yang berbeda dan melupakan dan bahkan menanggalkan baju budayannya sendiri. Hal ini tentu merupakan hal negative yang tidak perlu untuk dilakukan, bagaimanapun kita memandang baik suatu budaya, kita tidak boleh meninggalkan dan menghilangkan jati diri kita. Bahkan, disuatu waktu kita perlu untuk memahami, mempelajari dan mengadopsi budaya orang lain, tanpa menghilangkan jati diri kita sendiri. Karena proses adopsi tidak berarti mengambilnya secara keseluruhan, tetapi butuh adanya proses internalisasi dengan nilai-nilai kita sendiri. Dan begitu juga dengan hal-hal lainnya.
Perubahan, perlukah? Tidak perlu jawaban, karena orang-orang yang berakal dan berfikir mesti telah memiliki jawaban di dalam dirinya sendiri. Kalau tidak tau jawabannya, lihatlah di beberapa papan iklan rokok (Ini bukan iklan lho….kita juga ga dibayar kok…heee…heee) di jalan-jalan raya maka kita akan menemukan tulisan PERUBAHAN ITU PERLU. That’s right. Perubahan itu tidak hanya perlu, tetapi perubahan itu adalah suatu keharusan. Karena kehidupan itu sendiri adalah perubahan. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Perubahan yang diinginkan disini adalah perubahan yang positif, perubahan yang bermamfaat dan menjadikan sesuatu itu lebih baik. Bukan malah perubahan yang terjadi pada sandal saya yang kotor dan tidak menarik lagi. Tapi satu hal yang perlu dicatat, bahwa perubahan yang negative disatu saat kita juga butuhkan supaya kita bangkit lagi menuju suatu perubahan yang lebih baik dan terbaik. Karena tidak perlu ada penyesalan dan kekecewaan apabila kita mengalami erubahan yang negative, tetapi yang terenting adalah bagaimana kita mengubah arah negative itu dan merubahnya menjadi pancaran yang positif. Anyway, kita tidak akan pernah berubah kalau kita tidak mau merubah diri kita sendiri.
Toleransi merupakan sebuah sikap yang sangat penting dalam kehidupan sosio-budaya yang berwarna-warni. Karena toleransi akan menjadi kata kunci dalam keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia. Toleransi tidak hanya ada dalam teks-teks keagamaan, buku-buku ilmiah dan intelektual, tetapi harus ada dalam tatanan praktis sehingga setiap individu merasakan dirinya dihargai dan ia memiliki hak untuk dirinya sendiri, tanpa menghilangkan makna adanya sesuatu di luar dirinya sendiri. Toleransi adalah penting, tetapi bersikap toleran terhadap siapapun adalah lebih penting.
Warna-warna yang ada disekitar dan di diri kita harus kita jaga dan harus kita sadari bahwa itu adalah milik kita, sehingga perlunya kesadaran diri untuk bersikap toleran, memiliki, menjaga, menghormati setiap warna-warni kehidupan. Sehingga perlunya suatu kata yang cukup kontradiktif yaitu “kebebasan”. Suara kebeasan yang dimaksud disini adalah “suara tengah” / middle voice diantara dua titik ekstrim yang beroposisi biner antara benar dan salah, baik dan buruk, dan seterusya. Kebebasan yang dimaksud disini adalah kesadaran akan adanya lebih dari satu warna kehidupan.
What am I supposed to do?
By: Yuldi Hendry
Entahlah…apakah persaudaraan itu sesuatu yang bisa diibaratkan dengan sebuah gelas yang terbuat dari mutiara yang berdiri tegak di atas aliran air yang deras…ya itu adalah sesuatu yang mustahil dan ini tidak mungkin. Namun, persaudaraan memang begitu langka di saat fasaduz az-zaman ini. Mungkin ia ada di lorong-lorong kehidupan yang sempit dan begitu sulit untuk dideteksi. Betapa indahnya persaudaraan yang dicontohkan oleh Rasulullah bersama sahabat-sahabat yang dicintainya? Betapa manisnya persaudaraan yang digambarkan para tabi’in dan kekasih-kekasihnya? Betapa harumnya wewangian persaudaraan yang digambarkan dan dipraktekkan oleh orang-orang ‘alim dan sholeh di zaman dahulu? Apakah saya hanya bermimpi dan beromatisisme ria saja? Apakah itu hanya sekedar cerita dan sejarah saja? Atau apakah ia masih ada saat sekarang ini? Atau berusaha menuju titik tersebut? Ataukah ia hanya suatu ilusi yang begitu jauh di atas langit sedangkan kita berada di bumi? Ataukah…ataukah….beribu pertanyaan muncul dalam titik sadar otakku.
Perhatikanlah di sekitarku, disekitarmu, disekitar dia, disekitar mereka dan disekitar kita semua. Persaudaraan begitu murah dan murahan. Ia tidak lagi berdasarkan atas cinta, kasih sayang, kemanusiaan, fitrah dan Tuhan. Tetapi lebih berorientasi pada suatu titik materi. Ya sebuah orientasi materialis, tidak salah teori marxisme tetapi tidak juga bisa dibenarkan secara mutlak. Lihatlah persaudaraan, pertemanan, persahabatan sekarang ini lebih banyak berujung pada harta, kedudukan, kecantikan/ketampanan, ras dan suku, kekuasaan dan hal-hal yang berbau material lainnya. Ia hanya bertujuan pada sesuatu yang pasti, yang tampak dan wujud yang nyata, ia tidak lagi melihat suatu nilai abstrak dan substansial yang paling penting dan utama. Entahlah….mungkin hal ini juga dipengaruhi oleh kuatnya positifisme dalam kehidupan modern, atau karena berhasilnya para kapitalis dalam merubah framework makhluk yang bernama manusia, ataukah..ataukah….begitu banyak kemungkinan. Satu kemungkinan yang jelas dan tidak bisa dipungkiri, karena rusaknya zaman, karena jauhnya manusia dari nilai-nilai substansial agama, jauhnya manusia dari nilai moral-spritual. Lets back to religion values.
Dalam ranah soaial kehidupan manusia saat ini begitu kompleksnya permasalahan. Mulai dari permasalahan kemanusiaan itu sendiri, moral, kemiskinan, kelaparan, penindasan, marginalisasi, kebodohan, korupsi/mencuri, idho’atul mal/hedonisme, materialistic, futuristic, fundamentalisme, sekulerisme dan liberalisme dan seabrek kata-kata yang senada. Huuuuhhh…..ratusan….eh ribuan…..Semuanya membutuhkan prosese perbaikan infrastruktur yang membutuhkan waktu yang cukup panjang dan butuh perjuangan regenerasi. Sebuah tawaran yang cukup sederhana tetapi pasti untuk menghadapi semua ini adalah “MARILAH KITA BERSAMA-SAMA MEMPELAJARI AGAMA KITA SECARA KONFREHENSIF DAN MENGAPLIKASIKAN NILAI-NILAI TERSEBUT DI DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI, SEHINGGA IA AKAN MENJADI RAHMAT DAN RAMAH BAGI SEMESTA ALAM”.
Entahlah…apakah persaudaraan itu sesuatu yang bisa diibaratkan dengan sebuah gelas yang terbuat dari mutiara yang berdiri tegak di atas aliran air yang deras…ya itu adalah sesuatu yang mustahil dan ini tidak mungkin. Namun, persaudaraan memang begitu langka di saat fasaduz az-zaman ini. Mungkin ia ada di lorong-lorong kehidupan yang sempit dan begitu sulit untuk dideteksi. Betapa indahnya persaudaraan yang dicontohkan oleh Rasulullah bersama sahabat-sahabat yang dicintainya? Betapa manisnya persaudaraan yang digambarkan para tabi’in dan kekasih-kekasihnya? Betapa harumnya wewangian persaudaraan yang digambarkan dan dipraktekkan oleh orang-orang ‘alim dan sholeh di zaman dahulu? Apakah saya hanya bermimpi dan beromatisisme ria saja? Apakah itu hanya sekedar cerita dan sejarah saja? Atau apakah ia masih ada saat sekarang ini? Atau berusaha menuju titik tersebut? Ataukah ia hanya suatu ilusi yang begitu jauh di atas langit sedangkan kita berada di bumi? Ataukah…ataukah….beribu pertanyaan muncul dalam titik sadar otakku.
Perhatikanlah di sekitarku, disekitarmu, disekitar dia, disekitar mereka dan disekitar kita semua. Persaudaraan begitu murah dan murahan. Ia tidak lagi berdasarkan atas cinta, kasih sayang, kemanusiaan, fitrah dan Tuhan. Tetapi lebih berorientasi pada suatu titik materi. Ya sebuah orientasi materialis, tidak salah teori marxisme tetapi tidak juga bisa dibenarkan secara mutlak. Lihatlah persaudaraan, pertemanan, persahabatan sekarang ini lebih banyak berujung pada harta, kedudukan, kecantikan/ketampanan, ras dan suku, kekuasaan dan hal-hal yang berbau material lainnya. Ia hanya bertujuan pada sesuatu yang pasti, yang tampak dan wujud yang nyata, ia tidak lagi melihat suatu nilai abstrak dan substansial yang paling penting dan utama. Entahlah….mungkin hal ini juga dipengaruhi oleh kuatnya positifisme dalam kehidupan modern, atau karena berhasilnya para kapitalis dalam merubah framework makhluk yang bernama manusia, ataukah..ataukah….begitu banyak kemungkinan. Satu kemungkinan yang jelas dan tidak bisa dipungkiri, karena rusaknya zaman, karena jauhnya manusia dari nilai-nilai substansial agama, jauhnya manusia dari nilai moral-spritual. Lets back to religion values.
Dalam ranah soaial kehidupan manusia saat ini begitu kompleksnya permasalahan. Mulai dari permasalahan kemanusiaan itu sendiri, moral, kemiskinan, kelaparan, penindasan, marginalisasi, kebodohan, korupsi/mencuri, idho’atul mal/hedonisme, materialistic, futuristic, fundamentalisme, sekulerisme dan liberalisme dan seabrek kata-kata yang senada. Huuuuhhh…..ratusan….eh ribuan…..Semuanya membutuhkan prosese perbaikan infrastruktur yang membutuhkan waktu yang cukup panjang dan butuh perjuangan regenerasi. Sebuah tawaran yang cukup sederhana tetapi pasti untuk menghadapi semua ini adalah “MARILAH KITA BERSAMA-SAMA MEMPELAJARI AGAMA KITA SECARA KONFREHENSIF DAN MENGAPLIKASIKAN NILAI-NILAI TERSEBUT DI DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI, SEHINGGA IA AKAN MENJADI RAHMAT DAN RAMAH BAGI SEMESTA ALAM”.
Stop Global Warming
By: Yuldi Hendry
Ah....beli makanan keluar yuk.....Ok deh
Beberapa menit sampai di luar rumah.....Tidaaaaaaaaaaaaaaaakkkk...
Panaaaaaaaaaaassssssss.....(Ini bukan karena sengatan api atau terbakar karena ayat-ayat al-Qur'an...emangnya gue syetan...??)
Subhanallah..panas sekali cuaca....
Teringat tiga tahun lalu waktu awal ke Jogja, ga panas-panas amat, malahan lumayan adem dan sejuk
Tapi sekarang.......panaass.......Global Warming....
STOP GLOBAL WARMING
GLOBAL WARMING IS OUR ENEMY
So.....
Hentikan segala hal yang akan menyebabkan global warming, hentikanlah pembakaran hutan dan penebangan hutan sembarangan wahai orang-orang yang tidak bertanggungjawab, jangan buang sampah sembarangan wahai orang-orang yang baik hati, tolong imbangi produksi polusi udara dengan penyegaran dan pembersihan udara wahai orang-orang yang memiliki perhatian terhadap dirinya sendiri dan anak cucunya, tolong....tolong...tolong......Jangan lah bersikap atau berbuat sesuatu yang akan merusak tatanan dan keberlangsungan kehidupan kita di dunia ini, karena anak cucu kita juga akan menikmati kehidupan ini...Dan jangan biarkan mereka nantinya tersiksa dengan pemanasan global..Huuuuhhh...huuuuhhhhhh..Saya tidak bisa bayangkan bagaimanakah 10 tahun ke depan, 20, 40, 70 tahun ke depan...Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk..
So anyway, jangan takut. Sebelum terlambat kita harus membuat good solution terhadap semua ini. Jagalah lingkungan dan alam di sekitar kita. Taukah kita bahwa teks-teks keagamaan terlalu banyak yang menganjurkan hal ini, dan banyak sekali yang berbicara tentang ontologi. Ayat-ayat ontologi begitu banyak, tapi apakah prakteknya sudah ada nih? Atau cuma sibuk dengan hal-hal yang teoritis, tap melupakan nilai-nilai praktis yang seharusnya selalu di kedepankan.....
Global warming harus segera di atasi, atau kita yang nanti ga bisa berbuat apa-apa lagi. Dari pada terlambat...mumpung nih....STOP GOLBAL WARMING dengan usaha apapun yang kita bisa, dan sikap atau perbuatan apapun yang bisa meminimalisirnya atau malah menutupnya sekalian....
Met Berjuang yach.........
Selamatkan Dunia Kita, atau Kita yang Tidak akan Terselamatkan di Dunia Kita Sendiri
Salam Perjuangan
Ah....beli makanan keluar yuk.....Ok deh
Beberapa menit sampai di luar rumah.....Tidaaaaaaaaaaaaaaaakkkk...
Panaaaaaaaaaaassssssss.....(Ini bukan karena sengatan api atau terbakar karena ayat-ayat al-Qur'an...emangnya gue syetan...??)
Subhanallah..panas sekali cuaca....
Teringat tiga tahun lalu waktu awal ke Jogja, ga panas-panas amat, malahan lumayan adem dan sejuk
Tapi sekarang.......panaass.......Global Warming....
STOP GLOBAL WARMING
GLOBAL WARMING IS OUR ENEMY
So.....
Hentikan segala hal yang akan menyebabkan global warming, hentikanlah pembakaran hutan dan penebangan hutan sembarangan wahai orang-orang yang tidak bertanggungjawab, jangan buang sampah sembarangan wahai orang-orang yang baik hati, tolong imbangi produksi polusi udara dengan penyegaran dan pembersihan udara wahai orang-orang yang memiliki perhatian terhadap dirinya sendiri dan anak cucunya, tolong....tolong...tolong......Jangan lah bersikap atau berbuat sesuatu yang akan merusak tatanan dan keberlangsungan kehidupan kita di dunia ini, karena anak cucu kita juga akan menikmati kehidupan ini...Dan jangan biarkan mereka nantinya tersiksa dengan pemanasan global..Huuuuhhh...huuuuhhhhhh..Saya tidak bisa bayangkan bagaimanakah 10 tahun ke depan, 20, 40, 70 tahun ke depan...Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk..
So anyway, jangan takut. Sebelum terlambat kita harus membuat good solution terhadap semua ini. Jagalah lingkungan dan alam di sekitar kita. Taukah kita bahwa teks-teks keagamaan terlalu banyak yang menganjurkan hal ini, dan banyak sekali yang berbicara tentang ontologi. Ayat-ayat ontologi begitu banyak, tapi apakah prakteknya sudah ada nih? Atau cuma sibuk dengan hal-hal yang teoritis, tap melupakan nilai-nilai praktis yang seharusnya selalu di kedepankan.....
Global warming harus segera di atasi, atau kita yang nanti ga bisa berbuat apa-apa lagi. Dari pada terlambat...mumpung nih....STOP GOLBAL WARMING dengan usaha apapun yang kita bisa, dan sikap atau perbuatan apapun yang bisa meminimalisirnya atau malah menutupnya sekalian....
Met Berjuang yach.........
Selamatkan Dunia Kita, atau Kita yang Tidak akan Terselamatkan di Dunia Kita Sendiri
Salam Perjuangan
Langganan:
Postingan (Atom)
