Senin, 14 April 2008

Marilah Kita Melangkah Bersama

Marilah Kita Melangkah Bersama
By: Yuldi Hendri
Tekstualis, ekstrimisme, ortodoksi, kontekstualis, liberalis, fundamentalis, konservatif, dan berderet kata-kata klaim yang sering kita baca, kita lihat, kita dengar, bahkan tanpa disadari kita sendirilah yang melayangkannya kepada orang lain, tanpa memahami dan mempertimbangkannya terlebih dahulu. Apabila kita memahami dan merenungkan klaim-klaim tersebut, berarti secara tidak langsung kita mengatakan bahwa kitalah yang paling benar dan yang harus dibenarkan. Alangkah bedanya antara kebenaran dan pembenaran.
Yang lebih perlu dipertimbangkan lagi adalah klaim-klaim tersebut selalu tertuju kepada saudara-saudara kita, teman sesama, sahabat seperjuangan, dan partner dalam merengkuh Ridha Allah. Ya, saudara seagama. Inilah yang perlu ditinjau ulang. Yang selalu menjadi objek klaim kita tidak lain dan tidak bukan adalah orang-orang yang berada disamping kita dalam bertauhid, beribadah, sujud, ruku’, puasa, sholat dan menebarkan kebaikan dan perbaikan terhadap umat. Suatu konspirasi yang perlu dikaji ulang dan ditelaah lebih jauh. Adanya pihak luar yang menginginkan runtuhnya pondasi Islam dan kaum muslimin itu sendiri. Perlu dicatat, label-label yang ditempelkan pada pihak-pihak tertentu merupakan hasi pelabelan dan klasifikasi yang dilakukan oleh orang-orang diluar kita “the others”, maka perlu untuk mempertimbangkan ulang pengklasifikasian-pengklasifikasian tersebut, tanpa harus adanya kecurigaan intelektual tapi hanya sekedar kajian ulang dan identifikasi lebih jauh. Memang benar, Allah menjamin akan senantiasa menjaga Agama-Nya, akan tetapi apakah kita bisa menjamin Islam dan kaum muslimin akan selalu eksis dan ada di bangsa yang tercinta ini? Hanya kepada Allahlah kita memohon pertolongan.
Kesibukan umat sekarang ini tidak jauh-jauh dari hal-hal yang sepele dalam keagamaan. Namun, dalam hal duniawi dan materialisme kebanyakan telah mulai tersangkut pada jaring laba-laba yang mengikat. Ya, apakah problem perdebatan dan perbedaan ini ada kaitannya dengan materialisme dan hal-hal keduniawian? Hal ini perlu lagi untuk dikaji ulang, tanpa ada rasa prasangka buruk pada sesama. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah kita sesama muslim harus selalu damai dan mendamaikan. Perhatikanlah dalam ayat-ayat al-Qur’an, bahwa Allah memerintahkan kita untuk mendamaikan saudara kita yang bermusuhan. Dan dalam ayat-ayat tersebut disebutkan bahwa yang berselisih dan bertempur adalah orang-orang mukmin. Allah tidak menyebutkannya mubtadi’in (ahli bid’ah), munafiqin (orang-orang munafik) atau slogan-slogan lainnya. Al-Qur’an mengajarkan kepada kita untuk tidak memberikan slogan-slogan buruk dan kasar kepada saudara kita sesama muslim. Entahlah, nilai-nilai berlaku sopan dan berkata yang baik begitu banyak dalam al-Qur’an dan hadis, namun aktualisasinya begitu sulit. Dan kadang, kata-kata kotor terhadap saudara-saudara sesama muslimpun dilontarkan lengkap dengan dalil-dalil pembolehan mencap seseorang, sebagai jastifikasi kebenaran sikap dan perbuatannya. Lalu, apakah di dunia ini tidak ada yang salah? Tentu ada, tapi kita hanya menilainya dalam batas kemanusiaan, tidak hitam putih, apalagi sampai rebutan surga dan neraka.
Bersikap bijaksana dan dewasa dalam beragama merupakan sesuatu yang niscaya. Sebagaimana yang terpancar dalam diri Rasulullah suri tauladan yang terbaik (uswatun hasanah). Perlu diperhatikan disini, Allah dalam al-Qur’an menyifatkan tauladan dengan al-hasanah tidak dengan kata-kata thayyibah, atau ma’ruf, bahkan sebagaimana kita ketahui al-Asma’ul Husna juga disandingkan dengan kata-kata al-hasanah. Data ini ingin menunjukkan kepada kita bahwa ketauladanan Rasulullah begitu tinggi, agung dan baik dan baiknya ketauladan itu adalah yang terbaik. Sehingga konsekwensi pragmatisnya kita sebagai umatnya, harus senantiasa mengaktualisasikan nilai-nilai spiritual, akhlak dan kecerdasan intelektual yang ditanamkan dan diajarkan oleh Rasulullah yang akan selalu menyejarah sepanjang zaman hingga yaumil akhir.
Alangkah indahnya apa yang diungkapkan oleh Sulaiman at-Taimy, sebagaimana terdapat dalam kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’, IV: 92. Ia menuturkan: “Apabila ada orang yang bertikai denganku, pasti akan kulakukan salah satu dari tiga hal: apabila ia orang yang lebih tinggi derajatnya dariku, aku kenali kedudukannya, apabila lebih rendah dariku, akan aku hilangkan kesan besarku di hadapannya, dan apabila sejajar denganku, aku akan berbuat baik kepadanya (mendahulukannya)”. Ia juga berkata: “Aku bukanlah orang yang santun, tapi orang yang berusaha untuk santun”
Maka, harapan besar saat ini adalah bagaimana kita bisa saling menghargai, bekerjasama, sama-sama bekerja dalam membangun peradaban kemanusiaan yang lebih dari hanya sekedar canggih secara keilmuan dan teknologi, tetapi juga kaya akan nilai-nilai spritualitas dan moralitas. Suatu masyarakat madani yang diidam-idamkan oleh setiap bangsa dan masyarakat dunia. Kita sebagai bangsa yang besar secara materi dan immateri harus mampu menunjukkan kepada dunia bahwa kita mampu mewujudkan cita-cita perdamaian dunia serta keadilan sosial yang bernilai spiritual dan kemanusiaan. Maka setiap pihak diharapkan mampu bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing, tanpa harus melakukan manipulasi fungsional. Karena kita harus saling mendukung, menopang, menguatkan dalam membangun dan menciptakan suasana kedamaian dan rahmat bagi alam semesta dengan suasana surgawi. Oleh karena itu, marilah kita sama-sama melangkah menuju masa depan yang lebih cerah dan berperadaban yang akan kita wariskan kepada generasi yang akan datang.

Tidak ada komentar: