Selasa, 08 April 2008

Moralitas; Diantara Harapan Dan Kenyataan

Moralitas; Diantara Harapan Dan Kenyataan
By: Yuldi Hendri
Ketika kita berjalan menelusuri lorong kehidupan yang berbudaya dan bernuansa, mungkin kita hanya bisa terdiam dan bertanya dalam hati,” Inikah etika? Moral? Akhlak? Ataukah ini adalah transformasi budaya yang tak terjaring oleh jala-jala keimanan dan kecerdasan intelektual? Ia begitu saja masuk, menembus ruang-ruang maya dan realita. Tidak ada lagi batas yang membatasi atau tembok yang menghalangi. Akses budaya dan transfer peradaban begitu dekat, sedekat anak dengan orang tua, sedekat sahabat dengan teman karibnya, sedekat jiwa dengan raga. Ya begitulah realitanya.
Moralitas ”bangsa” seakan-akan mulai tipis dan terkikis. Ia begitu rentan dengan derasan hujan dan hembusan angin. Ia begitu saja ke timur, ketika angin beranjak ke timur, ia berlari ke barat ketika angin berhembus ke barat. Ia begitu saja lapuk dan cair hanya karena rintikan dan derasan hujan. Apakah permasalahannya? Apakah ia terlalu lemah sehingga perlu dikuatkan? Ataukah ia terlalu kecil sehingga butuh pendewasaan? Ataukah ia terlalu labil sehingga perlu diarahkan?Ataukah ia tidak menyadari dirinya bisa terbang dan tinggi sehingga ia perlu disadarkan? Ataukah?...Ataukah?.....Ataukah? Terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab, tidak hanya menjawab pertanyaan, Namun yang terpenting adalah menjawab persoalan dan memberikan solusi permasalahan. Teringat akan hadits Nabi : اذا لم تستح فاصنع ماشئت : Apabila engkau tidak mempunyai rasa malu maka berbuatlah sekehendakmu. (HR. Al-Bukhari, lihat Arba’in An-Nawawi: 20). Ataukah rasa malu yang telah terkikis bahkan habis? Semoga saja tidak....
Begitulah realita yang ada.....Lihatlah, betapa kejahatan politik begitu merebak dikalangan elit politik, betapa para pedagang banyak yang menipu di pasar-pasar, para konglomerat semakin memeras orang-orang yang melarat, betapa banyak pengeksploitasi tubuh dan nafsu yang notabene adalah kejahatan kemanusiaan, perkosaan, kejahatan dan kekerasan terhadap perempuan begitu marak, pemujaan terhadap harta, nafsu dan jabatan menjadi kabut yang benar-benar gelap menaungi, perbuatan maksiat meraja lela, kemalasan menjangkiti, virus-virus kapitalisme dan materialistik telah tersebar, cinta dunia mendominasi, semangat juang kendor, perpecahan merebak dan memanas, keangkuhan bertambah parah, dosa dibanggakan, anak tidak dididik dengan benar, para da’i banyak tetapi perhatikanlah mereka, sungguh memilukan. Semoga kita semua terjaga dari semua ini...Amin
Moralitas yang diharapkan menjadi idealitas beragama dan bermasyarakat, tidak lagi sesuai dengan teori dan harapan. Ia hanya menjadi lembaran sejarah yang dilupakan, ia dibiarkan berdebu di dalam lembaran-lembaran, walaupun kadang ia dibaca dan dipelajari namun hanya sebatas teori untuk sebuah jawaban. Ia kadangkala dihapal dan diteriakkan, namun kadang begitu saja dilupakan dan tidak direalisasikan. Alangkah miris dan perih ketika berkaca diri, bercermin diri. Karena sesungguhnya realitas yang ada menggambarkan diri kita sendiri. Moralitas yang menjadi harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Maka, mulai saat ini jadilah harapan, jangan hanya berharap. Jadilah cahaya ditempat yang gelap, jadilah garam namun jangan didasar lautan. Jadilah jawaban, ya jadilah jawaban-jawaban atas setiap permasalahan.
Walau bagaimanapun, disetiap sudut negeri ini, ada jiwa-jiwa yang resah, dan berpacu untuk memperbaiki realita ini. Mereka berjuang dalam memperbaiki bangsa, memperbaiki moralitas bangsa. Mereka memulainya dengan perbaikan diri sendiri dan berusaha menyajak dan mensosialisasikan kebaikan dan perbaikan kepada orang lain dengan usaha maksimalnya. Karena jika pribadi-pribadi itu tumbuh menjadi permata, maka permata itu akan tetap menjadi permata walaupun dilemparkan ke dalam lumpur atau ke dalam kotoran sama sekali. Ia akan tetap menjadi permata yang indah, berharga dan istimewa.

Tidak ada komentar: